Header Ads

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

01 May 2019

Catatan 1 Mei 2019

Hari ini adalah hari yang menyenangkan bagiku. Meskipun listrik kontrakan mati gara2 belum bayar listrik, tapi seenggaknya aku tidak was2 tentang uang. Ya kalau untuk bayar listrik ada lah. Cuma tadi gara2 telat membayar akhirnya listrik dipadamkan. Dan hal yang konyol malah sampai dicabut bagian stop kontaknya. PLN memang agak bagaimana gitu.tapi ya udahlah nggak papa yang penting sekarang saya nginep di kontrakan anak-anak granit aja dulu. Toh besok hari libur.
target untuk hari besok aku harus bisa menyelesaikan sampai teori pada tesis aku.Masa sudah berminggu-minggu cuma ngerjain teori aja nggak selesai-selesai. Ya meskipun memang agak sibuk juga sih hehehe. Kerjaan jurnal numpuk banyak belum lagi tambahan melatih beberapa jurnal yang lain aduh agak berat sebenarnya. Tapi ya udahlah dinikmati saja ikhlas. Aku yakin suatu saat nanti ini akan memberi kebaikan.
Untuk trading nya hari ini sudah agak membaik yang kemarin aku sangat kaget sekali. Awal minggu ini sudah minus hampir aku kaget sebenarnya eman-eman uangnya tapi ya udahlah nggak papa aku niatkan uang itu buat belajar trading. Semoga aja telah aku pelajari beberapa kesalahan ku seperti tidak menunggu retreat setelah menembus support resistance minimal 3 hari. Itu pelajaran yang aku miliki dalam hari ini.
Hari ini juga aku membuat google kelas.meskipun belum ketemu bagaimana cara agar bisa memberi notifikasi kepada semua peserta forum. Tapi yang penting kelas sudah terbentuk dan bisa menjadi ruang diskusi akademik yang terbuka semoga...

23 December 2016

MATERI AQIDAH AKHLAQ DI SEKOLAH DAN MADRASAH

BAGI YANG MAU MATERI-MATERI KULIAH AQIDAH AKHLAQ DI SEKOLAH DAN MADRASAH, MONGGO DOWNLOD  DI BAWAH GANN



DOWNLOAD DISINI..

AKHLAQ INDIVIDUAL

AKHLAQ INDIVIDUAL


Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah
Aqidah Akhlaq di madrasah dan sekolah


index.jpg



Oleh :
Imron Salim
(13410196)


PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SUNAN KALIJAGA
2015
Pengertian Akhlaq Individual
Akhlak secara terminologi berarti tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik.
Akhlak merupakan bentuk jamak dari kata khuluk, berasal dari bahasa Arab yang berarti perangai, tingkah laku, atau tabiat.
Tiga pakar di bidang akhlak yaitu Ibnu Miskawaih, Al Gazali, dan Ahmad Amin menyatakan bahwa akhlak adalah perangai yang melekat pada diri seseorang yang dapat memunculkan perbuatan baik tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu.
Akhlaq individual dapat disebut juga akhlaq pribadi karena yang paling dekat dengan seseorang itu adalah dirinya sendiri, maka hendaknya seseorang itu menginsyafi dan menyadari dirinya sendiri, karena hanya dengan insyaf dan sadar kepada diri sendirilah, pangkal kesempurnaan akhlak yang utama, budi yang tinggi. Manusia terdiri dari jasmani dan rohani, disamping itu manusia telah mempunyai fitrah sendiri, dengan semuanya itu manusia mempunyai kelebihan dan dimanapun saja manusia mempunyai perbuatan.[1]

