Header Ads

21 November 2014

SERI FILSAFAT : FILSAFAT MODERN

BAB I
PENDAHULUAN

1.      Latar belakang
Masa modern menjadi identitas di dalam filsafat Modern. Pada masa ini rasionalisme semakin dipikirkan.  Tidak gampang untuk menentukan mulai dari kapan Abad Pertengahan berhenti. Namun, dapat dikatakan bahwa Abad Pertengahan itu berakhir pada abad 15 dan 16 atau pada akhir masa Renaissance.  Masa setelah Abad Pertengahan adalah masa Modern. Sekalipun, memang tidak jelas kapan berakhirnya Abad Pertengahan itu. Akan tetapi, ada hal-hal yang jelas menandai masa Modern ini, yaitu berkembang pesat berbagai kehidupan manusia Barat, khususnya dalam bidang kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan ekonomi. Usaha untuk menghidupkan kembali kebudayaan klasik Yunani-Romawi. Kebudayaan ini pulalah yang diresapi oleh suasana kristiani.
Pada masa Modern terjadi perkembangan yang pesat pada bidang ekonomi.  Hal ini terlihat dari kota-kota yang berkembang menjadi pusat perdagangan, pertukaran barang, kegiatan ekonomi monoter, dan perbankan. Kaum kelas menengah melakukan upaya untuk bangkit dari keterpurukan dengan mengembangkan suatu kebebasan tertentu. Kebebasan ini berkaitan dengan syarat-syarat dasar kehidupan. Segala macam barang kebutuhan bisa dibeli dengan uang. Makanisme pasar pun sudah mulai mengambil peranan penting untuk menuntut manusia untuk rajin, cerdik, dan cerdas. Dari sudut pandang sosio-ekonomi menjelaskan bahwa individu berhadapan dengan tuntutan-tuntutan baru dan praktis yang harus dijawab berdasarkan kemampuan akal budi yang mereka miliki. Kemampuan ini tanpa harus mengacu kepada otoritas lain, entah itu dari kekuasaan gereja, tuntutan tuan tanah feodal, maupun ajaran muluk-muluk dari para filsuf.
Dari sudut pandang sejarah Filsafat Barat melihat bahwa masa modern merupakan periode dimana berbagai aliran pemikiran baru mulai bermunculan dan beradu dalam kancah pemikiran filosofis Barat. Filsafat Barat menjadi penggung perdebatan antar filsuf terkemuka. Setiap filsuf tampil dengan gaya dan argumentasinya yang khas.
Adapun tokoh-tokoh dimasa modern yang akan kami bahas antara lain, Descartes, Spinoza, Leibniz, John Lock, Karl Mark dan David Hume.  

2.      Rumusan masalah
a.       Apa pemikiran pada masa filsafat modern?
b.      Siapa saja tokoh-tokoh pada masa filsafat modern?
c.       Apa pemikiran para filosof pada zaman modern?























BAB II
PEMBAHASAN

1.      Filsafat Modern
Filsafat modern berawal pada paruh kedua abad ke-16 Masehi, setelah terlebih dulu dimulai oleh gerakan Renaissance dan Humanisme di Eropa Barat.
Para filsul zaman modern menegaskan bahwa pengetahuan tidak berasal dari kitab suci atau ajaran agama, tidak juga dari penguasa, tetapi dari diri manusia sendiri. Namun, tentang aspek mana yang berperan ada beda pendapat.1
Aliran rasionalisme beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah rasio: kebenaran pasti berasal dari rasio (akal). Aliran empirisme sebaliknya meyakini pengalaman adalah sumber pengetahuan itu baik, baik yang batin maupun yang inderawi. Lalu muncul aliran kritisme, yang mencoba memadukan kedua pendapat berbeda itu.

