Hari ini adalah hari yang menyenangkan bagiku. Meskipun listrik kontrakan mati gara2 belum bayar listrik, tapi seenggaknya aku tidak was2 tentang uang. Ya kalau untuk bayar listrik ada lah. Cuma tadi gara2 telat membayar akhirnya listrik dipadamkan. Dan hal yang konyol malah sampai dicabut bagian stop kontaknya. PLN memang agak bagaimana gitu.tapi ya udahlah nggak papa yang penting sekarang saya nginep di kontrakan anak-anak granit aja dulu. Toh besok hari libur.
target untuk hari besok aku harus bisa menyelesaikan sampai teori pada tesis aku.Masa sudah berminggu-minggu cuma ngerjain teori aja nggak selesai-selesai. Ya meskipun memang agak sibuk juga sih hehehe. Kerjaan jurnal numpuk banyak belum lagi tambahan melatih beberapa jurnal yang lain aduh agak berat sebenarnya. Tapi ya udahlah dinikmati saja ikhlas. Aku yakin suatu saat nanti ini akan memberi kebaikan.
Untuk trading nya hari ini sudah agak membaik yang kemarin aku sangat kaget sekali. Awal minggu ini sudah minus hampir aku kaget sebenarnya eman-eman uangnya tapi ya udahlah nggak papa aku niatkan uang itu buat belajar trading. Semoga aja telah aku pelajari beberapa kesalahan ku seperti tidak menunggu retreat setelah menembus support resistance minimal 3 hari. Itu pelajaran yang aku miliki dalam hari ini.
Hari ini juga aku membuat google kelas.meskipun belum ketemu bagaimana cara agar bisa memberi notifikasi kepada semua peserta forum. Tapi yang penting kelas sudah terbentuk dan bisa menjadi ruang diskusi akademik yang terbuka semoga...
This is default featured slide 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
01 May 2019
Catatan 1 Mei 2019
23 December 2016
MATERI AQIDAH AKHLAQ DI SEKOLAH DAN MADRASAH
BAGI YANG MAU MATERI-MATERI KULIAH AQIDAH AKHLAQ DI SEKOLAH DAN MADRASAH, MONGGO DOWNLOD DI BAWAH GANN
DOWNLOAD DISINI..
DOWNLOAD DISINI..
AKHLAQ INDIVIDUAL
AKHLAQ
INDIVIDUAL
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah
Aqidah Akhlaq di madrasah dan sekolah

Oleh :
Imron Salim
(13410196)
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SUNAN KALIJAGA
2015
Pengertian Akhlaq Individual
Akhlak secara terminologi berarti tingkah laku seseorang yang
didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik.
Akhlak merupakan bentuk jamak dari kata khuluk, berasal dari
bahasa Arab yang berarti
perangai, tingkah laku, atau tabiat.
Tiga pakar di bidang akhlak yaitu Ibnu Miskawaih, Al Gazali, dan Ahmad Amin menyatakan
bahwa akhlak adalah perangai yang melekat pada diri seseorang yang dapat
memunculkan perbuatan baik tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu.
Akhlaq individual dapat disebut juga akhlaq pribadi karena yang
paling dekat dengan seseorang itu adalah dirinya sendiri, maka hendaknya
seseorang itu menginsyafi dan menyadari dirinya sendiri, karena hanya dengan insyaf dan sadar kepada diri
sendirilah, pangkal kesempurnaan akhlak yang utama, budi yang tinggi. Manusia terdiri dari
jasmani dan rohani, disamping itu manusia telah mempunyai fitrah sendiri,
dengan semuanya itu manusia mempunyai kelebihan dan dimanapun saja manusia
mempunyai perbuatan.[1]
Persepsi masyarakat tentang akhlaq yang baik:
Banyak orang berselisih pendapat untuk
menilai suatu perbuatan, ada yang melihatnya buruk disisi lain ada yang
meliahtnya baik. Berikut adalah beberapa pernyataan dari beberapa sudut pandang
yang yang mengemukaan pendapatnya mengenai akhlak yang baik:
·
Adat Kebiasaan:
Tiap suku atau bangsa memiliki adat
istiadat tertentu yang diwariskan dari nenek moyangnya. Dipandang buruk bagi
orang yang melaksanakannya dan dipandang buruk bagi orang yang meninggalkannya.
