Header Ads

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

01 May 2019

Catatan 1 Mei 2019

Hari ini adalah hari yang menyenangkan bagiku. Meskipun listrik kontrakan mati gara2 belum bayar listrik, tapi seenggaknya aku tidak was2 tentang uang. Ya kalau untuk bayar listrik ada lah. Cuma tadi gara2 telat membayar akhirnya listrik dipadamkan. Dan hal yang konyol malah sampai dicabut bagian stop kontaknya. PLN memang agak bagaimana gitu.tapi ya udahlah nggak papa yang penting sekarang saya nginep di kontrakan anak-anak granit aja dulu. Toh besok hari libur.
target untuk hari besok aku harus bisa menyelesaikan sampai teori pada tesis aku.Masa sudah berminggu-minggu cuma ngerjain teori aja nggak selesai-selesai. Ya meskipun memang agak sibuk juga sih hehehe. Kerjaan jurnal numpuk banyak belum lagi tambahan melatih beberapa jurnal yang lain aduh agak berat sebenarnya. Tapi ya udahlah dinikmati saja ikhlas. Aku yakin suatu saat nanti ini akan memberi kebaikan.
Untuk trading nya hari ini sudah agak membaik yang kemarin aku sangat kaget sekali. Awal minggu ini sudah minus hampir aku kaget sebenarnya eman-eman uangnya tapi ya udahlah nggak papa aku niatkan uang itu buat belajar trading. Semoga aja telah aku pelajari beberapa kesalahan ku seperti tidak menunggu retreat setelah menembus support resistance minimal 3 hari. Itu pelajaran yang aku miliki dalam hari ini.
Hari ini juga aku membuat google kelas.meskipun belum ketemu bagaimana cara agar bisa memberi notifikasi kepada semua peserta forum. Tapi yang penting kelas sudah terbentuk dan bisa menjadi ruang diskusi akademik yang terbuka semoga...

23 December 2016

MATERI AQIDAH AKHLAQ DI SEKOLAH DAN MADRASAH

BAGI YANG MAU MATERI-MATERI KULIAH AQIDAH AKHLAQ DI SEKOLAH DAN MADRASAH, MONGGO DOWNLOD  DI BAWAH GANN



DOWNLOAD DISINI..

AKHLAQ INDIVIDUAL

AKHLAQ INDIVIDUAL


Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah
Aqidah Akhlaq di madrasah dan sekolah


index.jpg



Oleh :
Imron Salim
(13410196)


PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SUNAN KALIJAGA
2015
Pengertian Akhlaq Individual
Akhlak secara terminologi berarti tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik.
Akhlak merupakan bentuk jamak dari kata khuluk, berasal dari bahasa Arab yang berarti perangai, tingkah laku, atau tabiat.
Tiga pakar di bidang akhlak yaitu Ibnu Miskawaih, Al Gazali, dan Ahmad Amin menyatakan bahwa akhlak adalah perangai yang melekat pada diri seseorang yang dapat memunculkan perbuatan baik tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu.
Akhlaq individual dapat disebut juga akhlaq pribadi karena yang paling dekat dengan seseorang itu adalah dirinya sendiri, maka hendaknya seseorang itu menginsyafi dan menyadari dirinya sendiri, karena hanya dengan insyaf dan sadar kepada diri sendirilah, pangkal kesempurnaan akhlak yang utama, budi yang tinggi. Manusia terdiri dari jasmani dan rohani, disamping itu manusia telah mempunyai fitrah sendiri, dengan semuanya itu manusia mempunyai kelebihan dan dimanapun saja manusia mempunyai perbuatan.[1]

