GHAZALI DAN PEMIKIRANNYA
Imam Al-ghazali lahir di Tusia, di sebuah kota kecil Khumsan.
Ayahnya seorang penenun benang wol, karena itu dia mendapat gelar “Ghozali”
yang berarti penenun benang wol, seorang yang buta huruf, miskin dan jujur.
Ghazali menerima pendidikan dasar
agamanya dari seorang guru agama, Ahmad bin Muhammad Razikani. Untuk menuntut
ilmu yang lebih tinggi, ia harus meninggalkan kampung halamannya.
Karena Nishapur tempat yang paling
dekat, maka ia berguru pada Imamul Haramain. Dalam waktu singkat dia menguasai
demikian banyak ilmu.ia mendapat penghargaan yang sangat tinggi,dan pada usia
34 tahun diangkat menjadi rektor universitas
Nizamiyah di Bagdad.namun akhirnya ia jenuh dengan kebesaran dan
kemegahan yang mewarnai kehidupan masyarakat kerajaan di bagdad.karenenya ia
kemudian melakukan uzlah batin.
Imam Ghazali adalah ulama besar ahli
syariat penganut madzhab Syafi’i dalam hukum fiqh, dan seorang teolog pendukung
madzhab Asy’ari yang amat kritis, namun sesudah lanjut usia mulai meragukan
dalil akal yang menjadi tiang tegaknya madzhab Asy’ariyah disamping dalil
wahyu. Imam Ghazali justru mendapat kepuasan dalam penghayatan kejiwaan dalam
sufisme, yakni mempercayai kemutlakan dalil kasyfi. Mungkin karena pengaruh
lingkungan keluarga dan masyarakat Persia masa itu yang merupakan lahan yang
subur bagi perkembangan pemikiran dan kehidupan sufisme.
Mungkin Imam Ghazali sejak kecil
punya penilaian positif terhadap ajaran sufisme. Beliau pernah mengutarakan
tentang kehidupan para sufi dan tasawuf sebagai berikut:
إنى علمت يقينا أن الصوفية هم السالكون لطريق الله تعالى خاصة وأن
سيرتهم أحسن السير وطريقتهم أصوب الطرق وأخلاقهم أزكى الأخلاق بل لو جمعوا عقل
العقلاء والحكمة الحكماء وعام الواقفين على أسرار الشرع من العلماء ليغيروا شيئا
من سيرتهم وأخلاقهم و يبدلوه. بما هو خير منه لم يجدوا إليه سبيلا فإن جميع
حركاتهم وسكناتهم في ظاهرهم وباطنهم مقتبسة من نور مشكاة النبوة وليس وراء نور
نبوة على وجه الأرض نور يستضاء به
Sungguh aku
mengetahui secara yakin bahwa para sufi itulah orang-orang yang benar-benar
telah menempuh jalan Allah SWT secara khusus. Dan bahwa jalan yang mereka
tempuh adalah jalan yang sebaik-baiknya, dan laku hidup mereka adalah yang
paling benar, dan akhlak mereka dalah yang paling suci. Bahkan seandainya para
ahli pikir filosof yang bijak, dan ilmu para ulama yang berpegang pada rahasia
syariat berkumpul untuk mencipataka jalan dan akhlak yang lebih baik dari apa
yang ada pada mereka (para sufi) tidak mungkin bisa menemukannya. Lantaran
gerak dan diam para sufi, baik lahir ataupun batin, dituntun oleh cahaya
kenabian. Dan tidak ada selain cahaya kenabian diatas dunia ini, cahaya lain
yang bisa meneranginya. (Munqidz min ad-Dlalal hal: 31)
Dalam karyanya yang berjudul
al-iqtisad fil-I’tiqad(sikap lurus dalam I’tiqad) ia melukiskan betapa dekat
dan saling bergantungnya hubungan antara agama dan kekuasaan politik. Keseluruhan
filsafat akhlak Imam Ghazali bersandarkan asas-asas tasawuf.
