Header Ads

23 December 2016

SIFAT-SIFAT ALLAH (Wajib, Mustahil, Jaiz)




SIFAT-SIFAT ALLAH  (Wajib, Mustahil, Jaiz)
Makalah ini disusun guna memenuhi salah satu tugas mata kuliah:
Aqidah Akhlak di Madrasah / Sekolah
Dosen Pembimbing: Dr. Sangkot Sirait
 






Disusun Oleh:
Nama   : Putri Sari Pratiwi
NIM    : 13410023
Kelas   : C

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2014/2015
Sifat-Sifat Allah (Mustahil, Jaiz, Wajib)
            Pada materi ini akan dibahas mengenai sifat-sifat Allah dari sifat-sifat mustahil yang tidak dimiliki Allah, sifat jaiz, hingga sifat-sifat wajib Allah. Sebelum masuk pada pembahasan itu, perlu kita ketahui terlebih dahulu mengenai Allah, apa arti kata Allah?
Menurut Toshihiko Izutsu yang dikutip oleh Sangkot Sirait dalam bukunya yang berjudul “Tauhid dan Pembelajarannya”, arti kata Allah adalah kata fokus tertinggi dalam sistem al-Qur’an, yang nilai penting dan kedudukannya tidak ada yang melebihinya.
Siapakah Allah? Allah adalah asma Tuhan yang berhak disembah. Selain Allah, tidak ada Tuhan yang patut disembah. Demikianlah penegasan ajaran Islam sebagaimana yang wajib dilafalkan oleh setiap muslim, yang dikenal dalam dua kalimah syahadah,[1]
“Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah; saya bersaksi pula bahwa Muhammad adalah Rasul Allah.”
Secara global Allah itu bersifat dengan segala macam sifat-sifat kesempurnaan. Karena itulah yang sesuai dengan ke Tuhanan-Nya. Mustahil ia mempunyai sifat-sifat kekurangan. Yang mempunyai sifat kekurangan bukanlah Tuhan.[2]
Oleh para cendekiawan sifat-sifat Allah itu dibagi kepada tiga golongan yaitu:
1.      Sifat yang wajib (yang mesti ada)
2.      Sifat-sifat yang mustahil (yang tidak mungkin ada)
3.      Sifat yang jaiz (yang boleh ada)[3]
Kemudian sifat-sifat wajib dan mustahil tersebut oleh Abu Mansur Al Maturidi dibagi lagi kepada:
1.      Sifat nafsiyah yaitu sifat diri
2.      Sifat salbiyah yaitu sifat yang meniadakan
3.      Sifat ma’ani yaitu sifat yang mempunyai makna yang menetapkan (melekat) pada Zat-Nya.
4.      Sifat ma’nawiyah yaitu sifat yang merupakan kelaziman ma’ani.[4]
Tetapi Abu Hasan Al Asy’ari tidak menyetujui adanya kelompok yang keempat (sifat ma’nawiyah).
Adapun perincian sifat-sifat wajib, mustahil dan jaiz tersebut adalah sebagai berikut:
A.    Sifat-Sifat Wajib
Kata Wājib berasal dari bahasa Arab dengan kata dasar dalam bentuk verb/kata kerja: wájaba (وَجَبَ) yang kemudian menjadi Wājib (بجاو) yang bermakna (الأهَمِّيَّه بالِغ): hal yg sangat perlu dilakukan atau penting, kewajiban.
Bentuk jamak (plural) dari kata Wājib (واجب) adalah wajibāt (واجبات) atau wajā’ib (وجائب) yg berarti kewajiban-kewajiban.[5]