Persepsi masyarakat tentang akhlaq yang baik:
Banyak orang berselisih pendapat untuk menilai suatu perbuatan, ada yang melihatnya buruk disisi lain ada yang meliahtnya baik. Berikut adalah beberapa pernyataan dari beberapa sudut pandang yang yang mengemukaan pendapatnya mengenai akhlak yang baik:
·         Adat Kebiasaan:
Tiap suku atau bangsa memiliki adat istiadat tertentu yang diwariskan dari nenek moyangnya. Dipandang buruk bagi orang yang melaksanakannya dan dipandang buruk bagi orang yang meninggalkannya. Oleh karena itu perbuatan dikatakan baik bila sesuai dengan adat-istiadat.
·         Kebahagiaan (Hedonism):
Dari sudut pandang masyarakat hedonism tujuan akhir hidup dan kehidupan manusia adalah mencapai kebahagiaan. Karena itu perbuatan manusia dikatakan baik bila mendatangkan kebahagiaan, kebahagiaan bagi dirinya sendiri maupun kebahagiaan bersama.
·         Tokoh filosof
Menurut herbert spencer (1820-1903) salah seorang filsafat inggris mengatakan bahwa perbuatan akhlaq itu tumbuh secara sederhana, kemudian berangsur meningkat sedikit demi sedikit berjalan kearah cita-cita yang dianggap sebagai tujuan. Perbuatan itu baik bila dekat dengan cita-cita itu dan perbuatan itu buruk bila jauh dengan cita-citanya.[2]Cita-cita menurut paham ini adalah untuk mencapai kesenangan dan kebahagiaan.
Akhlaq individu dalam Islam:
Akhlaq individu masuk pada ruang lingkup hubungan manusia dengan dirinya sendiri, seperti: menjaga kesucian diri dari sifat rakus dan mengumbar nafsu, mengembangkan keberanian (syaja’ah) dalam menyanpaikan yang hak, menyampaikan kebenaran, memberantas kedzaliman, mengembangkan kebijaksanaan dan memberantas kebodohan dan jumud, bersabar tatkala mendapat musibah dan dalam kesulitan, bersukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah, rendah hati atau tawadhu’ dan tidak sombong, menahan diri dari melakukan larangan-larangan Allah atau iffah, menahan diri dari marah walaupun hati tetap dalam keadaan marah atau hilmun, memaafkan orang, jujur atau amanah,dan merasa cukup dengan apa-apa yang diperoleh dengan susah payah atau qana’ah.[3]
Dapat diambil kesimpulan bahwa pokok-pokok Akhlaq (budi pekerti luhur) itu ada empat, yaitu: hikmah, Syaja’ah, ‘Iffah dan keadilan.
·         Yang dimaksud dengan hikmah adalah: kemampuan jiwa untuk membedakan yang benar dan yang salah dari segala perbuatan yang dibawah kekuasaan manusia (ikhtiyariyah).
·         Yang dimaksud keadilan adalah: kemampuan jiwa untuk mengendalikan daya ghadab dan daya nafsu, serta mendorongnya kepada tuntunan hikmah dengan membatasi gerak-geriknya.
·         Yang dimaksud Syaja’ah adalah: keadaan daya ghadab tunduk dan taat kepada akal di dalam semua gerak maju  dan mundurnya.
·         Yang dimaksud Iffah adalah keadaan daya nafsu terpimpin dan terdidik dengan pendidikan pimpinan akal dan agama.
Dengan baik dan sehatnya empat pokok inti lahirlah budi pekrti luhur lagi mulia. Sebab dengan sehatnya akal akan lahirlahfikiran yang sehat, pertimbangan yang baik, pandangan yag terang serta dugaan yang tepat, dan dapat pula menangkap akibat yang kecil-kecil, dan semua perbuatan dan penyakit hati yang sangat samar.[4]
Ayat yang berhubungan dengan pola ini diantaranya:
   (An Nuur: 30-31)
30. Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat".
31. Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah Menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

   (At takasur: 1-8)
1. Bermegah-megahan telah melalaikan kamu
2. sampai kamu masuk ke dalam kubur.
3. janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),
4. dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.
5. janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin,
6. niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim,
7. dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin
8. kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).