Persepsi masyarakat tentang akhlaq yang baik:
Banyak orang berselisih pendapat untuk menilai suatu perbuatan, ada yang melihatnya buruk disisi lain ada yang meliahtnya baik. Berikut adalah beberapa pernyataan dari beberapa sudut pandang yang yang mengemukaan pendapatnya mengenai akhlak yang baik:
·         Adat Kebiasaan:
Tiap suku atau bangsa memiliki adat istiadat tertentu yang diwariskan dari nenek moyangnya. Dipandang buruk bagi orang yang melaksanakannya dan dipandang buruk bagi orang yang meninggalkannya. Oleh karena itu perbuatan dikatakan baik bila sesuai dengan adat-istiadat.
·         Kebahagiaan (Hedonism):
Dari sudut pandang masyarakat hedonism tujuan akhir hidup dan kehidupan manusia adalah mencapai kebahagiaan. Karena itu perbuatan manusia dikatakan baik bila mendatangkan kebahagiaan, kebahagiaan bagi dirinya sendiri maupun kebahagiaan bersama.
·         Tokoh filosof
Menurut herbert spencer (1820-1903) salah seorang filsafat inggris mengatakan bahwa perbuatan akhlaq itu tumbuh secara sederhana, kemudian berangsur meningkat sedikit demi sedikit berjalan kearah cita-cita yang dianggap sebagai tujuan. Perbuatan itu baik bila dekat dengan cita-cita itu dan perbuatan itu buruk bila jauh dengan cita-citanya.[2]Cita-cita menurut paham ini adalah untuk mencapai kesenangan dan kebahagiaan.
Akhlaq individu dalam Islam:
Akhlaq individu masuk pada ruang lingkup hubungan manusia dengan dirinya sendiri, seperti: menjaga kesucian diri dari sifat rakus dan mengumbar nafsu, mengembangkan keberanian (syaja’ah) dalam menyanpaikan yang hak, menyampaikan kebenaran, memberantas kedzaliman, mengembangkan kebijaksanaan dan memberantas kebodohan dan jumud, bersabar tatkala mendapat musibah dan dalam kesulitan, bersukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah, rendah hati atau tawadhu’ dan tidak sombong, menahan diri dari melakukan larangan-larangan Allah atau iffah, menahan diri dari marah walaupun hati tetap dalam keadaan marah atau hilmun, memaafkan orang, jujur atau amanah,dan merasa cukup dengan apa-apa yang diperoleh dengan susah payah atau qana’ah.[3]
Dapat diambil kesimpulan bahwa pokok-pokok Akhlaq (budi pekerti luhur) itu ada empat, yaitu: hikmah, Syaja’ah, ‘Iffah dan keadilan.
·         Yang dimaksud dengan hikmah adalah: kemampuan jiwa untuk membedakan yang benar dan yang salah dari segala perbuatan yang dibawah kekuasaan manusia (ikhtiyariyah).
·         Yang dimaksud keadilan adalah: kemampuan jiwa untuk mengendalikan daya ghadab dan daya nafsu, serta mendorongnya kepada tuntunan hikmah dengan membatasi gerak-geriknya.
·         Yang dimaksud Syaja’ah adalah: keadaan daya ghadab tunduk dan taat kepada akal di dalam semua gerak maju  dan mundurnya.
·         Yang dimaksud Iffah adalah keadaan daya nafsu terpimpin dan terdidik dengan pendidikan pimpinan akal dan agama.
Dengan baik dan sehatnya empat pokok inti lahirlah budi pekrti luhur lagi mulia. Sebab dengan sehatnya akal akan lahirlahfikiran yang sehat, pertimbangan yang baik, pandangan yag terang serta dugaan yang tepat, dan dapat pula menangkap akibat yang kecil-kecil, dan semua perbuatan dan penyakit hati yang sangat samar.[4]
Ayat yang berhubungan dengan pola ini diantaranya:
   (An Nuur: 30-31)
30. Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat".
31. Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah Menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

   (At takasur: 1-8)
1. Bermegah-megahan telah melalaikan kamu
2. sampai kamu masuk ke dalam kubur.
3. janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),
4. dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.
5. janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin,
6. niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim,
7. dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin
8. kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).

(Al mu’minun, 1-11)
1. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,
2. (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya,
3. dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,
4. dan orang-orang yang menunaikan zakat,
5. dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,
6. kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa.
7. Barangsiapa mencari yang di balik itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas.
8. dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.
9. dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya.
10. mereka Itulah orang-orang yang akan mewarisi,
11. (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. mereka kekal di dalamnya.
 (An Nisa, 29-30)
29. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.
30. dan Barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, Maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
Al mujadalah, 11
11. Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Luqman 12, 17-19
12. dan Sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, Yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. dan Barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan Barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".

17. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
18. dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
19. dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.[5]

Realitas penerapan akhlaq individu
Amar ma’ruf nahi munkar merupakan suatu hal yang harus ada pada tiap diri seorang muslim sebagaimana hadis:
عَنْ أَبِي سَعِيْد الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ
[رواه مسلم]
Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata : Saya mendengar Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : Siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman.(Riwayat Muslim)
Namun dewasa ini dalam pengaktualisasiannya banyak yang mengedepankan kekerasan sehingga tidak memberikan maslahah tetapi menimbulkan mafsadah.
Dalam hal Amar ma’ruf nahi munkar Rasulullah SAW pernah mencontohkan, bagaimana beramar ma’ruf nahi munkar dengan lemah lembut serta mengajari orang yang bodoh. Diriwayatkan bahwa seorang pemuda datang menemui rasulullah SAW, lalu berkata, “wahai rasul izinkanlah saya berzina” . kemudian orang-orang disekitar rasul merasa marah dengan berkata “ binasakan saja orang itu”, Rasulpun menyuruh pemuda itu mendekat dan mendekatlah pemuda itu pada rasul, rasulullah SAW bersabda, “Apakah engkau rela jika zina itu terjadi pada ibumu atau saudaramu atau bibimu atau kerabatmu yang lain” maka pemuda itupun menjawab “Tidak, demi Allah, semoga Allah melindungi”. Rasulpun berkata, “manusia yang lain juga tidak menhendaki pada kerabat mereka”. Kemudian rasul memegangnya sambil berdo’a, “Ya Allah, ampuni dosanya, sucikan hatinya dan jagalah kehormatannya.” Kemudian pemuda itu pergi dan sama sekali tidak menoleh sama sekali.[6]
Pada kisah tersebut dapat kita ambil ibrah bahwa Rasul SAW dalam menghadapi siapapun lebih mengutamakan tujuan dakwah yaitu mencapai maslahah bukan mafsadah dengan cara yang lemah lembut, andaikata pemuda dalam kisah tersebut diperlakukan dengan cara yang berbeda (keras) mungkin sikap yang dimunculkan akan berbeda dengan apa yang telah dikisahkan. Dan sesungguhnya tujuan dakwah nabi di dunia adalah untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia sebagai mana sabda beliau:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَق
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak-akhlak mulia.”  (Shahiih, HR. Ahmad).

Saran:
Segala bentuk akhlaq individu hendaknya mengutamakan akhlaq dan perangai yang mulia, sehingga dakwah yang dilakukanpun mencerminkan akhlaq yang mulia, dan tidak ada kekerasan yang mengatasnamakan dakwah.
Dalam mencapai akhlak mulia haruslah memahami empat inti akhlak sebagaimana yang telah dijelaskan diatas yang dengannya seorang akan melihat suatu permasalahan lebih bijaksana dan menghasilkan perbuatan yang mencerminkan akhlak mulia itu sendiri. Setelah merasa memahami empat pokok akhlak, hendaknya seseorang tidak berhenti dan puas dengan apa yang ia miliki tetapi selalu berusaha mengaktualisasi akhlaknya.
Akhlaq terpuji bila diusahakan untik dilakukan secara terus-menurus akan menjadi sebuah kebiasaan dan kebiasaan yang dipertahankan akan menjadi karakter bagi setiap individu yang bersangkutan.
Maka apabila akhlaq yang terpuji dirasa susah untuk dilakukan namun kemudian berusaha terus-menerus untuk melakukannya lama kelamaan akan terbiasa, dan akhirnya akhlak terpuji tersebut menjadi karakter. Wallahu a’lam bisshawab.



[1] Wikipedia.org
[2] Asmaran As. PENGANTAR STUDI AKHLAK. (Jakarta: raja grafindo, 1994). Hlm32.
[3] Muslim Nurdin. Moral dan Kognisi Islam. (Bandung: Alfabeta, 1993). Hlm 237.
[4] Imam al Ghazali. Mukhtasar ihya ulumuddin. (Yogyakarta: U.P. Indonesia, 1982). Hlm 121.
[5] Ibid. Hlm 122.
[6] Syaikh Abu Abdurrahman Ridha. Akhlaq ulama salaf dalam bergaul. (Jakarta: Pustaka Al Kautsar, 2013). Hlm 40.

