Header Ads

23 August 2016

“ARTI PENTING PENGEMBANGAN BUDAYA & SENI DALAM PAI”

Hasil gambar untuk ARTI PENTING PENGEMBANGAN BUDAYA & SENI DALAM PAI
PPT DOWNLOAD DISINI
MAKALAH PENGEMBANGAN BUDAYA DAN SENI DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM       
“ARTI PENTING PENGEMBANGAN BUDAYA & SENI DALAM PAI”


Disusun oleh :
1.     Ahmad Syafii (13410154)
2.     Khotimah (13410147)
3.     Miftah Alifatil Islam (13410161)
4.     Ina Agustina (13410164)

Dosen Pengampu : Drs H Abdul Malik Usman, M.Ag
NIP                        : 19600601 199903 1 001

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
2014/2014


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah mata kuliah Pengembangan Kurikulum ini. Sholawat serta salam semoga selalu tercurahkan  kepada baginda Nabi Muhammad  SAW beserta keluarga, sahabat, dan pengikutnya.
Penulisan makalah ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan, bimbingan, dukungan, dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, saya ucapkan terima kasih kepada:
1.                       Bapak Drs H Abdul Malik Usman, M.Ag selaku dosen pengampu mata kuliah PENGEMBANGAN BUDAYA DAN SENI DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM,
2.                       Seluruh sahabat/i keluarga besar PAI yang selalu memotivasi untuk lebih maju.
Dalam penulisan makalah ini, kami telah berusaha semaksimal mungkin untuk menyusun makalah ini. Akan tetapi, tidak ada manusia yang sempurna. Jika terdapat kesalahan dalam penulisan makalah ini, kami meminta maaf yang sebesar-besarnya.
Kritik dan saran pun kami terima dengan senang hati dari semua pihak agar selanjutnya bisa lebih baik lagi. Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi yang membutuhkan. Semoga Allah SWT meridhoi setiap usaha kita Amin.
Yogyakarta, November 2014