(Al mu’minun, 1-11)
1. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,
2. (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya,
3. dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,
4. dan orang-orang yang menunaikan zakat,
5. dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,
6. kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa.
7. Barangsiapa mencari yang di balik itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas.
8. dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.
9. dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya.
10. mereka Itulah orang-orang yang akan mewarisi,
11. (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. mereka kekal di dalamnya.
 (An Nisa, 29-30)
29. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.
30. dan Barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, Maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
Al mujadalah, 11
11. Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Luqman 12, 17-19
12. dan Sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, Yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. dan Barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan Barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".

17. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
18. dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
19. dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.[5]

Realitas penerapan akhlaq individu
Amar ma’ruf nahi munkar merupakan suatu hal yang harus ada pada tiap diri seorang muslim sebagaimana hadis:
عَنْ أَبِي سَعِيْد الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ
[رواه مسلم]
Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata : Saya mendengar Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : Siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman.(Riwayat Muslim)
Namun dewasa ini dalam pengaktualisasiannya banyak yang mengedepankan kekerasan sehingga tidak memberikan maslahah tetapi menimbulkan mafsadah.
Dalam hal Amar ma’ruf nahi munkar Rasulullah SAW pernah mencontohkan, bagaimana beramar ma’ruf nahi munkar dengan lemah lembut serta mengajari orang yang bodoh. Diriwayatkan bahwa seorang pemuda datang menemui rasulullah SAW, lalu berkata, “wahai rasul izinkanlah saya berzina” . kemudian orang-orang disekitar rasul merasa marah dengan berkata “ binasakan saja orang itu”, Rasulpun menyuruh pemuda itu mendekat dan mendekatlah pemuda itu pada rasul, rasulullah SAW bersabda, “Apakah engkau rela jika zina itu terjadi pada ibumu atau saudaramu atau bibimu atau kerabatmu yang lain” maka pemuda itupun menjawab “Tidak, demi Allah, semoga Allah melindungi”. Rasulpun berkata, “manusia yang lain juga tidak menhendaki pada kerabat mereka”. Kemudian rasul memegangnya sambil berdo’a, “Ya Allah, ampuni dosanya, sucikan hatinya dan jagalah kehormatannya.” Kemudian pemuda itu pergi dan sama sekali tidak menoleh sama sekali.[6]
Pada kisah tersebut dapat kita ambil ibrah bahwa Rasul SAW dalam menghadapi siapapun lebih mengutamakan tujuan dakwah yaitu mencapai maslahah bukan mafsadah dengan cara yang lemah lembut, andaikata pemuda dalam kisah tersebut diperlakukan dengan cara yang berbeda (keras) mungkin sikap yang dimunculkan akan berbeda dengan apa yang telah dikisahkan. Dan sesungguhnya tujuan dakwah nabi di dunia adalah untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia sebagai mana sabda beliau:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَق
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak-akhlak mulia.”  (Shahiih, HR. Ahmad).

Saran:
Segala bentuk akhlaq individu hendaknya mengutamakan akhlaq dan perangai yang mulia, sehingga dakwah yang dilakukanpun mencerminkan akhlaq yang mulia, dan tidak ada kekerasan yang mengatasnamakan dakwah.
Dalam mencapai akhlak mulia haruslah memahami empat inti akhlak sebagaimana yang telah dijelaskan diatas yang dengannya seorang akan melihat suatu permasalahan lebih bijaksana dan menghasilkan perbuatan yang mencerminkan akhlak mulia itu sendiri. Setelah merasa memahami empat pokok akhlak, hendaknya seseorang tidak berhenti dan puas dengan apa yang ia miliki tetapi selalu berusaha mengaktualisasi akhlaknya.
Akhlaq terpuji bila diusahakan untik dilakukan secara terus-menurus akan menjadi sebuah kebiasaan dan kebiasaan yang dipertahankan akan menjadi karakter bagi setiap individu yang bersangkutan.
Maka apabila akhlaq yang terpuji dirasa susah untuk dilakukan namun kemudian berusaha terus-menerus untuk melakukannya lama kelamaan akan terbiasa, dan akhirnya akhlak terpuji tersebut menjadi karakter. Wallahu a’lam bisshawab.