Oleh karena itu perbuatan dikatakan baik bila sesuai dengan adat-istiadat.
·
Kebahagiaan (Hedonism):
Dari sudut pandang masyarakat
hedonism tujuan akhir hidup dan kehidupan manusia adalah mencapai kebahagiaan.
Karena itu perbuatan manusia dikatakan baik bila mendatangkan kebahagiaan,
kebahagiaan bagi dirinya sendiri maupun kebahagiaan bersama.
·
Tokoh filosof
Menurut herbert spencer (1820-1903)
salah seorang filsafat inggris mengatakan bahwa perbuatan akhlaq itu tumbuh
secara sederhana, kemudian berangsur meningkat sedikit demi sedikit berjalan
kearah cita-cita yang dianggap sebagai tujuan. Perbuatan itu baik bila dekat
dengan cita-cita itu dan perbuatan itu buruk bila jauh dengan cita-citanya.[2]Cita-cita
menurut paham ini adalah untuk mencapai kesenangan dan kebahagiaan.
Akhlaq individu dalam Islam:
Akhlaq individu masuk pada ruang lingkup hubungan manusia dengan
dirinya sendiri, seperti: menjaga kesucian diri dari sifat rakus dan mengumbar
nafsu, mengembangkan keberanian (syaja’ah) dalam menyanpaikan yang hak,
menyampaikan kebenaran, memberantas kedzaliman, mengembangkan kebijaksanaan dan
memberantas kebodohan dan jumud, bersabar tatkala mendapat musibah dan dalam
kesulitan, bersukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah, rendah hati atau
tawadhu’ dan tidak sombong, menahan diri dari melakukan larangan-larangan Allah
atau iffah, menahan diri dari marah walaupun hati tetap dalam keadaan
marah atau hilmun, memaafkan orang, jujur atau amanah,dan merasa cukup dengan
apa-apa yang diperoleh dengan susah payah atau qana’ah.[3]
Dapat diambil kesimpulan bahwa pokok-pokok Akhlaq (budi pekerti
luhur) itu ada empat, yaitu: hikmah, Syaja’ah, ‘Iffah dan keadilan.
·
Yang dimaksud dengan hikmah adalah:
kemampuan jiwa untuk membedakan yang benar dan yang salah dari segala perbuatan
yang dibawah kekuasaan manusia (ikhtiyariyah).
·
Yang dimaksud keadilan adalah:
kemampuan jiwa untuk mengendalikan daya ghadab dan daya nafsu, serta
mendorongnya kepada tuntunan hikmah dengan membatasi gerak-geriknya.
·
Yang dimaksud Syaja’ah adalah:
keadaan daya ghadab tunduk dan taat kepada akal di dalam semua gerak maju dan mundurnya.
·
Yang dimaksud Iffah adalah keadaan
daya nafsu terpimpin dan terdidik dengan pendidikan pimpinan akal dan agama.
Dengan baik dan sehatnya empat pokok inti lahirlah budi pekrti
luhur lagi mulia. Sebab dengan sehatnya akal akan lahirlahfikiran yang sehat,
pertimbangan yang baik, pandangan yag terang serta dugaan yang tepat, dan dapat
pula menangkap akibat yang kecil-kecil, dan semua perbuatan dan penyakit hati
yang sangat samar.[4]
Ayat yang berhubungan dengan pola ini diantaranya:
(An
Nuur: 30-31)
30. Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah
mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu
adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang
mereka perbuat".
31. Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka
menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan
perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka
menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah Menampakkan perhiasannya
kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau
putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara
laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera
saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang
mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan
(terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan
janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka
sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang
beriman supaya kamu beruntung.
(At
takasur: 1-8)
1. Bermegah-megahan telah melalaikan kamu
2. sampai kamu masuk ke dalam kubur.
3. janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu
itu),
4. dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.
5. janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang
yakin,
6. niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim,
7. dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul
yaqin
8. kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang
kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).
(Al mu’minun, 1-11)
1. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,
2. (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya,
3. dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan
perkataan) yang tiada berguna,
4. dan orang-orang yang menunaikan zakat,
5. dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,
6. kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka
miliki, Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa.
7. Barangsiapa mencari yang di balik itu, Maka mereka Itulah
orang-orang yang melampaui batas.
8. dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya)
dan janjinya.
9. dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya.
10. mereka Itulah orang-orang yang akan mewarisi,
11. (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. mereka kekal di
dalamnya.
(An Nisa, 29-30)
29. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan
harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang
Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh
dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.
30. dan Barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan
aniaya, Maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. yang demikian itu
adalah mudah bagi Allah.
Al mujadalah, 11
11. Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu:
"Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah
akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah
kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang
beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa
derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Luqman 12, 17-19
12. dan Sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman,
Yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. dan Barangsiapa yang bersyukur (kepada
Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan Barangsiapa
yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha
Terpuji".
17. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia)
mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan
bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu
Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
18. dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena
sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
19. dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu.
Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.[5]
Realitas penerapan akhlaq individu
Amar ma’ruf nahi munkar merupakan
suatu hal yang harus ada pada tiap diri seorang muslim sebagaimana hadis:
عَنْ أَبِي سَعِيْد الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ
رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً
فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ
يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ
[رواه مسلم]
Dari Abu Sa’id Al
Khudri radiallahuanhu berkata : Saya mendengar Rasulullah shollallohu ‘alaihi
wa sallam bersabda : Siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan
tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu
maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya
iman.(Riwayat Muslim)
Namun dewasa ini dalam
pengaktualisasiannya banyak yang mengedepankan kekerasan sehingga tidak
memberikan maslahah tetapi menimbulkan mafsadah.
Dalam hal Amar ma’ruf nahi munkar
Rasulullah SAW pernah mencontohkan, bagaimana beramar ma’ruf nahi munkar dengan
lemah lembut serta mengajari orang yang bodoh. Diriwayatkan bahwa seorang
pemuda datang menemui rasulullah SAW, lalu berkata, “wahai rasul izinkanlah
saya berzina” . kemudian orang-orang disekitar rasul merasa marah dengan
berkata “ binasakan saja orang itu”, Rasulpun menyuruh pemuda itu mendekat dan
mendekatlah pemuda itu pada rasul, rasulullah SAW bersabda, “Apakah engkau rela
jika zina itu terjadi pada ibumu atau saudaramu atau bibimu atau kerabatmu yang
lain” maka pemuda itupun menjawab “Tidak, demi Allah, semoga Allah melindungi”.
Rasulpun berkata, “manusia yang lain juga tidak menhendaki pada kerabat
mereka”. Kemudian rasul memegangnya sambil berdo’a, “Ya Allah, ampuni dosanya,
sucikan hatinya dan jagalah kehormatannya.” Kemudian pemuda itu pergi dan sama
sekali tidak menoleh sama sekali.[6]
Pada kisah tersebut dapat kita
ambil ibrah bahwa Rasul SAW dalam menghadapi siapapun lebih mengutamakan
tujuan dakwah yaitu mencapai maslahah bukan mafsadah dengan cara yang lemah
lembut, andaikata pemuda dalam kisah tersebut diperlakukan dengan cara yang
berbeda (keras) mungkin sikap yang dimunculkan akan berbeda dengan apa yang
telah dikisahkan. Dan sesungguhnya tujuan dakwah nabi di dunia adalah untuk
menyempurnakan akhlaq yang mulia sebagai mana sabda beliau:
إِنَّمَا بُعِثْتُ
لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَق
“Sesungguhnya
aku diutus untuk menyempurnakan akhlak-akhlak mulia.” (Shahiih, HR. Ahmad).
