“PENDEKATAN BUDAYA DAN SENI DALAM PAI”

Disusun oleh :
1. Ahmad Syafii (13410154)
2. Khotimah
(13410147)
3. Miftah
Alifatil Islam (13410161)
4. Ina Agustina
(13410164)
Dosen Pengampu : Drs H Abdul Malik Usman, M.Ag
NIP : 19600601 199903 1 001
PENDIDIKAN
AGAMA ISLAM
FAKULTAS
ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN
SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
2014/2014
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya,
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah mata kuliah Pengembangan Kurikulum
ini. Sholawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat, dan
pengikutnya.
Penulisan
makalah ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan, bimbingan, dukungan, dan
dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, saya ucapkan terima kasih
kepada:
1.
Bapak Drs H Abdul
Malik Usman, M.Ag selaku dosen pengampu mata kuliah PENGEMBANGAN BUDAYA
DAN SENI DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM,
2.
Seluruh sahabat/i keluarga besar PAI yang selalu memotivasi
untuk lebih maju.
Dalam penulisan makalah ini, kami telah berusaha
semaksimal mungkin untuk menyusun makalah ini. Akan tetapi, tidak ada manusia
yang sempurna. Jika terdapat kesalahan dalam penulisan makalah ini, kami
meminta maaf yang sebesar-besarnya.
Kritik
dan saran pun kami terima dengan senang hati dari semua pihak agar selanjutnya
bisa lebih baik lagi. Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi yang
membutuhkan. Semoga Allah SWT meridhoi setiap usaha kita Amin.
Yogyakarta,10 November
2014
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Seni dan budaya
adalah dua hal yang selalu ada dalam kehidupan manusia. Seni dan budaya
merupakan dua hal yang tak terpisahkan. Karena ada hubungan yang sangat erat
diatara keduanya.
Dalam dunia
pendidikan seni dan budaya bukan hal yang seharusnya asing. Seharusnya seni dan
budaya menjadi komponen penting dalam pendidikan. Pendidikan akan dapat
berkembang apabila didalamnya terdapat seni dan budaya.
Seni dan budaya
diberikan di sekolah karena memiliki keunikan, kebermaknaan, dan kebermanfaatan
terhadap kebutuhan perkembangan peserta didik. Pendidikan seni ini dapat
menggunakan tiga jargon yaitu "belajar
dengan seni”,"belajar melalui
seni” dan "belajar tentang seni”.
Terlebih dalam
pendidikan agama islam, seni budaya merupakan alat yang menjadi pewarna dalam
keindahan agama islam. Dengan seni budaya, visi misi yang diusung oleh
pendidikan islam dapat tersampaikan dengan baik.
Jika dilihat dari
berbagai sudut, ada 3 pendekatan yang biasa digunakan dalam seni budaya. Yaitu
pendekatan ekspresi bebas, pendekatan disiplin ilmu dan pendekatan
multikultural.
B.
RUMUSAN MASALAH
1.
Apa saja pendekatan yang digunakan dalam seni budaya dalam
PAI dan bagaimana penjelasannya ?
2.
Apa saja karakteristik dari pendekatan seni budaya dalam PAI?
C.
TUJUAN
1.
Mahasiswa dapat mengetahui pendekatan seni budaya dalam PAI
dan penjelasannya.
2.
Mahasiswa dapat mengetahui karakteristik dari pendekatan seni
budaya dalam PAI?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PENDEKATAN
PENDEKATAN SENI BUDAYA
1.
Pendekatan Disiplin
Ilmu
Dalam pendekatan ini ingin menjelaskan pemikiran bahwa
seni hadir dalam kehidupan bukan hanya sebatas pada kegiatan penciptaan, namun
juga sebagai cabang pengetahuan yang menjadi bahan kajian filosofis maupun
ilmiah dan berhak dipelajari di lembaga pendidikan.