“AKHLAK TERPUJI DAN AKHLAK TERCELA”

“AKHLAK TERPUJI DAN AKHLAK TERCELA”
Makalah Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Aqidah Akhlak di Sekolah dan Madrasah
Dosen Pembimbing : Sangkot Sirait

Madzhab Moderat
Akhlak Terpuji dan Akhlak Tercela
Cover netral untuk pembahasan akhlak agar artikel tidak lagi menampilkan placeholder gambar rusak.
 Oleh :
Nama     : Rani Ulfah Sofiyana          
NIM      : 13410182



PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
2014/2015



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Akhlak adalah suatu perangai atau sifat dari manusia yang timbul karena adanya kebiasaan atau sesuatu yang dikerjakan tanpa sengaja secara terus menerus dari berulang-ulang yang menimbulkan perbuatan tertentu. Karena pentingnya berakhlak, islam pun turut menyorotinya. Pemahaman tentng akhlak itu sendiripun menjadi semakin bermacam-macam. Beberapa orang mengatakan, bahwa seseorang dikatakan berakhlak, jika orang tersebut mengerti benar tentang segala sesuatu tindakan dan perbuatannya yang kemudian semata-mata ditujukan karena  mengharap ridho Allah SWT.
Mengingat bahwa akhlak sendiri merupakan masalah yang sangat penting dalam islam, muncul pendapat lain yang mengatakan bahwa seeseorang dapat dikatakan  berakhlak ketika dia menerapkan nilai-nilai dalam sistem aktivitas hidupnya. Jika aktivitas itu terus dilakukan berulang-ulang dengan kesadaran hati maka akan menghasilkan kebiasaan hidup yang baik. Selain itu, akhlak juga merupakan perpaduan antara hati, pikiran, perasaan kebiasaan yang membentuk  satu kesatuan tindakan dalam kehidupan. Sehingga kita dapat membedakan antara yang baik dan tidak baik yang semua hal tersebut timbul dari fitroh kita sebagai manusia. Bahwa yang sebenarnya hati manusia merindukan dan mendambakan kebenaran dan ajaran Allah SWT. Namun pada kenyataannya, fitrah manusia tidak selalu terjamin dapat berfungsi dengan baik karena pengaruh dari luar sehingga menyebabkan manusia sulit membedakan mana akhlak yang terpuji dan akhlak yang tercela. Dari beberapa uraian mengengenai akhlak diatas, pada makalah ini akan lebih disajikan mengenai pengertian akhlak, pembagian akhlak yang meliputi akhlak terpuji dan akhlak tercela serta impikasi kedua akhlak tersebut bagi individu sendiri ataupun sosial.

B.     Rumusan masalah
1.      Apakah yang dimaksud dengan akhlak?
2.      Apa saja macam-macam akhlak, pembagian beserta contohnya?
3.      Bagaimana implikasi akhlak terpuji dan tercela?
C.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian akhlak
2.      Untuk mengetahui macam-macam akhlah, pembagian beserta contohnya
3.      Untuk mengetahui implikasi akhak terpuji dan tercela bagi individu dan sosial




BAB II
PEMBAHASAN
1.      Pengertian Akhlak
Secara etimologis (lughatan)  اخلاق (akhlak) adalah bentuk jamak dari خلق  (khuluq) yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku, atau tabiat.
Berakar dari kata (khalaqa) خلق yangberarti menciptakan. Seakar dengan kata خالق (khaliq) yang berarti pencipta, makhluq مخلق yang berarti diciptakan dan (khalq) خلق yang berarti penciptaan.[1]
Sementara secara terminologis, ada beberapa definisi tentang akhlak:
a.       Menurut Imam Ghazali, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa melakukan pemikiran dan pertimbangan
b.      Menurut Ibrahim Anis, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengannya lahirlah macam-macam perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan
c.       Menurut Abdul Karim Zaidan, akhlaq adalah nilai-nilai dan sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengan sorotan dan pertimbangannya seseorang dapat menilai baik atau buruk, untuk kemudian memilih melakukan atau meninggalkannya[2]

Jadi berdasarkan pendapat-pendapat diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia, tanpa melakukan pertimbangan baik ataupun buruk yang menimbulkan perbuatan-perbuatan tertentu.