1. Sifat Nafsiyah
Sifat nafsiyah ini hanyalah satu saja yaitu: wujud = ada.
Adanya Allah itu adalah karena zat-Nya sendiri. Bukan karena diadakan oleh sebab-sebab lain dari luar zat-Nya itu.
2.      Sifat Salbiyah
Adapun yang termasuk dalam golongan sifat-sifat salbiah (salbiah: yang menarik atau meniadakan  dari Allah Ta’ala akan sifat-sifat yang tidak sesuai, tidak layak, dan tidak cocok dengan kesempurnaan Dzatnya.)[6], yaitu:
a.       Allah Ta’ala itu bersifat Awwal (Qidam) dan Akhir (Baqa)
Allah SWT adalah Maha Awwal yakni Maha Dahulu. Arti dari kemaha-awwalannya itu ialah bahwa Allah SWT adalah tidak ada permulaan bagi wujudnya. Jadi wujud atau adanya Allah SWT itu tidak pernah didahului oleh ketiadaan sebelumnya.
Allah Ta’ala adalah Maha Akhir yakni Maha Belakang. Arti dari kemaha-belakangannya itu ialah bahwa Allah SWT adalah tidak ada akhir atau penghabisannya bagi wujudNya. Allah adalah Maha Kekal dan tidak ada nihayah atau puncak keakhirannya.
Oleh sebab itu, maka Allah Ta’ala itu adalah Maha Azali yakni sudah ada sejak zaman azali yaitu zaman sebelum adanya sesuatu apapun selain dari Dia sendiri, juga Dia adalah Maha Abadi yakni kekal untuk selama-lamanya. Allah Ta’ala tidak pernah didahului oleh ketiadaan sebelumnya dan tidak pernah dihinggapi oleh kerusakan atau kebinasaan, sebab Allah Ta’ala itu memang wajibul wujud yakni wajib adaNya.[7]
Dalam hal ini Allah Ta’ala berfirman dalam QS. Hadid: 03, yang artinya:
“Dia (Allah) adalah Maha Pertama, Maha Terakhir, Maha Terang dan Maha Tersembunyi dan Dia adalah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Maha Pertama maksudnya yang terdahulu sekali wujudnya bila dibandingkan dengan segala yang maujud ini tanpa didahului oleh ketiadaan.
Maha Terakhir maksudnya kekal selama-lamanya setelah rusaknya segala sesuatu yang maujud ini.
Maha Terang maksudnya bahwa dengan bekas-bekas ciptaanNya merupakan bukti yang terang yang menunjukkan tentang adanya Allah Ta’ala itu.
Maha Tersembunyi maksudnya bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat yang tidak dapat dicapai oleh pancaindera dan tidak dapat diliputi oleh akal fikiran.[8]
Selain ayat di atas, Allah SWT juga berfirman dalam QS. Qashash: 88, yang artinya:
“Segala sesuatu itu pasti rusak, melainkan DzatNya Allah.”
Di dalam ayat lain, yakni QS. Rahman: 26-27 Allah berfirman:
            “Segala yang ada di bumi itu akan musnah. Dan Dzat Tuhanmu akan tetap kekal selama-lamanya, yaitu Tuhan yang Maha Agung dan mulia.”
            Bukhari dan Baihaqi meriwayatkan dari ‘Imran bin Hushain, dia berkata; saya berada di samping Rasulullah. Ketika suatu kaum datang, Rasulullah bersabda: “Terimalah kabar gembira itu, ya Bani Tamim.” Bani Tamim berkata: “Engkau telah menyampaikan kabar gembira kepada kami. Oleh karena itu, berilah kami.” Setelah itu orang-orang dari penduduk Yaman masuk. Rasulullah bersabda: Terimalah kabar gembira itu, wahai penduduk Yaman, meskipun Bani Tamim belum menerimanya.” Mereka berkata: “Kami terima. Kami datang ke sini untuk mempelajari dan memperdalam agama. Oleh karena itu, kami ingin bertanya kepadamu tentang permulaan sesuatu yang berwujud.” Rasulullah menjawab: “Allah. Tak satupun yang berwujud sebelum-Nya. Arasy-Nya berada di atas air. Hanya Dia yang menciptakan langit dan bumi dan Dia pula yang menentukan sesuatu di dalam ‘Ad-Dzikir.”
            Dengan melihat dari sifat Allah yang Maha Awwal dan Akhir seperti demikian itu, maka kita sebagai manusia harusnya menyadari bahwa hanya Allah yang Maha Kekal. Kita hanya manusia yang lemah yang pada akhirnya nanti kita akan kembali kepada-Nya. Untuk itu, kita tidak boleh semaunya sendiri hidup di bumi ini. Sesuka kita ingin berbuat apa tanpa peduli akan peraturan Allah. Ingatlah bahwa kita akan dimintai pertanggungjawaban atas segala perilaku kita. Sejak awal kita hidup hingga pada akhirnya kita mati. Jadi, janganlah kita lupa, hidup manusia tidak kekal seperti Allah Ta’ala.
b.      Allah Ta’ala tidak serupa dengan sesuatu (Mukhalafatu lil hawadits)
Di antara sifat-sifat Allah Ta’ala lainnya ialah bahwa Allah itu tidak serupa dengan sesuatu apapun. Dia tidak menyamai segala yang merupakan makhluk-Nya ini dan tidak sesuatu makhluk pun yang menyamai Dia.[9] Allah berfirman: “Tak satupun yang menyerupai Allah. Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (QS.Syura:11).
Penyerupaan selain Allah kepada-Nya tentang sebagian sifat itu hanya dari aspek nama, bukan dari aspek hakikat. Jika dikatakan: Polan Maha Kuasa, Maha Bijaksana, dan Maha Penyayang, itu hanya dari aspek lahiriyah. Dengan demikian esistensi ilmu, hidup, kuasa, bijaksana, kasih sayang bagi Allah sangat sempurna, sedang eksistensi semua sifat itu bagi individu sangat kurang jika dihubungkan dengan kepada Allah.[10]
c.       Berdiri Sendiri (Qiamuhu binafsihi)
Allah melaksanakan segala sesuatunya dengan sendirinya. Tidak berkehendak kepada bantuan siapapun. Yang berkehendak kepada bantuan itu adalah lemah. Yang lemah bukanlah Tuhan. Yang berkehendak pada bantuan itu adalah makhluk. Tuhan bukanlah makhluk. Karena itu Allah mustilah Qiamuhu binafsihi.[11]
d.      Maha Esa (Wahdaniyah)
Allah Maha Esa dalam substansi (Dzat), sifat, dan perbuatan-Nya. Keesaan di dalam Dzatnya mempunyai pengertian bahwa substansi Allah tidak tersusun dari beberapa bagian dan tidak ada yang menyerupai dan menyekutui kerajaan-Nya. Allah berfirman: Maha Suci Dia. Allah Maha Esa lagi Maha Perkasa.” (QS.Zumar:04).[12]
Jika ada Tuhan bersama Allah sebagaimana yang diasumsikan orang-orang musyrik, mereka tentu menuntut untuk mengalahkan dan menyaingi Allah. Allah berfirman: “Katakan: Seandainya ada beberapa Tuhan bersama Allah sebagaimana yang dikatakan mereka, mereka tentu menuntut jalan kepada Dzat yang mempunyai Arasy. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa-apa yang mereka katakan dengan sesungguhnya.” (QS. Isra’: 42-43).[13]