Pada pendekatan ini berpendapat bahwa pendidikan seni
yang memberikan kesempatan luas untuk peserta didik mengekspresikan emosinya
memang penting, namun jangan sampai melupakan aspek pengetahuan keilmuannya.
Cakupan pendidikannya perlu diperluas.
Eisner (1987/1988) menegaskan bahwa Pendidikan Seni
Rupa Berbasis Disiplin bertujuan untuk menawarkan program pembelajaran yang
sistematik dan berkelanjutan dalam empat bidang seni rupa yang lazim dalam kenyataan yaitu bidang penciptaan,
penikmatan, pemahaman, dan penilaian.[1]
Pendekatannya ini sebenarnya berawal dari seni rupa. Munculnya'pendekatan
ini tidak terlepas dari gerakan dalam bidang pendidikan yang berupaya untuk
mencari keunggulan akademis yang sedang marak di Amerika Serikat waktu itu
(Chapman 17). Disadari bahwa program pendidikan seni rupa di sekolah di Amerika
Serikat
pada masa itu terutama memusatkan perhatiannya pada
kegiatan studio dan menelantarkan disiplin ilmu kesenirupaan, khususnya
menyangkut engetahuan seni rupa (termasuk sejarah seni rupa) dan knitik seni
rupa. Pendukung dari pendekatan ini meyakini bahwa upaya pengembangan individual
melalui seni rupa sama pentingnya dengan mempelajari ilmu seni rupa.
Pendekatan ini yang oleh Efland disebut sebagai Scientific Rationalist Stream, memandang
seni rupa sebagai sebuah rumpun ilmu atau disiplin yang mesti dikuasai, dan
pengajaran seni rupa mestilah terstruktur secara sistematis.[2]
Jeffers membedakan pendekatan ekspresi-diri dari
pendekatan disiplin dengan menggunakan metafora yang populer dalam dunia
pendidikan yakni metafora pertumbuhan alamiah dan pembentukan. Metafora
pertumbuhan alamiah memandang anak sebagai sekuntum bunga atau tanaman, guru
sebagai pemelihara kebun, dan sekolah sebagai kebun (18). Guru sebagai
pemelihara kebun haruslah menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga anak
sebagai tanaman tumbuh secara alamiah. Metafora ini, menurut jeffers, sesuai
dengan dasar pemikiran dan praktik pelaksanaan
pendidikan seni rupa dan pendekatan ekspresi-diri (18). Pada sisi lain,
metafora pembentukan memandang anak sebagai tanah hat dan guru adalah pematung.
Gurulah yang amat menentukan bentuk dari sang tanah hat. Anak sebagai tanah hat
tidak berada pada posisi untuk memilih atau menolak bentuk akhir dan dirinya
sendiri. Metafora ini dianggap mencerminkan darsar pemikiran dari pendekatan disiplin
Lalu implikasinya dengan PAI adalah bahwa dengan
pendekatan ini PAI selain dibawakan dengan kebebasan berekspresi namun juga
nilai-nilai keilmuan yang ingin disampaikan oleh PAI tidak terlupakan. Karya
seni yang dihasilkan dalam PAI tidak hanya diartikan sebagai produk seni yang
terlupakan nilai-nilai substansinya. Namun nilai-nilai tersebut dapat
direfleksikan langsung oleh peserta didik. Sehingga nilai pendidikan yang ingin
disampaikan PAI dapat benar-benar tersampaikan dengan baik.
2. Pendekatan Multikultural
Pada tahun 2000 silam, sekitar empat
ratus ilmuwan independen, yang diprakarsai oleh Nurcholis Majid, Emil Salim dll
berkumpul di Bali untuk mencari solusi keterpurukan tata negara kita. Salah
satu rekomendasi yang dihasilkan dalam pertemuan tersebut adalah pentingnya pendidikan multikultural.