1.      Tokoh-Tokoh Filsafat Modern

A.    Rene Descartes
Rene Descartes lahir di la haye, prancis, 31 maret 1596 dan meninggal di Stockholm, swedia, 11 februari 1650. Ia biasa dikenl sebagai  cartesius dan seorang filsuf serta matematikawan prancis. Ia dikenal sebagai bapak fifsafat modern yang berhasil melahirkan suatu konsep dari perpaduan antara metode ilmu alam dengan ilmu pasti kedalam pemikiran filsafat.2 Ia juga disebut sebagai bapak psikologi atas fisafatnya yang menjadi perhatian utama adalah masalah pengetahuan (epistimologi) dan filsafat manusia, khususnya masalah hubungan jiwa- badan (abidin, 2009).
Filsafat Descartes tentang epistimologi dikegorikan kedalam aliran rasionalisme. Ia menerima 3 realitas atau subtansi bawaan yang sejak lahir, yaitu:
1.      Realitas pikiran (res cogitan)
2.      Realitas perluasan (res extensa, “extention”) atau materi
3.      Tuhan ( sebagai wujud yang seluruhnya sempurna, penyebab sempurana dari kedua realitas itu).
Pikiran sesungguhnya adalah kesadaran, titik mengambil ruang dan tidak dapat dibagi- bagi menjadi bagian yang lebih kecil. Materi adalah keluasan mengambil tempat dan dapat dibagi- bagi serta tidak memiliki kesadaran. Kedua substansi tersebut berasal dari Tuhan, sebab hanya Tuhanlah yang ada tanpa bergantung pada yang lain.
Karya- karya rene descartes yang termasyhur, ada enem bagian:
1.      Menjelaskan masalah ilmu- ilmu yang diawali dengan menyebutkan akal sehat  ( common-sense) yang pada umumnya dimiliki pada orang.
2.      Menjelaskan kaidah- kaidah pokok tentang metode yang akan dipergunakan dalam aktivitas ilmiah.
3.      Menyebutkan kaidah- kaidah moral yang menjadi landasan dalam penerapan metode sebagai berikut:
·         Mematuhi undang- undang dan adat istiadat negeri, sambil berpegang pada agama.
·         Bertindak tegas dan mantap.
·         Berusaha merubah diri kepada yang lebih baik.
4.      Menegaskan pengabdian pada kebenaran.
5.      Menegaskan perihal dualisme dalam diri manusia yang terdiri atas dua subtansi, yaitu res cogitans (jiwa bernalar) dan res extensa ( jasmani yang meluas). Tubuh res extensa itu di ibaratkan seperti mesin, yang tentunya karena ciptaan Tuhan maka tertera lebih baik.
6.      Dua jenis pengetahuan, yaitu pengetahuan spekulatif dan pengetahuan praktis. Pengetahuan spekulatif menyangkut hal- hal yang bersifat filosofis. Sedangkan pengetahuan praktis berkaitan dengan objek- objek yang konkret seperti api, air, udara, planet, dan lain- lain.

B.     Baruch de Spinoza (1632-1677)
Baruch de Spinoza merupakan filsuf Belanda yang fenomenal setelah dia menggugat salah satu pemikiran Descartes mengenai apa sesungguhnya dunia ini? sebagai keturunan Yahudi yang berpikiran bebas, ia kerap ditentang oleh sahabat-sahabatnya yang berpikiran ortodoks, hingga akhirnya ia dibuang dan dikucilkan. Meski begitu, buah pikirannya cukup mengagumkan bagi banyak orang yang menaruh perhatian terhadap kajian filsafat dan ilmu pengetahuan.
Karya utama Spinoza adalah Ethics. Secara umum, buku Spinoza tersebut menggunakan metode Cartesian dan berusaha membuat hipotesis mengenai kehidupan ini bahwa ada dan hanya satu substansi dengan banyak sifat yang tak terbatas jumlahnya. Dalam konteks ini, manusia dan Tuhan adalah satu substansi meski berbeda. Inilah yang membuat sebagian orang bisa menerima tapi tidak sedikit yang mampu memahami pemikiran filsafat Spinoza karene memang agak membingungkan.[1]
Spinoza menyuburkan pemakaian pengertian sebab Aristoteles dan pengertian istimewa yang diterapkannya tentang Tuhan, khususnya tentang penyebab dirinya atau causa sui. Para skolastik telah memakai pengertian ini dalam bukti kosmologi dan dapat diduga Spinoza  mereproduksi versi bukti tersebut. Namun demikian, Spinoza memiliki sesuatu yang lain dalam benaknya, dan itu merupakan suatu determinisme. Yakni, klaim bahwa dari suatu sebab yang telah ditentukan akibat menyusul secara niscaya. Tetapi, determinisme Spinoza tidak berkaitan langsung dengan ilmu secara khusus namun lebih tepatnya dengan apa yang barangkali dianggap sebagai nasib.[2]
Karya Ethics Spinoza yang terakhir mengulas masalah emosi. Banyak komentator yang meninggalkannya, karena tidak menambah kerangka kerja metafisik yang telah diterapkan di buku keduanya. Spinoza dalam buku tersebut tidak beda pendapat dengan apa yang disebut dengan apatheia, ketidakpedulian. Diskusi moral dalam buku tersebut sangat penting dan memberi kontribusi bagi khazanah filsafat.