Padanya terjadi keserasian
keharmonisan antara syariat dan tasawuf yang berjalan bersama-sama.
Banyak ketidak taatan asas pada
dirinya.Dalam buku Tahafutul-falasifah (kekacauan para filsuf) misalnya,ia
menyerang filsafat.tetapi dilain pihak ia mengarang Mi’yarul ‘ilm (neraca
ilmu), Minhajun-Nazar(pelurus tijauan), Al-Qistasul –Mustaqim (neraca yang seimbang)
dan Al-Mustasfa (Penjernih). Dia di antaranya terang-terangan membela logika
Aristoteles, padahal di antara unsur-unsur filsafat Yunani yang paling besar
pengaruhnya terhadap islam adalah justru Aristotelianisme.
Ia berjasa dalam menyatukan kaum muslimin
di seluruh dunia di bidang teologi. Berkat pembelaan-pembelaannya maka paham
skolastik Asy’ari memperoleh tempatnya yang permanen dalam sistem agama islam
sampai hari ini.
Di samping mengkonkritkan doktrin teologi
al-Asy’ari, ia juga mendamaikan fiqih dengan tasawuf, dengan memberi tempat
dalam fiqih. Dari pertautan fiqih dengan tasawuf, lahirlah terikat-tarikat sufi
yang beraneka ragam. Untuk semua jasanya itu orang menggelarinya
Hujjatul-Islam.
Karya-Karya
Al-Ghazali
1.
Tahafutul
Falasifah ( Kerancuan para Filsuf, 488 H). Karya kalam (teologi) yang tertuju
kepada para filsuf dan para pengagumnya, untuk membantah pemikiran rasional
para filsuf yang bertentangan dengan aqidah Islam.
Kitab ini secara langsung oleh sementara kalangan juga dianggap menghancurakan
sendi-sendi rasinalisme dalam Islam, dan karena itu dianggap menghancurkan
keagungan peradaban Islam.
2.
Fada’ihul
Batiniyyat wa Fada’ilul Mustazhiriyyat (Kelancungan paham batiniah dan
keutamaan paham al mutazhir, 488H), karya kalamnya yang tertuju kepada golongan
Batiniah, untuk mengoreksi paham mereka yang berbeda dan bertentangan dengan
aqidah Islam yang benar.
3.
Al
Iqtishad fil-I’tiqad (modernisasi dalam aqidah, 488 H) karya kalamnya yang
terbesar untuk mempertahankan aqidah Ahlus Sunnah secara rasional.
4.
Ar-Risalatul
Qudsiyah (Rislah bagi Pendudukan Al-Quds, 488-49 H) karya kalamnya yang
“ringan” untuk mempertahankan aqidah ahli sunnah.
5.
Qawaidul
‘Aqaid (488-489 H) karyanya yang menggambarkan materi aqidah yang benar menurut
paham Ahlus Sunnah. Karya ini mencakup juga karya nomer (4) di atas. Kini
termasuk dalam kitab Al-Ihya’ ‘Ulumud Din.
6.
Ihya’
‘Ulumud Din (Menghidupkan kembali Ilmu-ilmu agama, 489 dan 495 H). Karya
tulisannya yang terbesar, yang memuat ide-ide sentral untuk menhidupkan kembali
ilmu-ilmu agama Islam, termasuk ilmu kalam.
7.
Al-Maqsadul
Asma’ Syarh Asma’ Allah al-Husna (490-495 H) yang memuat pembahasannya tentang
Nama-nama Tuhan secara menyeluruh, masalah-masalah kalam dan tasawuf.
8.
Faisalut
Tariqat bainal Islam waz Zandaqah (497 H), yang berisi konsepsi tentang
toleransi dalam bermadzhab teologi. Juga norma-norma yang dibuatnya untuk
memecahkan soal pertentangan antara teks wahyu dan akal dengan cara penakwilan
yang berstruktur.