Salah satu alasan dalam merekomendasikan hal tersebut ialah pendidikan agama
belum berhasil memerankan fungsinya membina kearifan tunas-tunas bangsa dalam
menyikapi realitas sosial budaya yang plural.[3]
Dengan demikian, cukup beralasan
sekiranya dikatakan bahwa upaya mewujudkan pendidikan multikultural menghadapi
tiga tantangan utama yaitu (1) agama, etnisitas, dan tradisi, (2) kepercayaan,
(3) toleransi.[4] Salah satu upaya mewujudkan hubungan yang
harmonis adalah melalui kegiatan edukasi dalam rangka menumbuhkembangkan
kearifan pemahaman, kesadaran, sikap dan perilaku peserta didik terhadap
keragaman agama, budaya dan masyarakat. Dengan pengertian itu pendidikan
multikultura mencakup pendidikan agama dan pendidikan umum yang mengindonesia
karena responsif terhadap peluang dan tantangan kemajemukan agama, budaya dan
masyarakat Indonesia. Tentu saia pendidikan multikultural tidak sekedar
membutuhkan pendidikan agama melainkan juga pendidikan religiusitas.
Pendidikan religiusitas mengandung
arti pendidikan yang tidak sebatas mengenalkan kepada peserta didik ajaran
agama yang dianutnya, melainkan juga mengajarkannya penghayatan kemanusiaan
visi kemanusiaan aiaran agama tersebut.[5]
Pendidikan gama di Indonesia memiliki dua fungsi diantaranya mendukung kebutuhan
agama para peserta didik untuk memperkuat keimanan mereka dan untuk
meningkatkan sikap saling menghormati antar pemeluk agama yang berbeda,
kerukunan antar agama dan persatuan dan kesatuan nasional.[6]
Dengan obyektifikasi Islam, ia adalah artikulasi Islam dalam semangat
kebangsaan yang plural dan titik temu berbagai agama yang ada untuk mewujudkan
kerukunan hidup bersama. Pendidikan agama diharapkan mampu menyalakan nyali
peserta didikuntuk mengarungi kehidupan dalam dekapan kemajemukan agama,
budaya, dan masyarakat tanpa merasa terancam sedikit pun oleh keberadaan orang
lain.
Sejalan dengan tanggung jawab
tersebut , M. Amin Abdullah menggaris bawahi lima tugas utama pendidikan agama
Islam, khususnya di Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI), dalam menghadapi
keragaman agama yaitu (1) mengenalkan isu-isu kontemporer yang dihadapi umat
Islam, bersamaan dengan upaya menjelaskan
ajaran Islam klasik, (2) mengarahkan tujuan uama Islam pada permasalahan
mengenai hubungan antar manusia,(3) mengkontekstualisasikan Islam, (4)
mengkritisi penenekanan pendidikan agama hanya pada domai kognitif, dan (5)
mendedikasikan Islam tidak semata-mata untuk pengembangan moralitas individu,
melainkan juga publik.[7]
Salah satu sasaran tujuan dari tugas utama tersebut adalah pendidikan agama
bisa membekali peserta didik kecakapan hidup berupakemampuan untuk menghadapi
berbagai tantangan yang dihadapi dalam sepanjang hidupnya ditengah
masyarakatnya yang plural.[8]
Sudah saatnya pendidikan agama lebih
menekankan transformasi nilai-nilai keagamaan dan moral dari pada sekedar transfer
ilmu agama (kognitif). Sebab, pendidikan agama tidak hanya terbatas pada
pengajaran agama, dengan demikian pendidikan agama hendaknya bekisar pada dua
dimensi hidup yaitu penanaman rasa takwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui
penghayatan yang mendalam terhadap makna ibadah dan perenungan mendalam
terhadap alam semesta dan kehidupan. Terkait dengan dimensi ini, nilai-nilai
mendasar yang pelu ditanamkan dalam kegiatan pendidikan antara lain: iman, islam ihsan, ikhlas,
syukur dan sabar. Dimensi yang kedua yaitu pengembangan rasa kemanusiaan kepada
sesama, pendidikan bermaksud mengembangkan moralitas individu dan publik
peserta didik. Untuk itu, termasuk nilai-nilai yang perlu ditanamkan adalah:
persaudaraan, persamaan, rendah hati, lapang dada, baik sangka, tepat janji dan
silaturrahim.