[1] Wikipedia.org
[2] Asmaran As. PENGANTAR STUDI AKHLAK. (Jakarta: raja grafindo, 1994). Hlm32.
[3] Muslim Nurdin. Moral dan Kognisi Islam. (Bandung: Alfabeta, 1993). Hlm 237.
[4] Imam al Ghazali. Mukhtasar ihya ulumuddin. (Yogyakarta: U.P. Indonesia, 1982). Hlm 121.
[5] Ibid. Hlm 122.
[6] Syaikh Abu Abdurrahman Ridha. Akhlaq ulama salaf dalam bergaul. (Jakarta: Pustaka Al Kautsar, 2013). Hlm 40.

AL-AKHIR


الأخر
                                                                    AL-AKHIR             
(YANG MAHA AKHIR)

A.    Pengertian Al-Akhir
Al-Akhir artinya yang kekal sendiri sesudah semua yang lainnya musnah. Dia-lah Dzat Yang Maha Akhir (kekal) setelah semuanya berakhir atau musnah. Dia-lah Dzat Maha Akhir dan akhirnya tanpa ujung. Segala yang akhir akan mengarah kepada Akhir Nya. Akhirnya Allah tanpa batas, setelah semua makhluk musnah, Allah tetap ada dan tidak akan pernah mengalami kemusnahan.[1]
Makna Al-Akhir adalah Dzat yang tidak ada sesuatu setelahnya. Nama Allah ini menunjukan keabadian-Nya dan kekekalan-Nya. Dan ini menunjukan bahwa Allah merupakan tujuan terakhir kita tempat bergantung kita, tempat mencurahkan segala keresahan, harapan kita, apapun yang kita butuhkan, kepada-Nyalah kita memohon ampunan serta berserah diri,  tiada tempat bergantung selain kepada-Nya,
Allah kekal selama-lamanya. Allah tidak bertubuh bukan juga benda, jadi Allah tidak akan mati dan juga tidak akan hancur. Segala sesuatu akan binasa kecuali Dzat Allah, sebagaimana firman Allah.





Madzhab Moderat
Al-Akhir
Gambar lama yang rusak pada artikel ini sudah dirapikan agar pembahasan tetap bersih, nyaman dibaca, dan lebih siap untuk peninjauan AdSense.

“Dan tetap kekal wajah (zat) Tuhanmu yang mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan. (Ar-Rahman:27)”[2]
             
            Adapun hal-hal abadi lainnya, namun berupa makhluk, seperti jannah (surga), an-nar (neraka), qalam, dan lain sebagainya. Namun jelas kekalnya Allah dengan makhluknya tidaklah sama. Melihatnya Allah dengan melihatnya makhluk tidaklah sama, mendengarnya Allah dengan mendengarnya makhluk tidaklah sama juga. Dalam Al-Qur’an dijelaskan “Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.(Assyuura ayat 11)”.
            Perbedaan kekalnya Allah dan makhluk (surga dan neraka) yaitu bahwa surga dan neraka memiliki awal/permulaan ada penciptaanya, segala makhluk yang Allah ciptakan memiliki permulaan sedangkan Allah tidak. Allah Maha Terdahulu, beda dengan makhluknya. Kekalnya makhluk ciptaan Allah adalah fana(akan musnah) sesuai dengan ketentuan Allah.
           