Penyusun



BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Membahas fenomena agama dan sistem seni budaya adalah hal yang sangat menarik. Dikalangan masyarakat primitif, seni tari yang dikembangkan untuk pemujaan terhadap dewa-dewa merupakan ekspresi kepercayaan mereka. Begitu juga dengan agama-agama formal lainnya seperti hindu budha dengan kisah ramayana dan mahabarata. Islam ada seni kaligrafi dan arsitektur masjid, syair dan puisi para sufi, dan yang lainnya. Jelas betapa seni suatu umat beragama tidak lain dari ekspresi keagamaan mereka itu sendiri. Bahkan suatu kelompok keagamaan memiliki kesenian yang berbeda dengan kelompok lainnya.
Islam sebagai agama yang integral dan komprehensif, disamping memiliki syari’ah sebagai ajaran utama, juga memotivasi umatnya untuk mengembangkan seni budaya islam. Seni budaya memperoleh perhatian yang serius dalam islam karena memiliki peran yang sangat penting untuk membumikan ajaran utama sesuai dengan kondisi dan kebutuhan hidup umat manusia.
Sebagai sebuah proses, seni budaya memiliki hubungan yang erat dengan pendidikan. Pendidikan adalah bagian dari proses pembudayaan. Pendidikan dan kebudayaan tidak dapat dipisahkan. Pemisahan pendidikan dari kebudayaan merupakan suatu hal yang merusak perkembangan kebudayaan sendiri, malahan mengkhianati keberadaan proses pendidikan sebagai proses pembudayaan.
pendidikan agama islam sebagai ujung tombak pendidikan agama harus dapat membumi ajarannya sesuai dengan kondisi dan kebutuhan hidup umat manusia. Untuk itu seni budaya memiliki arti penting bagi pendidikan agama islam. Sehingga pendidikan agama islam dapat lebih mudah diterima dan diserap di dalam masyarakat. Sehingga cita-cita besar islam dapat tercapai.
B.     RUMUSAN MASALAH.
1.      Bagaimana pengertian dan problem dari seni budaya islam.
2.      Bagaimana kontribusi seni budaya dalam penyiapan tenaga pendidik PAI?
3.      Bagaimana kontribusi seni budaya islam dalam pembelajaran PAI.
4.      Bagaimana kontribusi pai dalam pengembangan seni budaya islam?
C.    TUJUAN
1.      Mahasiswa dapat mengetahui pengertian dan problem dari seni budaya islam.
2.      Mahasiswa dapat mengetahui kontribusi seni budaya dalam penyiapan tenaga pendidik PAI.
3.      Mahasiswa dapat mengetahui kontribusi seni budaya islam dalam pembelajaran PAI.
4.      Mahasiswa dapat mengetahui kontribusi pai dalam pengembangan seni budaya islam.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN DAN PROBLEM SENI BUDAYA ISLAM.
Seni yang berasal dari bahasa latin ars berarti keahlian : (1) mengkespresikan ide-ide dan pemikiran estetika, (2) mewujudkan kemampuan serta imajinasi penciptaan (benda, suasana, atau karya yang mampu menimbulkan rasa indah), (3) mewujudkan salah satu dari sejumlah pengekspresian yang dikategorikan secara konvensional oleh manfaat yang ditimbulkan atau bentuk yang dihasilkan (lukisan, patung, film, tari tarian, hasil karya ekspresi keindahan, kerajinan dll).
Menurut M. Quraish Shihab, senni budaya islam diartikan sebagai ekspresi tentang keindahan wujud dari sisi pandang islam tenang alam, hidup, dan manusia yang mengantar menuju pertemuan sempurna antara kebenaran dan keindahan (sesuai cetusan fitrah).[1] Dengan bahasa lain, Seyyed Hosen Nasr mengartikan seni budaya islam sebagai keahlian mengekspresikan ide dan pemikiran estetika dalam penciptaan benda, suasana, atau karya yang mampu menimbulkan rasa indah dengan berdasar dan merujuk pada al-qur’an dan hadits.[2] Meski merujuk pada sumber pokok islam, namun islam sendiri tidak menentukan bentuk dari seni islam melainkan hanya memberikan acuan dan arahan. Oleh karena itu seni islam bukanlah seni yang bersumber dari satu entitas yaitu kitab suci saja, melainkan juga erat hubungannya dengan seni budaya yang berkembang pada suatu masyarakat.
Sedangkan untuk definisi kebudayaan islam secara khusus, Sidi Gazalba menyatakan bahwa kebudayaan islam adalah cara berfikir dan cara merasa takwa yang menyatakan diri dalam seluruh seni kehidupan sekumpulan manusia yang membentuk masyarakat, atau dapat disarikan sebagai “ cara hidup yang bertakwa”.[3]
Secara teoritis, manusia muslim memiliki tiga kemampuan dasar untuk mengembangkan seni budaya. Pertama: rasa/imajinasi untuk mengembangkan estetika, kagum terharu, sehingga berperasaan tajam dan berdaya cipta. Kedua : fikiran yaitu rasio untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ketiga : iman yaitu (niat, ucapan dan perbuatan )terhadap islam.
Persoalan seni budaya islam yang pertama ialah menurunnya tingkat spiritualitas dan intelektualitas muslim. Hal ini disebabkan karena pengaruh seni budaya masyarakat sekuler yang sangat materialis dan biologis. Dilain pihak kalangan muslim yang dapat dikatakan commited terhadap ajaran agamanya, mereka masih berkutat pada kekhawatiran terjerumus pada hal-hal yang dianggap haram dalam penciptaan seni dan budaya.