2.      Macam-Macam Akhlak
1)      Akhlak Terpuji (Mahmudah)
Menurut Al- ghazali, berakhlak mulia atau terpuji artinya menghilangkan semua adat kebiasaan yang tercela yang sudah digariskan dalam agama islam serta menjauhkan  diri dari perbuatan tercela tersebut, kemudian membiasakan adat kebiasaan yang baik, melakukannya, kemudian mencintainya.[3]
Kemudian, menurut Hamka, ada beberapa hal yang mendorong seseorang berbuat baik, diantaranya :
·         Karena bujukan atau ancaman dari manusia lain
·         Mengharap pujian, atau karena takut dicela
·         Karna kebaikan dirinya sendiri (dorongan hati nurani)
·         Mengharap pahala dan syurga
·         Mengharap pujian dan takut adzab Tuhan
·         Mengharap keridhaan Allah semata[4]

Selain itu, disebutkan pula mengenai keutamaan akhlak terpuji disebutkan berdasarkan hadis yang diriwayatkan Abu Dzar dari Nabi Muhammad SAW yang artinya:
“ wahai abu dzar! Maukah aku tunjukkan 2 hal yang sangat ringan dipunggung, tetapi sangat berat di timbangan (pada hari kiamat kelak)?
Abu Dzar menjawab, hendaklah kamu  melakukan akhlak terpuji dan banyak diam. Demi Allah tanganku berada digenggamannya, tidak ada makhluk lain yang dapat bersolek dengan 2 hal tersebut”. (H.R Al-Baihaqi)

a)      Pembagian akhlak terpuji :
Dalam buku Aqidah Akhlaq karya Prof. Dr. H. Abdul Rozak, M.Ag menyebutkan bahwa akhlak terpuji dibagi menjadi :
(1)   Akhlak yang Berhubungan dengan Allah:
(a)    Menauhidkan Allah
Yaitu mempertegas ke-Esaan Allah, atau mengakui bahwa tidak ada tuhan sesuatupun yang setara dengan dzat, sifat, af’al, dan    asma Allah. Sesungguhnya kaidah islam yang paling agung dan hakikat islam yang paling besar satu-satunya yang diterima dan diri Allah swt. Untuk hamba-hambanya, yang merupakan satu-satunya jalan menuju kepadanya, kunci kebahagiaan dan jalan hidayah, tanda kesuksesan dan pemelihara dari berbagai perselisihan, sumber semua kebaikan dan nikmat, kewajiban pertama bagi seluruh hamba, serta kabar gembira yang dibawa oleh para rasul dan para nabi adalah ibadah hanya kepada Allah SWT. Semata-mata tidak menyekutukannya.
Bertauhid dalam semua keinginannya terhadap allah swt, bertauhid dalam urusan penciptaan, perintahnya, dan seluruh asma (nama-nama) dan sifatnya allah swt berfirman : (QS An Nahl: 36)
36. Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut[826] itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya[826]. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).

(b)   Takwa kepada Allah
Taqwa berasal dari kata waqa-yaqi-waqiyah yang artinay memelihara, yakni menjaga diri agar selamat dunia dan akhirat. Sementara, menurut istilah taqwa berarti memelihara diri dari siksaan Allah SWT yaitu dengan mengikuti segala perintahNYA dan menjauhi segala larangan -laranganNYA
Ketakwaan mempunyai 2 sisi, yaitu sisi duniawi yang memperhatikan dan menyesuaikan diri dengan hukum-hukum alam yang telah ditetapkan. Dan sisi ukhrawi yang memperhatikan dan melaksanakan hukum-hukum syariat.
(c)    Dzikrulloh
Allah berfirman:
(QS Al-baqarah 152)
152. Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu[98], dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.
(QS Ar Rad 28)
28. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
d)  Tawakal
Adalah kesungguhan hati dalam bersandar kepada allah swt, untuk mendapatkan kemaslahatan serta mencegah kemudharatan, baik menyangkut urusan dunia, maupun urusan akhirat.allah berfirman
(QS Ali Imran 159)
159. Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu[246]. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