B.     Dalil Mengenai Asma Allah(Al-Akhir)
Al-Arif Al-Sya’rani menukil ucapan Qutb Al-Syadzili, katanya: “Allah SWT telah menghapuskan segala yang lain, dengan firman-Nya:





Dia-lah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Dzahir dan Yang Batin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. al-hadid (57): 3)

Lalu dikatakan: “maka kemanakah makhluk?”
Jawab: “mereka ada, namun keadaan mereka di sisi Allah SWT seperti debu-debu yang berterbangan di udara, yang Anda lihat naik-turun di dalam cahaya matahari, yang jika Anda tangkap maka tidak akan Anda lihat lagi, ia ada di dalam penglihatan, tidak ada di dalam wujud.”[3]
Adapun dalam hadits Rasulullah Saw bersabda:
“ Ya Allah, Engkaulah Yang Mahaakhir, yang tidak ada sesuatu setelah-Mu.”
(H.R. Muslim)


C.     Meneladani sifat Allah  (Al-Akhir)

Berakhlak dengan meneladani Asma Allah ini menjadikan kita berakhir tetap bergantung kepada-Nya, sebab hanya Allah yang pantas untuk dijadikan tempat bersandar. Dengan bersandar kepada-Nya menjadikan hati tidak khawatir karena Dia akan memberi setiap yang dibutuhkan hamba-Nya.[4] Dengan meneladani sifat Allah ini kita diajarkan untuk selalu berserah diri pada Allah, selalu ingat bahwa apa yang ada di dunia ini akan musnah,  tertanam dalam diri kita bahwa kita akan kembali kepada-Nya, karena tidak ada makhluk yang kekal. Dengan itu kita dianjurkan untuk mempersiapkan diri kita untk menghadap-Nya. Perbanyak amalan-amalan, jauhi hal yang dilarang-Nya, patuhi perintah-Nya.
            Dalam Al-Qur’an kata “Akhir” ditemukan berkali-kali namun hanya sekali sifat tersebut “al-Akhir” yang menunjuk kepada Allah, yaitu yang dihiasi pada awalnya dengan huruf Alif dan Laam. Kata Al-Akhir ini berurutan dengan Al-Awwal. Yaitu terdapat dalam Q.s Al-Hadid sebagaimana di tuliskan di atas. Adapun berikut ini contoh ayat yang mengenai hari akhir atau kiamat.


“ Mereka beriman kepada Allah dan Hari akhir, menyuruh berbuat yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar dan bersegera (mengerjakan) berbagai kebajikan. Mereka termasuk orang-orang shaleh.” (Q.s. Ali Imran:114)

            Kata “Akhir” terulang sebanyak 28 kali, 27 diantaranya tanpa dihiasi oleh alif dan laam hanya sekali yang dikaitkan dengan doa yakni Akhir da’wahum (akhir do’a mereka) terdapat dalam (Q.S. yunus: 10), 26 sisanya menunjuk kepada hari akhir atau kiamat. [5]


“ Doa mereka di dalamnya adalah, “ subhaanaka allahumma” (Maha Suci Engkau, Ya Tuhan kani), dan salam penghormatan mereka adalah “Alhamdulillahirabbil ‘alamin”, (segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam)”

            Imam Ghazali menjelaskan bahwa yang “Akhir” menjadi akhir saat dibandingkan dengan selainnya. Sayyidina Ali pernah melukiskan makna sifat Al-Awwal dan Al-Akhir, yaitu bahwa, “ Dia Yang Awwal yang bagi-Nya tiada “sebelum”, sehingga mustahil ada sesuatu yang sebelum-Nya. Dia Yang Akhir  yang bagi-Nya tiada “sesudah” sehingga mustahil ada sesuatu sesudah-Nya. Dia tidak berada di satu tempat ke tempat yang lain”.[6]
            Dalam meneladani sifat Allah yang ini (Al-Akhir) alangkah lebih baik jika kita juga meneladani sifat Allah Al-Awwal (Yang Maha Awal), karena dalam Al-Qur’anpun kata Al-Akhir berdampingan dengan Al-Awwal.. Dan cukup kiranya bagi yang meneladani Allah dalam sifat Al-Awwal dan Al-Akhir untuk memperhatikan, menghayati  pesan-pesan Allah yang menggunakan kata Awwal, serta penekanan Allah ketika menggunakan kata “Akhir”.
Nabi Saw berdo’a:




اَلَّلهُمَّ اَنْتَ الْاَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَىْءٌ وَ اَنْتَ الآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَىْءٌ وَ اَنْتَ الظَاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَىْءٌ وَاَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَىْءٌ اِقْضِ عَنَّا الدَيْنَ وَاغْنِنَا مِنَاالْفَقْرِ .وَصَلىَ للهُ عَلَىى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى الِه وَصَحْبِه وسَلَّمَ.