9.
Kitabul
Arba’in fi Usulid-Din (Empat Puluh Pokok Agama, 499 H) yang memuat bahasan
kalam pada sepuluh pokok pertama, dan ditutup dengan suatu penjelasan hubungan
aqidah dan ma’rifat.
10. Qanunut Ta’wil (sebelum 500 H) yang berisi aturan-aturan penakwilan
ayat-ayat Al-Quran dan hadist-hadist Nabi secara rasional.
11. Al-Munziq minad Dalal (Pembebasan dari Kesesatan 501-502 H) semacam
otobiografinya yang memuat riwayat perkembangan intelektual dan spiritual
pribadinya, disamping penilaiannya terhadap metode para pemburu kebenaran,
macam-macam ilmu pengetahuan dan epistemologinya.
12. Iljamul A’wam ‘an ‘Ilmil Kalam (Mengendalikan Orang Awam dari Ilmu
Kalaam, 504-505 H) merupakan karya kalamnya yang terakhir. Di dalamnya terdapat
konsepsi tentang kalam, ayat-ayat dan hadist-hadist mutasyabihat serta
pembelaannya terhadap paham salaf dibidang teologi.
Karya-karya imam Al-Ghazali yang lainnya:
·
Ar-Risalatul
Laduniyah dan Jawahirul Qurwan berkaitan dengan masalah asal-usul dan status
ilmu pengetahuan.
·
Mi’yarul
‘Ilm, al-Qistasul Mustaqim, dan Al-Musytasfa kitab yang berkaitan dengan logika.
·
Mizanul
‘Amal kitab yang berkaitan dengan Tasawuf.
Menurut Imam Ghazali dengan tasawuf orang akan menemukan kemantapan
keyakinan agama, suatu bangsa yang akan membawa perkembangan perasaan agama dan
pembinaan budi luhur. Selain itu dengan syariat dan tauhid orang hanya baru
mengenal dan faham tentang ajaran yang benar dan lurus (sesuai dengan tuntunan
sunnah), artinya dengan rumusan teologi orang baru mengenal akidah yang lurus
dan benar akantetapi masalah bagaimana mendapatkan keyakinan yang benar-benar
mantap dan menumbuhkan perasaan agama yang rasional, syariat dan tauhid tidak
bisa berbicara banyak. Oleh karena itu, pusat kegiatannya adalah mempertemukan
ajaran syariat bersama tuntunan Al-Quran dan Hadist dengan ajaran tasawuf.
Menurutnya ilmu-ilmu agama belum memiliki dasar-dasar yang
benar-benar hidup, maka ilmu-ilmu agama tersebut harus dihidupkan dan dihayati
dengan memanfaatkan ajaran tasawuf.
Imam Ghazali dapat menunjukkan kelemahan dasar-dasar pemikiran
rasional dalam filsafat dan ilmu kalam cukup tajam. Kebenaran mistik dipandang
sebagai kebenaran yang bersifat mutlak dan meyakinkan, bahkan dipandang sebagai
kebenaran yang bersifat ilahiah, sejenis wahyu yang diterima oleh para nabi.
Dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumud Din, ia membagi tingkatan keimanan
menjadi 3 derajat.
المرتبة الأول : إيمان العوام وهو إيمان التقليد المحض. والثانية :
إيمان المتكلمين وهو ممزوج بنوع استدلال ودرجته قريبة من درجة إيمان العوام.
والثالثة : إيمان العارفين وهو المشاهد بنور اليقين
Pertama keimanan orang awam yang berdasar atas taqlid (mengikut
keterangan orang lain yang dipandang lebih tahu) semata-mata. Kedua, keimanan
para mutakallimun (ahli ilmu kalam), yaitu keimanan yang didasari dengan
dalil-dalil, baik dalil akal maupun wahyu. Ketiga, keimanan para ‘arifin, yaitu
tingkat penghayatan para sufi atau wali-wali Allah, yakni keimanan atas dasar
penghayatan musyahadah (melihat langsung) dengan perantaraan nurul yaqin.