3.      Sifat Ma’ani
Adapun sifat ma’ani ada tujuh macam, yaitu:
a.       Kuasa (Qudrah)
Allah Maha Kuasa dan tak satu pun yang dapat melemahkan-Nya. Bermula atau munculnya alam semesta karena kekuasaan dan keagungan-Nya. Kekuasaan Allah selalu baik dan relevan sepanjang masa untuk mewujudkan dan meniadakan segala yang mungkin.
b.      Berkehendak (Iradah)
Allah Maha Berkehendak, artinya Allah menentukan sesuatu yang mungkin dengan sebagian yang diperbolehkan. Allah menjadikan panjang atau pendek, naik atau buruk, pintar atau bodoh di suatu tempat atau di tempat lain. Allah mengatur alam semesta menurut kehendak, keinginan, dan kebijaksanaanNya. Allah berfirman: Kami hanya mengatakan kepada sesuatu: Jika kami menghendaki, kami katakana padanya: Jadilah, lantas ia jadi.” (QS.Nahl: 40).
c.       Mengetahui (‘Ilmu)
Allah Maha mengetahui atas segala sesuatu dan imu-Nya selalu mempunyai data-data yang telah lampau, sekarang, atau yang akan datang. Ilmu Allah tidak didahului oleh kebodohan dan tidak diikhtibarkan oleh kelupaan. Ilmu Allah tidak terbatas dengan masa dan tempat.
d.      Hidup (Hayat)
Allah Maha Hidup. Hidup adalah sifat yang membenarkan dan mengarahkan sesuatu yang disifati dengan berkuasa, berkehendak, mengetahui, mendengar,dan melihat. Seandainya Allah tidak hidup, sifat-sifat itu tidak mungkin ada.
            Hidup Allah adalah hidup yang sempurna dan tidak ada yang lebih sempurna daripadanya – kadarnya tidak dapat disentuh dan hakikat-Nya tidak dapat diketahui – seperti semua sifat-Nya.
e.       Berfirman (Kalam)
Allah Maha Berfirman; Firman-Nya tidak berwujud huruf dan suara. Sifat ini telah ditetapkan Allah untuk diri-Nya dan Dia pernah bercakap dengan Musa. Allah berfirman: “Allah bercakap-cakap dengan Musa dengan sebenarnya.” (QS. Nisa: 164). “Setelah Musa datang pada waktu perjanjian Kami dan Tuhan bercakap-cakap dengannya.” (QS.A’raf: 143). Allah juga pernah bercakap-cakap dengan para nabi. Allah berfirman: “Manusia tidak akan mendapatkan bahwa Allah bercakap-cakap dengannya kecuali berupa wahyu.” (QS. Syura’:51).
f.       Mendengar (Sama’)
Allah Maha Mendengar, Dia mendengar segala sesuatu sampai pada semut hitam yang merayap di padang pasir yang tidak ada tumbuh-tumbuhan di kegelapan malam tanpa disibukkan oleh pendengaran terhadap satu kelompok dari pendengaran terhadap kelompok lain dan tanpa dikaburkan oleh bahasa, tanpa dipengaruhi oleh kegaduhan, atau tanpa dibingungkan oleh kekacauan. Allah tidak mendengar dengan anggota badan, dengan alat, dengan telinga, dan dengan lobang telinga.[14]
Allah Maha Mendengar segala sesuatu, tidak seperti manusia yang pendengarannya terbatas. Misalnya pada suatu kejadian, ketika dalam kelas guru sedang menjelaskan dengan suaranya yang memang tidak terlalu keras, ditambah dengan ramainya teman-teman berbicara sendiri, terjadi kegaduhan di dalam kelas itu. Maka pendengaran manusia pun sudah terhambat ketika ingin mendengarkan guru. Suara guru pun sulit terdengar. Berbeda sekali dengan Allah, Dia mampu mendengar dalam situasi apapun tanpa hambatan apapun.
g.      Melihat (Bashar)
            Sebagaimana Allah mendengar segala sesuatu, Allah juga melihat segala sesuatu berupa pengelihatan yang mencakup dan memuat semua panca indra. Pengelihatan Allah tidak dengan biji mata sebagaimana orang lain melihatnya.[15]
            Dalam pelajaran Biologi, tentu kita sudah pernah belajar mengenai organ mata. Yang fungsi utama dari mata adalah untuk melihat. Mata manusia juga memiliki keterbatasan, ketika melihat sesuatu yang berada di balik tembok, mata manusia tidak mampu melakukannya. Sangat berbeda dengan Allah yang Maha Melihat sesuatu di manapun. Tidak ada pengahalang bagi-Nya.
4.      Sifat Ma’nawiyah
Karena sifat ma’nawiyah ini adalah sifat kelaziman dari sifat ma’ani maka jumlahnya tentu sesuai dengan sifat ma’ani tersebut yakni tujuh macam. Antara lain:
a.       Qodiran = selalu berkuasa
b.      Muridan = selalu berkehendak
c.       ‘Aliman = selalu mengetahui
d.      Hayyan = selalu hidup
e.       Sami’an = selalu mendengar
f.       Bashiran = selalu melihat
g.      Mutakaliman = selalu berkata-kata.[16]
B.     Sifat-Sifat Mustahil
Mustahil di dalam kamus Bahasa Indonesia berarti tidak akan terjadi; tidak mungkin. Sedangkan di dalam kamus bahsa Arab Munjid kata mustahil (مستحيل)   berakar kata حال يحول حولا وحؤولا yang berarti berubah dari satu keadaan kepada keadaan yang lain, kemudian mendapatkan tambahan hamzah wasal, sin dan ta’ di depannya sehingga menjadi استحال يستحيل استحالة فهو مستحيل yang masih berarti berubah dari satu keadaan kepada keadaan lain atau berarti menjadi muhal (tidak mungkin terjadi). Dengan demikian dapat diartikan bahwa mustahil adalah sesuatu yang berubah dari satu keadaan kepada keadaan yang lain atau sesuatu yang tidak mungkin terjadi.[17]
Sifat-sifat mustahil ialah sifat yang tidak mungkin ada pada Allah. Sifat-sifat ini adalah lawan dari sifat wajib. Karena jumlahnya adalah 13 atau 20 pula, sebagaimana jumlah sifat wajib.
Sifat-sifat mustahil ini ialah:
1.      Al-‘adam = tidak ada.
2.      Al huduts = baru.
3.      Al fana = binasa.
4.      Al mumatsalah = serupa dengan makhluk.
5.      Adamul qiamu binafsihi = tidak berdiri sendiri
6.      Al ta’addud = berbilang.
7.      Al ‘ajzu = lemah.
8.      Al karonah = terpaksa.
9.      Al jahlu = bodoh.
10.  Al mautu = mati.
11.  Al ashommu = tuli.
12.  Al a’ma = buta.
13.  Al bukmu = bisu.
14.  Ajizan = selalu lemah.
15.  Karihan = selalu terpaksa.
16.  Jahilan = selalu bodoh.
17.  Mayyitan = selalu mati.
18.  Asham = selalu tuli.
19.  A’ma = selalu buta.
20.  Abkam = selalu bisu.[18]