“Ya Allah Engkau adalah yang Awal, maka tiada sesuatu sebelum-Mu. Engkau adalah Yang Akhir, maka tiada sesuatu sesudah-Mu. Engkau adalah Yang Dhahir, maka tiada sesuatu di atas-Mu. Engkau adalah Yang Bathin maka tiada sesuatu di bawah-Mu. Ya Allah lunasi hutang kami dan hindarkan kami dari kekafiran. Wa Shalallahu ‘Ala Sayyidina Muhammad Wa ‘Ala Alihi Wa sahbihi Wa sallam”[7]

            Pertama yang dituntut dari yang meneladani-Nya adalah percaya sepenuhnya bahwa Allah Maha Esa. Dan sekali-kali tidak menjadi kafir terhadap-Nya, tidak mempersekutukan-Nya, tidak pula membenarkan keyakinan yang menyatakan Dia beranak atau diperanakan. Ini bukan karena enggan mengakui adanya anak bagi Tuhan seandainya memang benar ada, karena Allah sendiri yang memerintahkan “katakanlah, jika benar Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak, maka akulah orang pertama yang beribadah kepadanya (memuliakan anak itu)” (Q.s Az-zhruf: 81). [8]
           

D.    Khasiat dari mengamalkan Asma Allah (Al-Akhir)
1.      Barang siapa yang ingin agar cintanya kepada Allah tertanam kuat dalam hatinya, cinta kepada selain Allah hilang dari hatinya, dosa-dosanya diampuni, dan mati dalam keadaan beriman, hendaknya membaca Asma Allah ini 1.000 kali setiap hari.
2.      Orang beriman yang membaca Asma Allah ini sebanyak 100 kali sehari, insyaallah akan berhenti membodohi diri sendiri dan segera bisa melihat kebenaran. Akan keluar dari dalam dirinya segala yang lain selain Allah.
3.      Bagi hamba Allah yang membaca Asma Allah ini dengan istiqamah sebanyak 900 kali setiap selesai shalat fardhu atau sunnah, insyaallah dianugerahi kekuatan dari segala sesuatu yang akan menghalangi dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah.[9]