Dapat disimpulkan bahwa derajat manusia ada 4 tingkatan yaitu:
1.
Tingkatan
Nabi, adalah tingkat yang paling dekat dengan Allah, mendapat ilmu dengan jalan
wahyu.
2.
Tingkatan
wali, yakni para ahli tasawuf yang telah ma’rifat pada Allah. Sebagai insan
kamil selapis di bawah tingkat nabi, memperoleh ilmu melalui penghayatan mistik
(ilmu laduniyah).
3.
Tingkatan
ulama, yakni ahli ilmu yang diperolehnya melalui belajar atau studi.
4.
Tingkatan
awam, yakni orang yang mendapat ilmu dengan taqlid.
Dalam sebuah kitab al-Munqidz min ad-Dlalal Al-Ghazali
mengkritik kesesatan penafsiran para penganut paham hulul, ittihad, dan wushul
dengan pernyataan:
وعلى الجملة ينتهى الأمر إلى قرب يكاد يتخيل منه طائفة الحلول وطائفة
الإتحاد وطائفة الوصول وكل ذلك خطأ. وقد بينا وجه الخطأ فيه فى كتاب المقصد الأقصى
(ص: 32)
Ringkasannya, penghayatan ma’rifat ini memuncak sampai yang
demikian dekatnya pada Allah sehingga ada segolongan mengatakan hulul
(immanensi Tuhan dalam manusia), segolongan lagi mengatakan ittihad (bersatu
dengan Tuhan), dan ada pula golongan yang mengatakan wushul (sampai ke tingkat
Tuhan). Kesemuanya ini adalah salah. Dan telah kujelaskan segi kesalahan mereka
dalam kitab Maqshudu al-Aqsha (Tujuan yang Tertinggi)
Pada masanya Ghazali mengalami banyak masalah, diantaranya adalah
goncangnya kepercayaan umat Islam dalam menghadapi gempuran paham filsafat dan
ideologi keagamaan kaum Syi’ah batiniah, dan juga paham sufisme yang menyimpang
dari kaidah agama. Pengamalan agama dan pemahamannya terlalu rasionalis dan
hukmiyah, sehingga kering dari rasa dan spiritual keagamaan. Terlalu formalis
yang mengeringkan rasa keagamaan dan mendangkalkan keyakinan agama.
Goncangan filsafat adalah warisan filsafat Yunani yang pada waktu
itu mendewakan dali akal dan menjadikannya sebagai dalil qath’i. Maka imam
Ghazali mengkritiknya dalam kitab al-qaulu fi haqiqatin Nubuwwah. Bahwa
petunjuk akal itu hanya sampai ke tingkat dhonn (perkiraan yang beralasan)
namun tidak bisa qath’i seperti perkiraan ahli filsafat bila untuk menjawab
masalah Ketuhanan dan yang ghaib.
Imam Ghazali juga menunjukkan kelemahan ilmu kalam, apabila
diandalkan tidak akan bisa menyampaikan ke arah keimanan yang benar-benar
mantap dan meyakinkan. Namun masih perlu dipertahankan dan amat berguna
menyelamatkan aqidah ahli sunnah dari goncangan ahli bid’ah yang menyesatkan.