Saran:
Segala bentuk akhlaq individu hendaknya mengutamakan
akhlaq dan perangai yang mulia, sehingga dakwah yang dilakukanpun mencerminkan
akhlaq yang mulia, dan tidak ada kekerasan yang mengatasnamakan dakwah.
Dalam mencapai akhlak mulia haruslah memahami empat
inti akhlak sebagaimana yang telah dijelaskan diatas yang dengannya seorang
akan melihat suatu permasalahan lebih bijaksana dan menghasilkan perbuatan yang
mencerminkan akhlak mulia itu sendiri. Setelah merasa memahami empat pokok
akhlak, hendaknya seseorang tidak berhenti dan puas dengan apa yang ia miliki
tetapi selalu berusaha mengaktualisasi akhlaknya.
Akhlaq terpuji bila diusahakan untik dilakukan secara
terus-menurus akan menjadi sebuah kebiasaan dan kebiasaan yang dipertahankan
akan menjadi karakter bagi setiap individu yang bersangkutan.
Maka apabila akhlaq yang terpuji
dirasa susah untuk dilakukan namun kemudian berusaha terus-menerus untuk
melakukannya lama kelamaan akan terbiasa, dan akhirnya akhlak terpuji tersebut
menjadi karakter. Wallahu a’lam bisshawab.
[1]
Wikipedia.org
[2]
Asmaran As. PENGANTAR STUDI AKHLAK. (Jakarta: raja grafindo, 1994). Hlm32.
[3]
Muslim Nurdin. Moral dan Kognisi Islam. (Bandung: Alfabeta, 1993). Hlm 237.
[4]
Imam al Ghazali. Mukhtasar ihya ulumuddin. (Yogyakarta: U.P. Indonesia, 1982).
Hlm 121.
[5]
Ibid. Hlm 122.
[6]
Syaikh Abu Abdurrahman Ridha. Akhlaq ulama salaf dalam bergaul. (Jakarta:
Pustaka Al Kautsar, 2013). Hlm 40.
AL-AKHIR
الأخر
AL-AKHIR
(YANG
MAHA AKHIR)
A.
Pengertian
Al-Akhir
Al-Akhir artinya
yang kekal sendiri sesudah semua yang lainnya musnah. Dia-lah Dzat Yang Maha
Akhir (kekal) setelah semuanya berakhir atau musnah. Dia-lah Dzat Maha Akhir
dan akhirnya tanpa ujung. Segala yang akhir akan mengarah kepada Akhir Nya.
Akhirnya Allah tanpa batas, setelah semua makhluk musnah, Allah tetap ada dan
tidak akan pernah mengalami kemusnahan.[1]
Makna Al-Akhir
adalah Dzat yang tidak ada sesuatu setelahnya. Nama Allah ini menunjukan
keabadian-Nya dan kekekalan-Nya. Dan ini menunjukan bahwa Allah merupakan
tujuan terakhir kita tempat bergantung kita, tempat mencurahkan segala
keresahan, harapan kita, apapun yang kita butuhkan, kepada-Nyalah kita memohon
ampunan serta berserah diri, tiada
tempat bergantung selain kepada-Nya,
Allah kekal
selama-lamanya. Allah tidak bertubuh bukan juga benda, jadi Allah tidak akan
mati dan juga tidak akan hancur. Segala sesuatu akan binasa kecuali Dzat Allah,
sebagaimana firman Allah.
Madzhab Moderat
Al-Akhir
“Dan tetap kekal wajah (zat) Tuhanmu yang mempunyai
Kebesaran dan Kemuliaan. (Ar-Rahman:27)”[2]
Adapun hal-hal abadi lainnya, namun
berupa makhluk, seperti jannah (surga), an-nar (neraka), qalam, dan lain
sebagainya. Namun jelas kekalnya Allah dengan makhluknya tidaklah sama.
Melihatnya Allah dengan melihatnya makhluk tidaklah sama, mendengarnya Allah
dengan mendengarnya makhluk tidaklah sama juga. Dalam Al-Qur’an dijelaskan “Dia)
Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri
pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula),
dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang
serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.(Assyuura ayat
11)”.