C.    Leibniz (1646-1716 M)
Leibniz lahir di Jerman. Nama lengkapnya Gottfried Wilhelm von Leibniz. Sama halnya Spinoza, Leibniz termasuk pengagum sekaligus pengkritik Descatres.[3] Baginya, dia khawatir tentang kehidupan dan bagaimana menjalani hidup. Tetapi berbeda dengan Spinoza yang kesepian, ia justru termasuk orang yang kaya raya (jet-setter) dan dipuja.[4]
Leibniz juga dikenal sebagai penemu kalkulus bersama Newton. Ia adalah ilmuan, pengacara, akademis, ahli logika, ahli bahasa, dan teolog. Bagi Leibniz, filsafat adalah hobi yang berkesinambungan dan ia terlibat dalam diskusi filosofis dan melakukan korespondensi sepanjang hidupnya bersama para filsuf di zamannya. Sayangnya, banyak karyanya tidak bisa dinikmati banyak orang setelah ia meninggal sebab tidak diterbitkan.
Namun demikian, bukan berarti karyanya tidak ada yang membekas. Tesisnya yang paling agung termaktub dalam Candide.[5] Tesis ini mengklaim bahwa ada jumlah pilihan yang tak terhingga banyaknya diantara dunia-dunia yang mungkin berbeda dan Tuhan akan memilih yang terbaik darinya. Logika Leibniz bisa saja diperdebatkan tetapi visi tadi tak dapat disangkal untuk memperbaiki akhlak seseorang.
Leibniz menyarankan pengembangan suatu bahasa universal, suatu logika universal yang di dalamnya semua masalah dapat dipecahkan dengan perhitungan tanpa pertumpahan darah dan rasional. Ia mempertahankan pronsip dasariah filsafatnya yang disebutnya dengan “prinsip cikip alasan”.
Seperti Spinoza, ia juga memberi argumentasi bahwa tak ada yang terjadi tanpa adanya suatu alasan. Dan semua alasan adalah alasan-alasan Tuhan dan Tuhan menentukan alam semesta dan semua alasan tersebut tentu saja baik adanya.