(2)   Akhlak Diri Sendiri:
(a)    Sabar
Ø  Sabar karena taat kepada allah Artinya sabar untuk tetap melaksanakan perintah allah dan menjauhi segala larangannya dengan senantiasa meningkatkan ketekwaan kepadanya. (QS Ali Imran 200)
200. Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.
Ø  Sabar karena maksiat Artinya bersabar diri untuk tidak melakukana perbuatan yang dilarang agama (QS Yusuf 53)
Ø Sabar karena musibah Artinya sabar pada saat ditimpa kemalangan, ujian, serta cobaan dari allah (QS Al Baqarah 155-157)
155. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
156. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun"[101].
157. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.
(b)   Syukur
Merupakan sikap dimana seseorang tidak menggunakan nikmat yang diberikan oleh allah untuk melakukan maksiat kepadanaya. Bentuk syukur ini ditandai dengan menggunakan nikmat atau rezeki karunia allah tersebuat untuk meleakukan ketaatan kpadanaya dan memanfaatkan nya  ke arah kebajikan bukan menyalurkannya ke jalan maksiat atau kejahatan.
(c)      Amanah
Amanah menurut arti bahasa artinya ketulusanhati, kepercayaan, (tsiqah), atau kejujuran. Yaitu sikap pribadi yang setia, tulus hati, dan jujur dalam melaksanakan sesuatu yang dipercayakan kepadanya, berupa harta benda, rahaisa,tugas, maupun kewajiban.
(d)   Benar (ash-shidqu)
 Berarti benar, jujur. Maksudnya adalah berlaku benar dan jujur, baik dalam perkataan maupun dalam perbuatan.
Ø  Benar dalam perkataan ialah mengatakan keadaan yang sebenarnya, tidak mengada-ada dan tidak pula menyembunyikannya
Ø  Benar dalam perbuatan ialah menhgerjakan sesuatu amal sesuai dengan petunjuk agama
(e)    Menepati janji (al-wafa)
(f)    Memelihara kesucian diri (al iffah)
Adalah menjaga diri dari segala tuduhan, fitnah, dan memelihara kehormatan akhlak trhadap keluarga
Ø  Berbakti kepada orangtua
Ø  Baik kepada saudara

(3)   Akhlak Terhadap Masyarakat
(a)    Berbuat baik kepada tetangganya
(b)   Suka menolong orang lain

(4)   Akhlak Terhadap Alam
(a)    Memelihara dan menyayangi tumbuh-tumbuhan
(b)   Memelihara dan menyantuni binatang[5]

b)      Cara melakukan akhlak terpuji
(1)    lahiriyah :
(a)    Pendidikan
(b)   Mentati dan mengikuti peraturan yang berlaku
(c)    Kebiasaan
(d)   Memilih pergaulan yang baik
(e)    Melalui perjuangan dan usaha
(2)   Batiniah
(a)    Muhsabah
yaitu selalu menghitung perbuatan-perbuaatan yang telah dilaksanakannya selama ini baik perbuatan baik atau buruk beserta akibat yang ditimbulkannya
(b)   Mu’aqobah
yaitu memberikan hukuman terhadap berbagai perbuatan dan tindakan yang telah dilakukannya
(c)    Mu’ahadah
yaitu perjanjian dengan hati nurani (batin), untuk tidak mengulangi kesalahan dan keburukan tindakan yang dilakukan, serta menggantinya dengan perbuatan-perbuatan baik.
(d)   Mujahadah
yaitu berusaha maksimal untuk melakukan perbuatan yang baik  untuk mencapai derajat ihsan, sehingga mampu mendekatkan diri pada Allah SWT.[6]

2)      Akhlak Tercela
Yaitu tingkah laku yang tercela yang dapat merusak keimanan seseorang dan menjatuhkan martabatnya sebagai manusia.
a)      Syirik
Syirik ialah menjadikan sekutu bagi Allah dalam melakukan suatu perbuatan yang seharusnya perbuatan itu ditujukan kepada Allah (hak Allah), seperti menjadikan tuhan-tuhan lain bersama Allah, menyembahnya, menaatinya, meminta pertolongan kepadanya, mencintai atau melakukan perbuatan-perbuatan seperti itu.
b)      Kufur
Kufur secara bahasa berarti menutupi. Kufur merupakan kata sifat dari kafir. Sementara menurut syara’ kufur adalah tidak beriman kepada allah dan rasul nya, baik dengan memdustakannya atau tidak mendustakannya
Ada 2 jenis kufur, yaitu kufur besar dan kufur kecil.
(1)   Kufur besar
Ø  Kufur karena mendustakan
Ø  Kufur karena enggan dan sombong, padahal membenarkan
Ø  Kufur karena ragu
Ø  Kufur karena berpaling
Ø  Kufur karena nifaq
c)      Nifaq dan Fasiq
Secara bahasa Nifaq berarti lubang keluarnya yarbu, (binatang sejenis tikus) dari sarangnya dan dapat berarti pula lubang bawah tanah
Sementara menurut syara, nifaq menanpakkan islam dan kebaikan, tetapi menyembunyikan kekufuran dan kejahatan. Dengan kata lain, nifaq adalah menampakkan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang terkanung didalam hati. Nifaq terbagi menjadi 2, nifaq i’tiqadiy dan nifaq amaliy
Nifaq i’tiqadiy adalah nifaq besar. Yaitu pelaku tersebut menampakkan keislaman, tetapi  dalam hatinyatersimpan kekufuran dan kebencian terhadap islam. Jenis nifaq ini menyebabkan pelakunya murtad, keluar agama, dan di akhirat kelak akan berada di kerak neraka. Nifaq jenis ini ada 4 macam yaitu :
1.      Mendustakan Rasululloh SAW ataupun mendustakan dari sebagian apa yang beliau bawa
2.      Membenci Rasululloh SAW dan membenci apa yang sebagian beliau bawa
3.      Merasa gembira dengan kemunduran Rasululloh SAW
4.      Tidak senang dengan kemenangan agama Rasululloah SAW