Perbedaan kekalnya Allah dan makhluk
(surga dan neraka) yaitu bahwa surga dan neraka memiliki awal/permulaan ada
penciptaanya, segala makhluk yang Allah ciptakan memiliki permulaan sedangkan
Allah tidak. Allah Maha Terdahulu, beda dengan makhluknya. Kekalnya makhluk ciptaan
Allah adalah fana(akan musnah) sesuai dengan ketentuan Allah.
B.
Dalil Mengenai
Asma Allah(Al-Akhir)
Al-Arif
Al-Sya’rani menukil ucapan Qutb Al-Syadzili, katanya: “Allah SWT telah
menghapuskan segala yang lain, dengan firman-Nya:
“ Dia-lah
Yang Awal dan Yang Akhir Yang Dzahir dan Yang Batin, dan Dia Maha Mengetahui
segala sesuatu.” (Q.S. al-hadid (57): 3)
Lalu
dikatakan: “maka kemanakah makhluk?”
Jawab:
“mereka ada, namun keadaan mereka di sisi Allah SWT seperti debu-debu yang
berterbangan di udara, yang Anda lihat naik-turun di dalam cahaya matahari,
yang jika Anda tangkap maka tidak akan Anda lihat lagi, ia ada di dalam
penglihatan, tidak ada di dalam wujud.”[3]
Adapun
dalam hadits Rasulullah Saw bersabda:
“ Ya Allah, Engkaulah Yang
Mahaakhir, yang tidak ada sesuatu setelah-Mu.”
(H.R.
Muslim)
C.
Meneladani sifat
Allah (Al-Akhir)
Berakhlak
dengan meneladani Asma Allah ini menjadikan kita berakhir tetap bergantung
kepada-Nya, sebab hanya Allah yang pantas untuk dijadikan tempat bersandar.
Dengan bersandar kepada-Nya menjadikan hati tidak khawatir karena Dia akan
memberi setiap yang dibutuhkan hamba-Nya.[4]
Dengan meneladani sifat Allah ini kita diajarkan untuk selalu berserah diri
pada Allah, selalu ingat bahwa apa yang ada di dunia ini akan musnah, tertanam dalam diri kita bahwa kita akan
kembali kepada-Nya, karena tidak ada makhluk yang kekal. Dengan itu kita
dianjurkan untuk mempersiapkan diri kita untk menghadap-Nya. Perbanyak
amalan-amalan, jauhi hal yang dilarang-Nya, patuhi perintah-Nya.
Dalam Al-Qur’an kata “Akhir”
ditemukan berkali-kali namun hanya sekali sifat tersebut “al-Akhir” yang
menunjuk kepada Allah, yaitu yang dihiasi pada awalnya dengan huruf Alif dan
Laam. Kata Al-Akhir ini berurutan dengan Al-Awwal. Yaitu terdapat dalam Q.s
Al-Hadid sebagaimana di tuliskan di atas. Adapun berikut ini contoh ayat yang
mengenai hari akhir atau kiamat.
“ Mereka beriman kepada Allah dan
Hari akhir, menyuruh berbuat yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar dan
bersegera (mengerjakan) berbagai kebajikan. Mereka termasuk orang-orang
shaleh.” (Q.s. Ali Imran:114)
Kata “Akhir” terulang sebanyak 28
kali, 27 diantaranya tanpa dihiasi oleh alif dan laam hanya sekali yang
dikaitkan dengan doa yakni Akhir da’wahum (akhir do’a mereka) terdapat dalam
(Q.S. yunus: 10), 26 sisanya menunjuk kepada hari akhir atau kiamat. [5]
“
Doa mereka di dalamnya adalah, “
subhaanaka allahumma” (Maha Suci Engkau, Ya Tuhan kani), dan salam
penghormatan mereka adalah “Alhamdulillahirabbil
‘alamin”, (segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam)”
Imam Ghazali menjelaskan bahwa yang
“Akhir” menjadi akhir saat dibandingkan dengan selainnya. Sayyidina Ali pernah
melukiskan makna sifat Al-Awwal dan Al-Akhir, yaitu bahwa, “ Dia Yang Awwal
yang bagi-Nya tiada “sebelum”, sehingga mustahil ada sesuatu yang sebelum-Nya.