D.    John Locke (1632-1704 H)
John Locke lahir di Inggris pada tanggal 29 Agustus 1632 dan meninggal pada tanggal 28 Oktober 1704 M. Sejarah hidupnya pernah dibuang di Belanda akibat keterlibatannya dalam politik praktis Inggris dan akhirnya dia menjumpai kolega barunya bernama William dan Mary dari Orange pada tahun 1683. Pengalaman itu membuatnya membuat karya tulis mengenai pemerintahan.
John Locke adalah tokoh filsuf Inggris pembawa gerbong empirisme dalam filsafat serta berkeyakinan bahwa semua pengetahuan manusia berasal dari sesuatu yang didapat melalui pengalaman atau alat indera (penglihatan, pencium, peraba dan lain-lain).1 (Dr. Zainal Abidin, Pengantar Filsafat Barat, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2011). John Locke juga berpendapat bahwa pikiran bukanlah sesuatu yang datang dari luar. Gagasan-gagasan yang datang dari indera tadi diolah dengan cara berpikir, bernalar, mempercayai dan meragukannya. Konsep inilah yang disebut bagian dari aktivitas merenung atau perenungan.2 (Ali Ma’sum, ……..)
Ia juga sering disebut  sebagai tokoh yang memberikan titik terang dalam perkembangan psikologi yaitu tentang gejala kejiwaan. Bahwa jiwa itu pada saat mula-mula seorang dilahirkan masih bersih, serupa dengan kertas kosong atau tabulasi rasa.3 (Ali Ma’sum, ……)
Semua pengetahuan manusia pada dasarnya merupakan ide-ide yang disajikan pikiran manusia melalui pengalaman yang pernah dialaminya. Ada 2 tingkatan ide, yakni ide yang sederhana dan ide yang kompleks. Ide-ide sederhana tersebut berupa ide-ide yang langsung diperoleh melalui indera, seperti warna dapat diperoleh melalui indera, misalnya warna jingga, rasa asam, bau harum, suara merdu, rasanya halus dan lain-lain. Sedangkan ide-ide yang kompleks yaitu penggabungan dari dua atau lebih ide-ide yang sederhana yang diolah oleh pikiran. Misalnya, konsep kuda, kursi, binatang, manusia, laki-laki, perempuan dan lain-lain. Ide-ide kompleks pun tidak selalu harus nyata. Misalnya, yang merupakan gabungan antara kuda dan hewan lain (misalnya, burung) yang punya sayap.4 (Dr. Zainal Abidin, Pengantar Filsafat Barat, PT Raja Ggrafindo Persada, Jakarta, 2011)
Selain itu Locke membedakan antara apa yang dinamakan “kualitas primer” dan “kualitas skunder”. Yang dimaksud dengan kualitas primer adalah luas, berat, gerakan, jumlah dan sebagainya. Jika telah sampai pada masalah kualitas primer seperti ini, kita dapat merasa yakin bahwa indera-indera menirunya secara objektif. Sedang kualitas skunder yaitu tidak meniru-niru kualitas-kualitas sejati yang melekat pada benda-benda itu sendiri. Misalnya, kita dapat mengatakan sesuatu itu manis atau pahit dan hijau atau merah.
John Locke juga mengajarkan tentang bagaimana manusia berperilaku dan bagaimana seharusnya manusia berperilaku. Manusia digerakkan semata-mata oleh keinginan untuk memperoleh kesenangan atau kebahagiaan. Dalam ajaran etika ini, Locke amat menekankan supaya kehidupan manusia dibimbing oleh kepentingan jangka panjang. Jangka panjang yang dimaksud disini ialah kebijaksanaan.

E.     Karl Mark (1818-1883)
Karl Mark lahir di Trier Jerman pada tahun 1818, dari kalangan keluarga ruhaniwan Yahudi. Ayahnya adalah seorang pengacara dan termasuk golongan menengah di kota itu. Ibunya adlah seorang putri pendeta Belanda yang juga berbangsa Yahudi. Tahun 1935, saat ia berusia 17 tahun Mark menyelesaikan sekolah menengahnya di Traves. Kemudian atas kemaunya ayahnya yang tidak bisa ditolaknya ia masuk Fakultas Hukum Universitas Boon selama satu tahun. Kemudian mempelajari filsafat dan sejarah di Universitas Berlin.
Karl Mark adalah tokoh filsafat Modern yang paling banyak dikenal oleh dunia. Pemikiran-pemikiran filsafat politik dan ekonominya di anggap menjadi anccaman terhadap kapitalisme Barat.
Pemikiran Mark sangat kompleks. Berikut ini diuraikan beberapa pemikiranya yang sangat penting diantaranya yaitu :

1.      Materialisme historis dan materialisme dialektis
Mark memetakan materialisme ke dalam materialisme historis dan materialisme dialektis. Materialisme Historis merupakan pandangan ekonomi terhadap sejarah.
Dalam filsafat materialisme disebutkan adanya anggapan dasar bahwa kenyataan berada di luar persepsi manusia, demikian juga diakui adanya kenyataan ojektif sebagai penentu terkhir dari ide. Sebaliknya filsafat idealisme menegaskan bahwa segenap kesadaran didasarkan pada ide-ide dan mengimgkari adanya realitas di belakang ide-ide manusia.
Jika para penganut filsafat idealisme yang sebelum dan sezamanya menilai bahwa dialektis hanya dapat diterapkan di dunia abstrak, yaitu pikiran manusia, maka tidak demikianya dengan Mark , ia menyatakan bahwa dialektika terjadi di dunia nyata maupun materi.
Prinsip dasar teori materrailisme adalah “Bukan kesadaran manusia yang menentukan keadaan sosial, tetapi sebaliknya keadaan sosialislah yang menentukan kesadaran manusia.”