Dalam hal kepercayaan ajaran Syi’ah Batiniah atau golongan
ta’limiyah yang mengharuskan percaya kepada imam-imam yang dipandang ma’shum
(terpelihara dari kesalahan), Al-Ghazali menganjurkan agar masyarakat muslim
lebih baik berimam kepada Nabi Muhammad SAW yang memang diwajibkan kepada
seluruh muslim untuk menjadikan Nabi Muhammad sebagai imam bukannya imam-imam
lain penyebar bid’ah. Al-Ghazali hanya membatasi penghayatan ma’rifat dalam
sufisme hanya sampai ke penghayatan yang amat dekat dengan Tuhan, tidak
terjerumus ke paham hulul, ittihad, dan wushul. Dengan demikian berarti
Al-Ghazali menolak penghayatan ma’rifat ke arah puncak, yaitu menolak fana’ al
fana’. Jadi mengamalkan tasawuf hanya sampai penghayatan fana’ yang
tengah-tengah, yang masih menyadari adanya perbedaan yang fundamental antara
manusia dan Tuhan yang Trancenden, mengatasi alam semesta yaitu hanya sampai
penghayatan yang dekat dengan Tuhan, sehingga kesadaran diri sebagai yang dekat
dengan ma’rifat tetap berbeda dengan Tuhan yang dima’rifatinya.
Dalam masalah keimanan, Imam Ghazali menjadika tasawuf sebagai
sarana untuk mendukung bagi pendalaman rasa agama (spiritual Islam) dan untuk
memantapakan dan menghidupkan iman.
Tasawuf penting dan berguna untuk menghidupakan pemahaman dan
pengalaman syariat. Maka dari itu dalam kitab-kitab karya imam Ghazali, beliau
membahas tentang tasawuf mulai dengan membahas keajaiban hati beserta
nafsu-nafsu amarah, lawamah, dan mutmainnah, yang ketiganya saling berebut
menguasai kehidupan batin manusia. Lalu dilanjutkan dengan ajaran tentang jihad
akbar untuk menguasai nafsu-nafsu amarah dan lawamah, yakni ajaran tentang
penyucian hati yang didalam ajaran tasawuf diartikan memutuskan setiap
keterikatan hati kepada dunia (keduniaan) dan mengisi sepenuh hati hanya dengan
ghaib tuhan saja. Kemudian diajarkan tentang cara mengonsentrasikan seluruh
kesadaran untuk berdzikir kepada Allah.dzikir dalam ajaran tasawuf ini semacam
semedi atau meditasi dalam ajaran mistik. Hisil dari dzikir ini adalah fana’
dan ma’rifat kepada Allah beserta alam ghaib dengan ilmu laduniahnya.
Menurut Imam Ghazali seseorang harus mengerti syariat-syariat Islam
terlebih dahulu sebelum menggunakan tasawuf. Karena pada dasarnya tasawuf
adalah pemantap untuk berjalannya syariat Islam.
Menurut Imam Ghazali zat Tuhan itu ngegla (terang benderang) tanpa
tabir apa-apa. Dan cahaya Allah itu teramat terang, mata manusia bagai
kelelawar yang tidak mampu menangkap cahaya di siang hari karena terlalu lemah
dibanding dengan cahaya. Oleh karena itu manusia bisa menangkap cahaya Allah
langsung dengan hatinya. Hati atau qalbu menurut Imam Ghazali diibaratkan
sebagai cermin (mir’ah). Bila kaca hatinya dibersihkan dari kotoran keduniaan
maka ia akan mampu menangkap cahaya Allah sehingga ia dapat melihat
bayang-bayang Allah secara langsung melalui cermin hatinya. Maka kata Imam
Ghazali apabila ingin melihat Tuhan bukan ke langit melainkan melihat dalam
diri sendiri. Dengan itu Imam Ghazali mengungkapkan sebuah ungkapan dalam kitab
Ihya’ ‘Ulumiddin jilid ke tiga halaman pertama:
من عرف قلبه فقد عرف نفسه
ومن عرف نفسه فقد عرف ربه
Barang siapa mengenal qalbu (hati) nya, pasti mengenal dirinya.Dan
barang siapa telah mengenal dirinya pasti telah mengenal Tuhannya
Maka syarat untuk melihat Tuhan adalah mensucikan hatinay dan mawas
diri.