Demikianlah sekilas potret tentang seni budaya dalam islam. Yang jelas, ketegangan antara corak pemikiran islam yang bercorak fiqh (yang selalu membuat kategori halal haram, bahkan sampai dalam wilayah kesenian dan keindahan) dan pemikiran islam yang bercorak tasawuf (yang lebih memperhatikan diskursus ontologis-metafisis terhadap keindahan, sehingga mereka dapat bersifat apresiatif terhadap budaya setempat dan kemudian mengasimilasikannya dalam tubuh islam) masih tampak hidup dalam benak pemikiran dalam dunia islam.
B.     Kontribusi Seni Budaya dalam Penyiapan Tenaga Pendidik PAI
Mendidik dan mengajar bukan hanya sebagai ilmu pengetahuan, tetapi juga seni. Guru di kelas adalah bagai seorang pemain drama yang dituntut untuk mampu menyajikan presentasi yang menarik. Mengajar sebagai suatu seni lebih mengarah pada suatu "nilai seni" yang memandang bahwa kesenian adalah suatu hal yang berharga dalam kehidupan manusia.
Sifat-sifat manusia seni adalah hidup bersahaja, senang menikmati keindahan, gemar mencipta, dan mudah bergaul dengan siapa saja. Kondisi demikian sangat terkait dengan aktivitas mengajar yang biasa dilakukan oleh pendidik di kelas. Pendidik dalam menyampaikan bahan ajar di depan kelas sebaiknya tidak hanya menggunakan kata-kata belaka, melainkan mampu merancang proses pembelajaran dengan model interaksi bervariasi.[4]
Pengadopsian ketrampilan seni dalam proses pembelajaran dapat dilakukan dengan 2 model, yaitu context dan content.
1.      Context (konteks) adalah kemeriahan lingkungan tempat mengajar. Meliputi:
·         merekayasa suasana yang memberdayakan dengan menebarkan emosi positif pcndidik dan memanfaatkan emosi positif anak didik.
·         membangun landasan yang kukuh, dengan menanamkan bahwa materi yang akan dipelajari sangat dibutuhkan dan bermafaat bagi anak didik.
·         menciptakan lingkungan yang mendukung, dengan variasi tempat duduk dan variasi media pembelajaran.
·         membuat rancangan belajar yang dinamis dengan strategi contextual teaching and learning, yaitu mengintegtasikan materi ajar dengan pengalaman keseharian anak didik.
2.      Content (konten) adalah kekayaan materi yang ingin disampaikan.
·         mempersiapkan presentasi yang prima,
·         menyediakan fasilitas yang luwes dengan model pembelajaran interaktif,
·         mengajarkan berbagai keterampilan belajar, yaitu dengan tidak menekankan pada transformasi ilmu dan keterampilan tepat pada waktunya saja (penekanan pada “what”) melainkan menekankan pada “how” atau bagaimana seharusnya belajar itu.[5]
Dengan menerapkan keterampilan seni, khususnya seni drama dalam pembelajaran seorang guru diharapkan dapat mengoptimalkan proses pembelajaran dengan lebih dinamis, kreatif, inovatif, produktif, menarik dan menyenangkan.
C.    Kontribusi Seni Budaya Islam dalam Pembelajaran PAI.
Mengacu pada tujuan pendidikan dalam upaya pengembangan kehidupan sebagai pribadi, anak didik sekurang-kurangnya dibiasakan berperilaku yang baik dan juga didasari untuk berkepribadian yang mantap dan mandiri. Salah satu cara membentuk anak didik mandiri dan percaya diri adalah memperkenalkan mereka pada seni budaya. Kesenian dan kebudayaan penting artinya bagi siswa terutama bagi pertumbuhan jiwa dan pikiran. Ketajaman perasaan siswa tak terasah bila tanpa pengalaman keindahan suatu karya seni dan kearifan serta kedalaman makna dan nilai suatu budaya. Melalui pendidikan kesenian dan kebudayaan anak didik dapat berolah rasa. Kemampuan mengolah rasa seseorang diyakini mampu menjadi sumber pengendalian diri.
Pendidikan secara luas merupakan proses untuk mengembangkan potensi pada diri seseorang. Tujuan pendidikan sudah banyak dirumuskan, salah satu diantaranya oleh Benjamin S. Bloom yakni supaya manusia lebih berkualitas baik dari segi kognitif, afektif maupun psikomotoriknya. Ketiga aspek tersebut merupakan kesatuan totalitas yang melekat pada diri seseorang.
Nilai-nilai seni budaya Islam dapat diintegrasikan dalam PAI yang sekaligus berperan mengembangkan ketiga aspek tersebut. Yaitu dengan berfikir kritis terhadap proses terjadinya suatu seni budaya (pengembangan otak/head), mengapresiasi hasil karya seni budaya (pengembangan heart/hati/rasa) dan mengaplikasikan nilai-nilai seni budaya dalam perilaku dan karya nyata (pengembangan hand/kemampuan otot).
Pembinaan rasa agama juga sangat efektif menggunakan seni suara dan musik. Secara ontologis, musik merupakan perpaduan antara unsur material dengan immaterial; ia tersusun dari elemen-elemen yang bersifat jasmaniah dan rohaniah. Karenanya, musik memiliki kekuatan untuk menspirituaIkan hal yang materi dan sebaliknya, mematerikan hal yang spiritual. Adapun esensi musik itu berupa substansi ruhaniyah, yaitu jiwa pendengar. Musik dapat digunakan sebagai alat untuk melintasi tingkatan spiritualitas sebab ia dapat menspiritualkan sesuatu yang materi dan disamping itu musik memiliki jiwa yang selevel dengan jiwa manusia.[6] Dalam wilayah PAI tentu tidak diragukan lagi pengajaran agama melalui nyanyian dan musik adalah sangat efektif untuk meningkatkan rasa agama. Tidak mengherankan apabila banyak da'i dan pendidik di TPQ/Madrasah Diniyah banyak memanfaatkan syair dan lagu untuk sarana belajar.