3. Pendekatan Ekspresi Bebas
Pendekatan ekspresi bebas bercirikan pemberian kesempatan
bagi anak untuk menyatakan dirinya secara tidak terganggu melalui seni
dalam kegiatan pembelajaran.
Contoh Langkah Kegiatan Pembelajaran seni dan budaya
melalui
pendekatan ekspresi bebas:
pendekatan ekspresi bebas:
•
Guru menunjukkan rekaman video/visual/foto sebagai bahan
pengamatan atau apresiasi kepada siswa disertai cerita tentang video dan foto
tersebut.
•
Siswa melakukan pengamatan dengan memperhatikan video visual dan foto yang
disampaikan guru.
•
Siswa memberikan penilaian terhadap obyek yang dilihat
dan menghayati.
•
Siswa mengekspresikan obyek yang dilihat.
•
Siswa dengan panduan guru membuat kreasi baru berdasarkan
obyek yang dilihat dalam proses apresiasi
B. Karakteristik
pendekatan seni budaya,
mengedepankan :
1.
Olah rasa
Fransesco (1958), seorang ahli pendidikan seni
rupa mengemukakan tugas pendidikan seni rupa antara lain sebagai penghalus
rasa, mengembangkan daya cipta, dan pendidikan emosi. Dikemukakan, penguasaan
emosi sangatlah penting, khususnya pada manusia di zaman modern. Dalam seni,
emosi disalurkan ke dalam wujud yang memiliki nilai ekspresi-komunikasi.
Kegiatan penguasaan dan penyaluran ekspresi tadi menjadi dinamis dan
bersemangat.
- Ekspresi
diri pendidik
Peranan
pendidik adalah memberi inspirasi, memberi kejelasan / klarifikasi, membantu
menerjemahkan gagasan perasaan dan reaksi siswa ke dalam bentuk-bentuk karya
seni yang terorganisasi secara estetis (Jefferson, 1969); atau, menciptakan
iklim yang menunjang bagi kegiatan “menemukan”, “eksplorasi” dan “produksi”.
Peranan ini dapat dimainkan pendidik, baik pada saat awal ataupun di tengah
pelajaran sedang berlangsung. Tentu saja, untuk dapat berperan seperti ini
pendidik perlu “mengasah” kepekaan rasa seninya secara memadai, melalui
kegiatan belajar yang terus-menerus (belajar bisa diartikan: mengamati,
menghayati, mengkaji atau berkarya).
- Kreativitas pendidik dan peserta didik
Aspek
kreativiitas mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia.
Apalagi di masa pembangunan ini, orang yang
berdaya kreatif sangat dibutuhkan guna mengembangkan ide-ide yang
konstruktif yang akan membantu pemerintah dan masyarakat dalam memajukan
kehidupan dan berkebudayaan. Pembinaan
kreativitas manusia sebaiknya dilakukan sejak anak-anak. Kondisi lingkungan
yang kreatif dan tersedianya kesempatan melakukan berbagai kegiatan kreatif
bagi anak-anak akan sangat membantu dalam mengembangkan budaya kreativitasnya. Perlu dingat bahwa
dunia anak-anak merupakan awal perkembangan kreativitasnya. Kreativitas itu
nampak di awal kehidupan anakk dan tampil untuk pertama kalinya dalam bentuk
permainan anak-anak (Hurlock, 1985:328).