Dia Yang Akhir yang bagi-Nya tiada
“sesudah” sehingga mustahil ada sesuatu sesudah-Nya. Dia tidak berada di satu
tempat ke tempat yang lain”.[6]
Dalam
meneladani sifat Allah yang ini (Al-Akhir) alangkah lebih baik jika kita juga
meneladani sifat Allah Al-Awwal (Yang Maha Awal), karena dalam Al-Qur’anpun
kata Al-Akhir berdampingan dengan Al-Awwal.. Dan cukup kiranya
bagi yang meneladani Allah dalam sifat Al-Awwal dan Al-Akhir untuk
memperhatikan, menghayati pesan-pesan
Allah yang menggunakan kata Awwal, serta penekanan Allah ketika menggunakan
kata “Akhir”.
Nabi
Saw berdo’a:
اَلَّلهُمَّ
اَنْتَ الْاَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَىْءٌ وَ اَنْتَ الآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ
شَىْءٌ وَ اَنْتَ الظَاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَىْءٌ وَاَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ
دُوْنَكَ شَىْءٌ اِقْضِ عَنَّا الدَيْنَ وَاغْنِنَا مِنَاالْفَقْرِ .وَصَلىَ للهُ
عَلَىى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى الِه وَصَحْبِه وسَلَّمَ.
“Ya Allah Engkau adalah yang Awal,
maka tiada sesuatu sebelum-Mu. Engkau adalah Yang Akhir, maka tiada sesuatu
sesudah-Mu. Engkau adalah Yang Dhahir, maka tiada sesuatu di atas-Mu. Engkau
adalah Yang Bathin maka tiada sesuatu di bawah-Mu. Ya Allah lunasi hutang kami
dan hindarkan kami dari kekafiran. Wa Shalallahu ‘Ala Sayyidina Muhammad Wa
‘Ala Alihi Wa sahbihi Wa sallam”[7]
Pertama yang dituntut dari yang
meneladani-Nya adalah percaya sepenuhnya bahwa Allah Maha Esa. Dan sekali-kali
tidak menjadi kafir terhadap-Nya, tidak mempersekutukan-Nya, tidak pula
membenarkan keyakinan yang menyatakan Dia beranak atau diperanakan. Ini bukan
karena enggan mengakui adanya anak bagi Tuhan seandainya memang benar ada,
karena Allah sendiri yang memerintahkan “katakanlah, jika benar Tuhan Yang Maha
Pemurah mempunyai anak, maka akulah orang pertama yang beribadah kepadanya
(memuliakan anak itu)” (Q.s Az-zhruf: 81). [8]
D.
Khasiat dari mengamalkan
Asma Allah (Al-Akhir)
1.
Barang siapa
yang ingin agar cintanya kepada Allah tertanam kuat dalam hatinya, cinta kepada
selain Allah hilang dari hatinya, dosa-dosanya diampuni, dan mati dalam keadaan
beriman, hendaknya membaca Asma Allah ini 1.000 kali setiap hari.
2.
Orang beriman
yang membaca Asma Allah ini sebanyak 100 kali sehari, insyaallah akan berhenti
membodohi diri sendiri dan segera bisa melihat kebenaran. Akan keluar dari
dalam dirinya segala yang lain selain Allah.
3.
Bagi hamba Allah
yang membaca Asma Allah ini dengan istiqamah sebanyak 900 kali setiap selesai
shalat fardhu atau sunnah, insyaallah dianugerahi kekuatan dari segala sesuatu
yang akan menghalangi dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah.[9]
E.