C.    Sifat Jaiz
Jaiz artinya diizinkan menurut agama (boleh dilakukan, tetapi boleh juga tidak); mubah.[19] Sifat jaiz ialah sifat yang boleh ada dan boleh pula tidak ada pada Allah. Sifat ini hanyalah satu saja, yaitu Allah itu boleh mengerjakan sesuatu dan boleh pula tidak mengerjakan sesuatu.
Mengerjakan sesuatu atau tidak mengerjakan sesuatu itu adalah menjadi wewenang Allah sepenuhnya. Karena itu menciptakan alam ini tidaklah wajib bagi Allah dan tidaklah mustahil, tetapi boleh saja. Tuhan boleh saja menciptakannya dan boleh pula tidak menciptakannya.[20]








Referensi
Abduh, Syekh Muhammad. 1976. Risalah Tauhid. Jakarta: Bulan Bintang.
Basyir, KH. Ahmad Azhar Basyir. 2002. Beragama Secara Dewasa: Akidah Islam. UII Press.
Sabiq, Sayid. 1995. Aqidah Islam (Ilmu Tauhid): Pola Hidup Manusia Beriman. Diponegoro.
Sabiq, Sayid. 1996. Akidah Islam: Suatu Kajian yang Memposisikan Akal sebagai Mitra Wahyu.   Al-Ikhlas.
Sirait, Sangkot. 2013. Tauhid dan Pembelajarannya. Yogyakarta: Fak. Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga.
Zaini, Syahminan. 1983.  Kuliah Aqidah Islam. Surabaya: Al-Ikhlas.