2.      Teori Kelas
Mark menguras secara mendalam teori kelas dalam buku The Communist Manifesto yang ditulisnya bersama Friedrich Engels. Mark berpandangan bahwas sejarah masyarakat manusia merupakan sejarah perjuangan kelas. Menurut Mark, perkembangan pembagian kerja dalam kapitalisme menumbuhkan dua kelas yang berbeda,terdiri atas orang yang menguasai alat produksi  dinamakan kaum borjuis, yang mengeiksploitasi kelas yang terdiri atas orang yang tidak memiliki alat produksi yaiti kaum proletar.
Ada beberapa unsur yang perludiperhatikan dalam teori kelas. Pertama, besarnya peras segi struktural ketimbang segi kesadaran dan mralitas. Kedua, adanya perttentangan kepentingan kelas pemilik dan kelas buruh. Ketiga, setiap kemajuan dalam masyarakat hanya dapat dicapai dengan melalui revosulioner.

3.      Teori Nilai
Teori ini terdiri dari empat subteori, yaitu teori tentang pekerjaaan, teori tentang nilai tenaga kerja, teori tentang nilai lebih dan teori tentang laba.
Teori tentang pekerjaan menyangkut bagaimana nilai ekonomis sebuah komoditi dapat ditentukan secara objektif.
Teori tentang nilai tenaga kerja merupakan upah, dalam arti bahwa buruh mendapat upah yang senilai dengan apa kebutuhan buruh untuk memulihkan kembali teneganya dan memenuhi kebutuhan keluarganya.
Teori nilai lebih merupakan analisisi Mark yang penting tentang bagaimana eksploitasi atau pencurian antara kapitalis dan buruh terjadi. Intinya adalah adanya perbedaan antara labour dan labour force. Labor adalah pembelanjaan aktual dari energi manusia dan kepandainya, yang dimiliki pekerja pada waktu ia bekerja. Labour force adalah kemampuan –kemampuan untuk pekerja yang dibeli oleh majikan pada waktu ia menerima buruh untuk bekerja.
Teori tentang laba merupajan astu-satunya sumber laba yang dimiliki oleh kapitalis yang sangat ditentukan oleh b esar kecilnya nilai lebih.

4.      Mode of production
Mode of production adalah kombinasi kekuatan-kekuatan produksi (tenaga buruh, mesin, bangunan, materi, dan tanah), relasasi sosial dan tehnik produksi (kepemilikan, kekuasaan, aset-aset produktif masyarakat dan relasi antara kelas-kelas sosial. Atas dasar analisis mode of production Mark menilai bahwa  kapitalisme adalah sistem sosio-ekonom  yang dibangun untuk mencari keuntungan yang didapat dari proses produksi dengan cara mengorganisir mekanisme produksi secara tertentu sehingga mengurangi biaya produksi seminim mungkin.

5.      Bangunan bawah dan bangunan atas (base and superstucture)
Basis ditentukan oleh dua faktor yaitu tenaga-tenaga produktif dan hubungan-hubungan produksi. Tenaga-tenaga produktif adalah kekuatan-kekuatan yang dipakai oleh masyarakat untuk mengerjakan dan mengubah alam. Ada tiga unsur tenaga-tenaga produktif, yaitu alat-alat kerja, manisia dengan kecakapan masing-masing, dan pengalaman-pengalaman dalam produksi (teknologi).
Hubungan-hubungan produksi adalah hubungan kerja sama atau pembagian kerja antara manusia yang terlibat dalam proses produksi. Menurut Mark, hubungan-hubungan produksi ditentukan olehperkembangan-perkembangan produktif.
Sementara supersturcture (bagunan atas) terdiri dari dua unsur, yaitu tatanan institusional dan tatanan kesadaran kolektif, yang dalam bahasa marxisme disebut “bangunan atas idiologis”. Tatanan institusional adalah segala macam lembaga yang mengatur kehidupan masyrakat di luar bidang produksi seperti sistem pendidikan, sistem kesehatan masyarakat, sistem hukum, dan negara.
Sedangkan, tatanan kesadaran kolektif memuat segala macam sistem keperayaan, norma-norma dan nilai yang memberikan kerangka pengertian, makna, dan orientasi spiritual.