Implikasinya
Kita sebagai seorang muslim tentunya sudah
mengetahui bahwa semua makhluk yang ada di dunia ini tidak ada yang abadi,
pasti kembali kepada-Nya. Hanya Allah lah Yang Maha Akhir, tiada sesuatu
setelah-Nya. dari meneladani sifat Allah “Al-Akhir” ini dapat melahirkan manusia
yang bertaqwa. Untuk itu sebelum kita menutup usia, sebelum rambut tak hitam
lagi, sebelum raga tak lagi dapat berdiri kokoh. Alangkah indahnya bila kita
memulai untuk membuat pundi-pundi tabungan untuk akhirat kelak, kita tahu bahwa
hidup yang sesungguhnya adalah di akhirat kelak, dunia ini tidaklah kekal. Kita
mulai mempersiapkan itu sejak usia muda. Kita berusaha untuk meneladani sifat
Allah Al-Akhir, kita coba amalkan untuk melafalkan Asma Allah ini dalam
kehidupan sehari-hari kita. Dengan mengimani Allah SWT melalui Asma Allah
“Al-Akhir” kita dapat menjadi pribadi yang senantiasa selalu bertaqwa kepada
Allah. Karena dengan kita mengimaninya kita dapat selalu teringat bahwa kita
tidaklah kekal, dengan itu kita akan termotasi untuk selalu melakukan perbuatan
baik, melaksanakan segala perintah Allah terutama yang wajib seperti shalat
lima waktu, puasa, zakat. Juga meninggalkan dan menjauhi larangan Allah seperti
mencuri, minum minuman keras dll. Agar kelak kita bahagia dunia akhirat.
Adapun dalam islam, ada 4 kewajiban muslim kepada
jenazah yaitu: memandikan, mengkafani, menshalati, menguburkan. Nah, hal-hal
tersebut yang biasa kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari merupakan salah
satu cara kita agar selalu mengingat bahwa kita tidaklah kekal akan kembali
kepada-Nya. Dengan kita tersadar akan hal tersebut, kita sudah semestinya
tergugah/termotivasi untuk selalu mempersiapkan bekal untuk akhirat nanti,
tidak hanya memikirkan soal dunia saja.
Secara psikologis pada umumnya pada
usia lanjut manusia lebih memikirkan persoalan akhirat. Mulai memikirkan nilai
spiritual yang tinggi. Kita banyak melihat para ibu-ibu banyak sekali yang
mengikuti pengajian harian maupun mingguan. Pada usia lanjut, mereka lebih
banyak melaksanakan ibadah, memperbanyak amal shaleh. Namun, kita ketahui juga
di zaman sekarang ini para pemuda bahkan anak SD pun sudah terlalu jauh
terhanyut dalam kepuasaan dunia dan terlena mengejar duniawi saja. Asyik dengan
mainan gedgetnya, dan sebagainya, hingga melupakan kewajiban yang sudah
seharusnya dilaksanakan. Anak-anak kurang dibimbing dari usia dini untuk memulai
berlomba-lomba dalam kebaikan. Khususnya dalam ibadah, missal mulai diajarkan
untuk shalat berjamaah, belajar puasa, belajar membayar zakat, dll. Hanya pada
sekolah-sekolah tertentu saja yang menanamkan hal tersebut. Dalam hal ini orang
tua juga berperan penting dalam mengembangkan tingkat spiritual anak.
Oleh sebab itu, kita sebagai calon
pendidik sudah seharusnya mengajarkan dan membimbing anak-anak murid kita
maupun anak kita untuk terus berbuat baik dan selalu melaksanakan perintah
Allah juga menjauhi hal-hal yang dilarang-Nya. Dan tidak lupa kita untuk selalu
memberikan contoh, menjadi panutan bagi anak didik kita. Agar mereka terbiasa
melaksanakan perintah Allah hingga dewasa dan lansia nanti. Agar memliki bekal
yang banyak untuk menghadap Sang Ilahi.
Daftar Pustaka
Al
ghozali. 1999. Al asma al husna(rahasia nama-nama indah Allah). Bandung: mizan.
Endim,
sudirman. 2009.Keajaiban Asmaul Husna. Jogjakarta: garailmu.
Hasan,
M. Ali. 1997. Memahami dan Meneladani Asmaul Husna. Jakarta: rajagrafindo persada.
Shihab,
Quraish. 2005. Menyingkap Tabir Ilahi. Jakarta: lentera hati