[1] KH. Ahmad Azhar Basyir, Beragama Secara Dewasa: Akidah Islam, (UII Press, 2002), hal. 78.
[2] Syahminan Zaini, Kuliah Aqidah Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1983), hal. 96.
[3] Ibid.
[4] Ibid.
[6] Sayid Sabiq, Aqidah Islam (Ilmu Tauhid): Pola Hidup Manusia Beriman, (Diponegoro, 1995), hal. 81-82.
[7] Ibid, hal. 82.
[8] Ibid.
[9] Ibid, hal. 89.
[10] Sayid Sabiq, Akidah Islam: Suatu Kajian yang Memposisikan Akal sebagai Mitra Wahyu, (Al-Ikhlas, 1996), hal. 72.
[11] Syahminan Zaini, Kuliah Aqidah Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1983), hal. 98.
[12] Sayid Sabiq, Akidah Islam: Suatu Kajian yang Memposisikan Akal sebagai Mitra Wahyu, (Al-Ikhlas, 1996), hal. 73.
[13] Ibid, hal. 75.
[14] Ibid, hal. 85.
[15] Ibid.
[16] Syahminan Zaini, Kuliah Aqidah Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1983), hal. 105.
[17] http://umemsindonesia.blogspot.com/2012/06/pengertian-mustahil-di-dalam-al-quran.html
[18] Ibid., hal. 106-107.
[19] http://kbbi.web.id
[20] Ibid., hal. 107.

0 Comments:

Post a Comment