Seni sebagai bagian dari kegiatan bermain menempati kedudukan yang
sangat penting dalam pendidikan umum, terutama di Taman Kanak-kanak dan Sekolah
Dasar, jika kita ingin memanfaatkan masa keemasan berekspresi secara kreatif
untuk membina dan mengembangkan kreativitas anak-anak pada usia dini. Masa keemasan berekspresi kreatif adalah
pandangan Pierre Duquette yang menyediakan makalah untuk seminar Pendidikan
Seni Rupa Internasional yang diselenggarakan di Bristol. Ia juga menegaskan
bahwa pada anak-anak yang berusia di bawah 10 tahun merupakan the golden age
of creative expression. Ekspresi artistik merupakan salah satu kebutuhan
anak-anak, oleh karena itu kebebasan berkarya dengan berbagai media dan metode
pada kegiatan seni anak-anak menjadi pendekatan utama dalam pendidikan seni
rupa.[9]
- Apresiasi warisan budaya adiluhung
Pendidikan
seni dapat menghaluskan rasa, dan mengembangkan daya cipta, serta mencintai
kebudayaan nasional, bahkan menghargai hasil-hasil kebudayan / kesenian dari
bangsa manapun. Hal ini diperlukan dalam rangka menghadapi kehidupan yang
semakin kompleks, yang ditandai dengan arus globalisasi akibat ledakan
teknologi komunikasi.
- Revitalisasi nilai-nilai seni budaya yang menjadi
identitas bangsa
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Pendekatan-pendekatan seni budaya:
·
Pendekatan
Disiplin Ilmu
·
Pendekatan
Multikultural
·
Pendekatan
Ekspresi Bebas
Karakteristik Pendekatan Seni Budaya, mengedepankan :
·
Olah rasa
·
Ekspresi diri pendidik
·
Kreativitas pendidik dan peserta didik
·
Apresiasi warisan budaya adiluhung
·
Revitalisasi nilai-nilai seni budaya yang menjadi
identitas bangsa
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, M. Amin, 2010, Membangun Perguruan
Tinggi Islam Unggul dan Terkemuka Yogyakarta: Suka Press.
Baidhawy,
Zakiyudin, 2005, Pendidikan
Agama Berwawasan Multikultural, Jakarta: Erlangga
Majid,
Nurcholis, Islam, Doktrin dan Peradaban,
Nanang, Ganda
Prawira, 1997, Seni Rupa dan Pendidikan, Bandung: PGSD
Tarmizi
Taher, Menuju Ummatan,
Tilaar,
H.A.R. 2005, Manifesto Pendidikan Nasional: Tinjauan dari Perspektif
Postmodernisme dan Studi Kultural, Jakarta: Buku Kompas
Salam,
Sofyan, PENDEKATAN EKSPRESI-DIRI,
DISIPLIN, DAN MULTIKULTURAL DALAM PENDIDIKAN SENI RUPA, Jurnal Seni Rupa
dan Desain Vol.1 No.3 Agustus 2001
Zamroni,
Pendidikan Agama dan Demokrasi
http://ulfakarunia.blogspot.com/2012/07/pendekatan-erbasis-disiplin-ilmu.html
[1] http://ulfakarunia.blogspot.com/2012/07/pendekatan-erbasis-disiplin-ilmu.html
[2] Sofyan Salam, PENDEKATAN
EKSPRESI-DIRI, DISIPLIN, DAN MULTIKULTURAL DALAM PENDIDIKAN SENI RUPA (Jurnal
Seni Rupa dan Desain Vol.1 No.3 Agustus 2001) hal 7-8
[3]
Zakiyudin Baidhawy, Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural, ( Jakarta
: Erlangga, 2005) hlm. 13
[4]
H.A.R. Tilaar, Manifesto Pendidikan Nasional: Tinjauan dari Perspektif
Postmodernisme dan Studi Kultural ( Jakarta: Buku Kompas,2005) hlm.268
[7]
M. Amin Abdullah, Membangun Perguruan Tinggi Islam Unggul dan Terkemuka
(Yogyakarta: Suka Press,2010), hlm 139-140
0 Comments:
Post a Comment