Sementara Nifaq amaliy adalah melakukan sesuatu yang merupakan perbuatan orang munafik, tetapi masih adalam iman dalam hati.
(1)   Bahaya sifat nifaq :
Ø  Menimbulkan kerusakan dibumi
Ø  Tersebarnya fitnah
Ø  Perpecahan umat islam, dan lain sebagainya

d)   Ujub dan Takabur
Secara etimologi, ujub berasal dari ajiba ya’jibu, ‘ujban, yang artinya heran ( takjub). Munculnya sifat ujub diawali dari rasa heran terhadap dirinya sendiri karena melihat dirinya lebih hebat dan istimew dari pada yang lain.dari ujub, selanjutnya muncul sifat takabur, yakni mengecilkan dan meremehkan orang lain. Jadi ujub dan takabur adalah 2 sifat tercela yang berdampingan.
Menurut imam ghazali, mengemukakan bahwa yang menyebbkan ujub  dan takabur :ilmu, amal, ibadah, kebangsawanan, kecantikan atau ketampanan , harta, kekayaan, kekuatan, kekuasaan, dan banyak pengikut
Sifat ujub dibagi 2: ujub ‘indan nas dan ujub ‘indallah.
(1)   ‘indannas, yaitu membanggakan diri sendiri dihadapan orang lain. Agar oranglain mengetahui kehebatan dan keistimewaan dirinya.
(2)   ‘indallah, yaitu sikap membanggakan diri sendiri dihadapan allah

e)      Dengki
Dalam bahasa arab, dengki disebut pula dengan hasad, yaitu perasaaan yang timbul dalam diri seseorang setelah memandang sesuatu yang tidak dimiliki olehnya, tetapi dimiliki oleh orang lain, kemudian menyebarkan beritabahwa yang dimiliki orang tersebut diperoleh dengan tidak sewajarnya
Sementara, menurut ghazali dengki adalah membenci kenikmatan yang diberikan allah kepada oranglain dan ingin agar orang lain tersebut kehilangan kenikmatannya
Tingkatan-tingkatan dengki :
1.      Menginginkan lenyapnya kenikmatan oranglain meskipun kenikmatan tersebut tidak berpindah kepda dirinya
2.      Menginginkan lenyapnya kenikmatan orang lain karena dia menginginkannya
3.      Tidak menginginkan kenikmatan itu sendiri, tetapi menginginkan kenikmatan yang serupa. Jika dia memerolehnya , dia berusaha merusak kenikmatan orang lain
4.      Menginginkan kenikmatan yang serupa. Jika dia gagal memperolehnya, dia tidak meinginginkan lenyapnya kenikmatan itu dari oranglain
f)       Mengupat dan mengadu domba
Mengupat (ghibah) adalah membicarakan aib orang lain. Baik yang dibicarakan itu badannya, hartanya, anaknya, orangtuanya, dan lain sebagainya. Tetap ghibah yang baik yang disebut dengan lisan ataupun tuliasan, atau berbentuk rumus, isyaratdengan mata, tangan, kepala dan lain sebagainya
Sementara mengupat yaitu dengan menyebut bagian badannya, misalnya buta, pincang, botak, dan lain sebagainya. Kemudian, Imam Abu Hamid Al-ghazali mengutip ijma umat islam bahwa ghibah adalah menyebut sesuatu yang tidak disenangi oleh seseorang pada dirinya
Sementara namimah adalah memindahkan ucapan dari seeorang atau orang lain kepada yang lainnya denagn maksud merusak hubungan mereka

g)      Riya
Riya adalah memperlihatkan dirikepada orang lain. Maksudnya bukan karena allah, tetapi karena manusia
Sifat riya muncul dalam beberapa kegiatan :
1.      Riya dalam beribadat
2.      Riya dalam berbagai kegiatan
3.      Riya dalam berderma/ bersedekah
4.        Riya dalam berpakaian[7]
                                                                                                                                                                                                                                                                            