E.     Implikasinya
Kita sebagai seorang muslim tentunya sudah mengetahui bahwa semua makhluk yang ada di dunia ini tidak ada yang abadi, pasti kembali kepada-Nya. Hanya Allah lah Yang Maha Akhir, tiada sesuatu setelah-Nya. dari meneladani sifat Allah “Al-Akhir” ini dapat melahirkan manusia yang bertaqwa. Untuk itu sebelum kita menutup usia, sebelum rambut tak hitam lagi, sebelum raga tak lagi dapat berdiri kokoh. Alangkah indahnya bila kita memulai untuk membuat pundi-pundi tabungan untuk akhirat kelak, kita tahu bahwa hidup yang sesungguhnya adalah di akhirat kelak, dunia ini tidaklah kekal. Kita mulai mempersiapkan itu sejak usia muda. Kita berusaha untuk meneladani sifat Allah Al-Akhir, kita coba amalkan untuk melafalkan Asma Allah ini dalam kehidupan sehari-hari kita. Dengan mengimani Allah SWT melalui Asma Allah “Al-Akhir” kita dapat menjadi pribadi yang senantiasa selalu bertaqwa kepada Allah. Karena dengan kita mengimaninya kita dapat selalu teringat bahwa kita tidaklah kekal, dengan itu kita akan termotasi untuk selalu melakukan perbuatan baik, melaksanakan segala perintah Allah terutama yang wajib seperti shalat lima waktu, puasa, zakat. Juga meninggalkan dan menjauhi larangan Allah seperti mencuri, minum minuman keras dll. Agar kelak kita bahagia dunia akhirat.
Adapun dalam islam, ada 4 kewajiban muslim kepada jenazah yaitu: memandikan, mengkafani, menshalati, menguburkan. Nah, hal-hal tersebut yang biasa kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari merupakan salah satu cara kita agar selalu mengingat bahwa kita tidaklah kekal akan kembali kepada-Nya. Dengan kita tersadar akan hal tersebut, kita sudah semestinya tergugah/termotivasi untuk selalu mempersiapkan bekal untuk akhirat nanti, tidak hanya memikirkan soal dunia saja.  
            Secara psikologis pada umumnya pada usia lanjut manusia lebih memikirkan persoalan akhirat. Mulai memikirkan nilai spiritual yang tinggi. Kita banyak melihat para ibu-ibu banyak sekali yang mengikuti pengajian harian maupun mingguan. Pada usia lanjut, mereka lebih banyak melaksanakan ibadah, memperbanyak amal shaleh. Namun, kita ketahui juga di zaman sekarang ini para pemuda bahkan anak SD pun sudah terlalu jauh terhanyut dalam kepuasaan dunia dan terlena mengejar duniawi saja. Asyik dengan mainan gedgetnya, dan sebagainya, hingga melupakan kewajiban yang sudah seharusnya dilaksanakan. Anak-anak kurang dibimbing dari usia dini untuk memulai berlomba-lomba dalam kebaikan. Khususnya dalam ibadah, missal mulai diajarkan untuk shalat berjamaah, belajar puasa, belajar membayar zakat, dll. Hanya pada sekolah-sekolah tertentu saja yang menanamkan hal tersebut. Dalam hal ini orang tua juga berperan penting dalam mengembangkan tingkat spiritual anak.
            Oleh sebab itu, kita sebagai calon pendidik sudah seharusnya mengajarkan dan membimbing anak-anak murid kita maupun anak kita untuk terus berbuat baik dan selalu melaksanakan perintah Allah juga menjauhi hal-hal yang dilarang-Nya. Dan tidak lupa kita untuk selalu memberikan contoh, menjadi panutan bagi anak didik kita. Agar mereka terbiasa melaksanakan perintah Allah hingga dewasa dan lansia nanti. Agar memliki bekal yang banyak untuk menghadap Sang Ilahi.
















Daftar Pustaka
Al ghozali. 1999. Al asma al husna(rahasia nama-nama indah Allah). Bandung: mizan.
Endim, sudirman. 2009.Keajaiban Asmaul Husna. Jogjakarta: garailmu.
Hasan, M. Ali. 1997. Memahami dan Meneladani Asmaul Husna. Jakarta: rajagrafindo  persada.
Shihab, Quraish. 2005. Menyingkap Tabir Ilahi. Jakarta: lentera hati



    [1] Sudirman endim. Keajaiban Asmaul Husna. (Jogjakarta: garailmu, 20009). Hlm, 222
    [2] M. Ali Hasan. Memahami dan Meneladani Asmaul Husna. (Jakarta: rajagrafindo  persada, 1997). Hlm, 233
    [3] Al ghozali. Al asma al husna(rahasia nama-nama indah Allah. (Bandung: mizan, 1999). Hlm, 88-89.
    [4] sudirman endim. Keajaiban Asmaul Husna. (Jogjakarta: garailmu, 20009). Hlm, 222
[5] Quraish shihab. Menyingkap Tabir Ilahi. (Jakarta: lentera hati, 2005). Hlm, 328
[6] Ibid. hlm, 328
[7] Ibid. hlm, 330
[8] Ibid. hlm, 329.
[9] Sudirman endim. Keajaiban Asmaul Husna. (Jogjakarta: garailmu, 2009). hlm, 223.