D.    Kontribusi PAI dalam Pengembangan Seni Budaya Islam
   Baik agama (kehidupan beragama) maupun kehidupan seni budaya manusia kebudayaan berasal dari sumber yang sama, yaitu merupakan potensi fitrah (pembawaan) manusia , bertumbuh dan berkembang secara terpadu bersama-sama dalam proses kehidupan manusia secara nyata di muka bumi, dan secara bersama pula menyusun suatu sistem budaya dan peradaban suatu masyarakat /bangsa. Namu demikian keduanya memiliki sifat dasar yang berbeda , yaitu bahwa agama memiliki sifat dasar “ketergantungan dan kepasrahan” , sedangkan kehidupan budaya mempunyai sifat dasar “kemandirian dan keaktifan”. Oleh karena itu, dalam setiap tahap pertumbuhan dan perkembangan seni budaya menunjukkan adanya gejala, variasi dan irama yang berbeda antara lingkungan masyarakat/bangsa yang satu dengan lainnya.
   Pada awalnya tampak bahwa agama mendominasi kehidupan seni budaya masyarakat, kemudian dengan adanya perkembangan akal dan budi daya manusia, maka mulailah tampak gejala terjadinya proses pergeseran dominasi agama tersebut, yang pada giliran selanjutnya tersingkirkan dalam kehidupan seni budaya suatu masyarakat. Namun demikian dengan tersingkirnya dominasi agama itu maka pertumbuhan dan perkembangan sistem budaya dan peradaban manusia tampak menjadi kehilangan arah dan tujuan yang pasti, sehingga mereka memerlukan lagi terhadap agama, bukan sebagai yang mendominasi tetapi sebagai petunjuk dan pengarah kehidupan mereka.
   Pada kondisi demikian, pendidikan agama memegang peranan yang sangat besar untuk mengisi kekosongan spiritualitas dalam seni budaya bahkan peradaban manusia. Sudah saatnya bangsa Indonesia, khususnya dunia pendidikan Islam di Indonesia, perlu merenungkan kembali tentang betapa pentingnya internalisasi dalam pemahaman agama dan budaya, yang sesungguhnya mempunyai daya kekuatan untuk mencegah perbuatan yang keji dan kejam serta tindakan yang dapat melukai dan dibenci masyarakat.
   Internalisasi nilai-nilai seni budaya Islam dalam pengajaran PAI sangatlah mendukung tercapainya tujuan PAI itu sendiri. Dalam pandangan Ali Ashraf, PAI bertujuan menimbulkan pertumbuhan seimbang dari kepribadian total manusia melalui latihan spiritual, intelektual, rasional, perasaan, dan kepekaa, yang tujuan akhirnya adalah penyerahan mutlak kepada Allah, baik secara individu maupun dalam tataran kolektif di masyarakat dan umat seluruh jagad. Dengan kata lain, dalam pendidikan Islam tidak semata-mata urusan pikiran akan tetapi melibatkan seluruh perangkat hidup manusia, yaitu pikiran, perasaan, dan nurani (spiritual). [7]
   Kontribusi lainnya dari pendidikan khususnya PAI terhadap pengembangan seni budaya Islam adalah berkaitan dengan proses penyadaran bahwa seni budaya sebagai penjelmaan oleh akal, budi, cipta, rasa, karsa, dan karya manusia bukan sekedar hal yang mubah, melainkan merupakan keseluruhan. Seni budaya diperlukan sebagai sarana realisasi spiritual dan pencapaian pengetahuan iluminatif tentang Tuhan. Seni budaya merupakan sarana yang memungkinkan seseorang untuk menangkap dan mengapresiasi keindahan alam sebagai anugrah tak terbatas dari Tuhan dan untuk mengalihkan keindahan itu kepada orang lain dalam rangka pengayaan spiritual.