3.      Implikasi Akhlak Terpuji Dan Tercela
a.     Akhlak terpuji
1)      Bagi individu
Akhlak terpuji memiliki beberapa akibat bagi individu tersebut, seperti Meningkatkan wibawa, Mendapatkan kehormatan, Banyak disenangi sesamanya, Mudah mendapat perlindungan, serta ketentraman dan kebahagiaan, karena akhlak yang terpuji sesuai dengan fitroh manusia yag menyukai kebaikan. Dan mellui akhlak terpuji pula, derajat manusia disisis allah akan semakin meningkat, karena hanya dengan kebaikan (ihsan) seseorang dapat semakin mendekatkan diri kepada allah swt, serta terhindar dari hukuman yang bersifat manusiawi.
2)   Bagi sosial
Akhlak terpuji mampu membina dan menjaga kerukunan antar tetangga yang terwujud dalam sikap saling menghormati, saling melindungi, saling menjaga dan saling peduli satu sama lainnya (toleransi), sehingga seluruh lapisan masyarakat akan menjadi tenag, aman, damai, dan sejahtera.
 Dengan adanya keadaan masyarakat (lingkunagan sosial) seperti itu, akan tercipta suasana kondusif yang terjadi dimasyarakat sehingga, setiap orang dapat menjalankan aktivitasnya dengan baik tanpa adanya gangguan dan kekhawatiran akan keslamatana dirinya, dan pembangunan masyarakat (sarana dan prasarana) akan terlaksana dengan baik
b.        Akhlak tercela
1)   Bagi individu
Akhlak tercela memiliki beberapa kerugian bagi pribadi yang bersangkutan meliputi merendahkan diri sendiri, sulit bergaul dengan sesamanya (karena kurang diterima), sering mendapat hukuman yang bersifat manusiawi  (seperti dipenjara, dicambuk), mengurangi kehormatan (harga diri) yang dimilikinya, serta mendapat tempat yang buruk di masyarakat.
 Lebih jauh lagi, secara batin, menyebabkan individu tersebut menjadi jauh dengan tuhan, karena perbuatan tersebut telah menyalahi aturan yang telah digariskan oleh tuhan
2)                  Bagi sosial
Akhlak tercela yang dilakukan oleh seseorang atau beberapa orang akan menciptakan kekacauan, kerusuhan, dan ketidaknyamanan di masyarakat. Bahkan lebih jauh lagi, akhlak tercela dapat menciptakan kehancuran lingkuangan. Hal tersebut dapat terjadi karena satu sama lain saling mencurigai, saling benci dan menjauhi[8]



DAFTAR PUSTAKA
Ilyas Yunahar. 1999. Kuliah Akhlak.LPPI UMY: Yogyakarta.
Asmaran.1994.  Pengantar Studi Akhlak. Raja Grafindo Persada: Jakarta
Anwar Rosihin.2008. Akidah Akhlak. Pustaka Setia: Bandung



[1] Yunahar Ilyas. Kuliah Akhlak.LPPI UMY: Yogyakarta. 1999.Hlm :1
[2] Ibid. hlm: 1-2
[3] Ahmad Amin. Etika (Ilmu Akhlak). Bulan Bintang : Jakarta. 1988. Hlm: 262-264
[4] Asmaran. Pengantar Studi Akhlak. Jakarta : Raja Grafindo Persada. 1994 hlm 148
[5] Rosihin Anwar. Akidah Akhlak. Pustaka Setia: Bandung 2008.Hlm 215-244
[6] Zahrudin., Op Cit. Hlm 162
[7] Rosihin Anwar. Akidah Akhlak. Pustaka Setia: Bandung 2008.Hlm 247-268
[8] Asmaran.  Pengantar Studi Akhlak. Jakarta : Raja Grafindo Persada. 1994. Hlm