Menurut Al-Ghazali Tuhan sebagai pencipta dunia, sebelum
menciptakan dunia terlebih dahulu telah ada bagan perencanaannya secara lengkap
dan mendetail dalam Lauhul Mahfudz. Jadi di alam Lauhul Mahfudz segala
sesuatunya telah tertulis lengkap baru kemudian dilaksanakan satu per
satumenurut kadar dan waktunya yang telah ditentukan pula. Atas dasar teori
penciptaan yang terencana ini menurut Imam Ghazali sumber ilmu itu ada dua:
1.
Ilmu
yang bisa dipelajari melalui pengamatan dan penelitian terhadap alam semesta
yakni yang bisa dipelajari selangkah demi selangkah yang disebut dengan ilmu
taklimiyah.
2.
Ilmu
yang bersumber dari Lauhul Mahfudz. Diperoleh seseorang tanpa belajar tetapi
dengan mujahadah melalui laku mistik atau tasawuf. Setelah laku mistik berhasil
dilakukan seseorang bisa langsung menghayati ilmu ghaib dan membaca suratan
nasib di Lauhul Mahfudz atau di sisi Allah yang disebut dengan ilmu ilhamiyah
atau ilmu laduni.
Menurut Imam Ghazali ilmu laduni lebih murni daripada ilmu taklimi.
Karena ilmu laduni bagaikan air yang masih berada di sumber mata airnya, sedang
ilmu taklimi laksana air yang telah mengalir di sungai-sungai yang sudah
bercampur dengan debu-debu. Maka Imam Ghazali mengatakan:
Dengan demikian ketahuilah bahwa
keinginan para ahli tasawuf adalah ilmu ilhamiyah, dan bukannya ilmu
taklimiyah. Oleh karenanya mereka tidak tertarik untuk mempelajari ilmu dan
mempelajari buku-buku dan membahas pendapat-pendapat mereka beserta
dalil-dalilnya yang ada didalamnya. Mereka mengatakan bahwa jalannya adalah
mengutamakan mujahadah, dan menghilangkan sifat-sifat tercela, menghindari
segala keduniaan dan menghadapkan muka hanya kepada Allah. Bila berhasil
demikian itu, maka Allah sendiri yang akan menguasai hati hambaNya dan
menganugrahkan nur keilmuan dalam jiwanya. Jika Allah telah berkenan
melimpahkan rahmatNya, akan memancarka cahaya kejiwaannya, mengenal hakikat
segala sesuatu yang bersifat keilahian. Maka tidak lain tigas hamba hanyalah
mempersiapkan diri dengan penyucian hati semata-mata dan menghadapkan mukanya
dengan sepenuh hatinya, dengan kerinduan yang membara, dan dengan penuh
kesabaran menanti rahmat yang adan dibukakan Allah SWT. Demikianlah para Nabi
dan para wali mendapatkan segala ilmu, dan melimpah kedalam jiwanya secara
ghaib tidak dengan perantara belajar dan membaca buku-buku. Akan tetapi dengan
perantara zuhud membelakangi keduniaan dan mengosongkan hati dari segala ikatannya
dan mempercayakan diri pada jaminan Allah SWT. Barangsiapa mempercayakan diri
pada Allah, Allah sendiri akan menjaminnya. Mereka percaya bahwa jalan menuju
ilmu laduni adalah mengosongkan hati dan membelakangi segala yang berbau
keduniaan, seperti keluarga, harta, anak, ilmu, kedudukan. Yakni mencipatakan
suasana hati yang tidak tertarik pada segala yang bukan Tuhan, ada dan tidak
adanya sama aja (sepi kadonyan), dan kemudian menyepi di tempat pengasngan
(zawiyah, sudut yang sepi) (ihya’ ‘ulumuddin, III hal 18)
AKHLAK TASAWUF


Ary, Oktia,
Luthfi, dan Faroh



0 Comments:
Post a Comment