   Seni budaya juga merupakan salah satu wahana proses kemanusiaan dan pemanusiaan. Sayangnya fenomena sosial, budaya, dan kemanusiaan kontemporer umat Islam menunjukkan adanya hegemoni atas dunia simbolis yang mengandung efek represif tak terperi, tidak terkecuali dalam matra sejati, kreatifitas seniman dan budayawan dalam mengungkap realitas perwajahan masyarakat. Disinilah letak kontribusi PAI selanjutnya terhadap pengembangan seni budaya Islam, yaitu menciptakan proses penyadaran tentang pentingnya mencari solusi atas ketegangan antara normatifitas dan historisitas dalam pemikiran Islam khususnya menyangkut seni budaya. PAI dimungkin untuk mencari solusi segala persoalan berkait dengan sikap represif terhadap produk seni budaya tertentu yang diajukan dalam format “keilmuan” dan bukan dalam format “ideologis”. Lantaran asumsi dasar ideologis selalu bersifat tertutup, final, individual, dan normatif, sedangakan asumsi daaar keilmuan bersifat terbuak, open ended, sosial, dan faktual historis. [8]
   Kontribusi PAI terhadap pengembangan seni budaya Islam setelah proses penyadaran tersebut yang tidak kalah pentingnya yaitu menghidupkan semangat ijtihad dan tajdid sosial keagamaan yang merupakan kunci pokok pengembangan seni budaya Islam. Mengingat strategi kebudayaan Islam adalah menyatukan dimensi ajaran al-Qur’an dan Hadits dengan dimensi ijtihad dan tajdid sosial keagamaan. Ciri khasnya adalah  adanya hubungan yang erat dan timbal balik antara sisi normatifitas al-Qur’an dan as-Sunnah serta historis pemahamannya pada wilayah kesejarahan tertentu.
   Sudah saatnya PAI mengintegrasiakan materi seni budaya Islam tidak dalam bingkai kesejarahan saja, akan tetapi yang paling penting adalah seni budaya Islam dalam kajian proses kreatif dan pemaknaan pada nilai-nilai luhur yang dikembangkannya terutama dalam upaya mencetak generasi berbudi dan berkarakter. Hal ini dikarenakan teoritisi tentang keindahan, kesenian, dan kebudayaan, agaknya, sulit muncul ke permukaan alam pikiran dalam dunia Islam, lantaran dominasi pemikiran kalam dan pemikiran fikih dalam dunia pemikiran Islam pada umumnya. Kalaupun pembahasan tentang seni budaya masuk dalam wilayah telaah studi Islam, ia lebih mungkin lebih masuk dalam wilayah telaah studi Islam, ia lebih mungkin masuk dalam wilayah telaah Sejarah Peradaban Islam. Disini pun telaahnya mungkin lebih banyak terfokus pada karya-karya seni budaya sebagai data sejarah tentang Peradaban Islam di masa lampau, bukan pada pemikiran ontologos-metapisis tentang keindahan itu sendiri. Lagi-lagi dalam skema taxonomi seperti itu, telaah seni budaya Islam hanyalah sebatas pada barang produksi yang sudah jadi, tetapi tidak menyentuh wilayah etos dan sumber keilmuan yang mendasari dan memberi jawaban mengapa produksi seni budaya tersebut bisa muncul ke permukaan secara spektakuler. Padahal dibalik produksi seni budaya yang kongkrit mensejarah tersebut, terdapat kompleksitas hubungan antara akal pikiran (reason), perasaan (feeling), imaginasi (imagination) \, dan kreatifitas (creativity), yang kemudian muncul menjadi peradaban manusia dalam hubungan yang sangat komplek pula, sehingga tidak mudah, sesungguhnya, untuk diputuskan hanya dengan kriteria seni budaya ini boleh atau tidak, halal atau haram secara ekslusif.[9]


BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa :
·         seni budaya islam adalah keahlian mengekspresikan ide dan pemikiran estetika dalam penciptaan benda, suasana, atau karya yang mampu menimbulkan rasa indah dengan berdasar dan merujuk pada al-qur’an dan hadits.
·         Pengadopsian ketrampilan seni dalam proses pembelajaran dapat dilakukan dengan 2 model, yaitu context (lingkungan) dan content (kekayaan materi).
·         Pada wilayah PAI pembelajaran menggunakan kesenian sangat efektif untuk meningkatkan rasa agama.
·         Kontribusi PAI terhadap pengembangan seni budaya Islam yaitu menghidupkan semangat ijtihad dan tajdid sosial keagamaan yang merupakan kunci pokok pengembangan seni budaya Islam.



DAFTAR PUSTAKA

Shihab, M. Quraish, “Islam Dan Kesenian”, dalam Jabrohim dan Saudi Berlian (ed.), Islam Dan Kesenian, Yogyakarta: MKM UAD lembaga litbang PP Muhamadiyah, 1995
Nasr, Seyyed Hosen. “Spiritualitas Dan Seni Islam”, terj. Sutejo Islamic Art And Spirituality. Bandung: Mizan 1993
Gazalba, Sidi, “islam dan perubahan sosio budaya”, jakarta: pustaka al-husna, 1983
Suda, I Ketut, "Interaksi Belajar -Mengajar Sebagai Ilmu, Teknologi, dan Seni" dalam Jurnal Institut Seni Indonesia Yogyakarta vol. 6 Th. 2, 2006
Hernowo, “Menjadi Guru Yang Mau dan Mampu Mengajar Secara Kreatif”, Bandung; MLC Mizan, 2006
Muhaya, Abdul, bersufi melalui musik, Sebuah Pembelaan Musik Sufi oleh ahmad al-ghazali, Yogyakarta: Gama Media, 2003
Ashraf, Ali, Horison Baru Pendidikan Islam, Jakarta: Pustaka Firdaus
Muhaimin, dkk, Kawasan dan Wawasan Studi Islam, Jakarta: Prenada Media, 2005
Wonohito, Soemadi M., “Menyelaraskan Agama dan Budaya”, (Pengantar) dalam Nasrudin Anshor dan Zaenal Arifin Toha, Berguru Pada Yogya, Yogyakarta: Kutub 2005





[1] M. Quraish Shihab, “islam dan kesenian”, dalam Jabrohim dan Saudi Berlian (ed.), islam dan kesenian, (Yogyakarta: MKM UAD lembaga litbang PP Muhamadiyah, 1995) hal 7 dan 193
[2] Seyyed Hosen Nasr. “Spiritualitas Dan Seni Islam”, terj. Sutejo Islamic Art And Spirituality. (Bandung: Mizan 1993), hal14
[3] Sidi gazalba, “islam dan perubahan sosio budaya”, (jakarta: pustaka al-husna, 1983) hal 62.
[4]  I Ketut Suda, "Interaksi Belajar -Mengajar Sebagai Ilmu, Teknologi, dan Seni" dalam Jurnal Institut Seni Indonesia Yogyakarta (vol. 6 Th. 2, 2006), hal. 175.
[5]  Hernowo, “Menjadi Guru Yang Mau dan Mampu Mengajar Secara Kreatif”, (Bandung; MLC Mizan, 2006), hal.73-75.
[6] Abdul Muhaya, Bersufi Melalui Musik, Sebuah Pembelaan Musik Sufi Oleh Ahmad Al-Ghazali, (yogyakarta: Gama Media, 2003), hal. xi
[7] Ali Ashraf, Horison Baru Pendidikan Islam, (Jakarta: Pustaka Firdaus), hal. 20
[8] Muhaimin, dkk, Kawasan dan Wawasan Studi Islam, (Jakarta: Prenada Media, 2005), hal. 53-55
[9] Soemadi M. Wonohito, “Menyelaraskan Agama dan Budaya”, (Pengantar) dalam Nasrudin Anshor dan Zaenal Arifin Toha, Berguru Pada Yogya, (Yogyakarta: Kutub 2005), hal. Xviii-xix

Related Posts:

0 Comments:

Post a Comment