6.      Alienasi
Pandangan mark tentang alienasi dibentangkan dalam karyanya Economic and philosophical Manuscripts of 1844.Alienasi merupkan proses konkretisasi hakikat batin manusia yang kemudian menjadi barang mati, dan menceraikan manusia yang satu dari yang lain. Menurut Marx, bekerja seharusnya meruakan prealisasian diri manusia sehingga bekerja mesti menggembirakan. Bekerja mestinya memberikan kepuasan, tetapi dalam kenyataanya yang sering terjadi justru kebalikanya. Bagi kebanyakan orang, dan khusussnya bagi para buruh industri dalam sestem kapitalis, pekerjan tidak merealisasikan hakikat manusia melainkan ustru mengasingkan manusia. Mengapa demikian? Karena, jawab mark, dalam sistem kapitalisme orang tidak bekerja secara bebas dan universal, melainkan semata-mata karena terpaksa, sebagai syarat untuk bisa hidup. Jadi, pekerjaan tidak mengembangkan, melainkan mengasingkan manusia, baik dari diri sendiri maupun dari orang lain.

F.     David Hume (1711- 1776)
Pada David aliran empirisme memunjak. Empirisme mendasarkan pengetahuan bersumber pada pengalaman bukan pada rasio. David memilih pengalaman sebagai sumber pengatahuan karena pengalaman itu dapat bersifat lahiriah (yang mayangkut dunia) dan juga bersifat batiniah( yang manyangkut pribadi manusia). Oleh karena itu pengalaman merupakan pengenalan yang paling jelas dan sempurna.
David membagi kesan menjadi dua: kesan sensasi dan kesan refleksi.
§  Kesan sensasi adalah kesan- kesan yang masuk ke dalam jiwa yang tidak diketahui sebab- musababnya. Misalnya, kita melihat sebuah maja kayu: benda yang saya lihat adalah meja.
§  Kesan refleksi adalah hasil dari gagasan. Misalnya, kita melihat meja dari besi: itu meja besi.
Sama halnya dengan “ kausalitas” ( hubungan sebab- akibat). Jika gejala tertentu selalu di ikuti oleh gejala lainnya, dengan sendirinya kita cenderung pada pikiran bahwa gejala yang satu disebabkan oleh gejala sebelumnya.  Misalnya, gelas jatuh dari meja tetapi  tidak pecah. David lebih suka menyebut urutan kejadian, maka david menolak kausalitan.
Hume adalah pelopor para empirisis, yang percaya bahwa seluruh pengetahuan tentang dunia berasal dari indra.











BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
 Filsafat modern berawal pada paruh kedua abad ke-16 Masehi, setelah terlebih dulu dimulai oleh gerakan Renaissance dan Humanisme di Eropa Barat.
Masa modern menjadi identitas di dalam filsafat Modern. Pada masa ini rasionalisme semakin dipikirkan.
Dari sudut pandang sejarah Filsafat Barat melihat bahwa masa modern merupakan periode dimana berbagai aliran pemikiran baru mulai bermunculan dan beradu dalam kancah pemikiran filosofis Barat. Filsafat Barat menjadi penggung perdebatan antar filsuf terkemuka. Setiap filsuf tampil dengan gaya dan argumentasinya yang khas.
Adapun tokoh-tokoh dimasa modern yang akan kami bahas antara lain, Descartes, Spinoza, Leibniz, John Lock, Karl Mark dan David Hume. 
















DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Zainal, Pengantar Filsafat Barat, Jakarta: Rajawali Pers, 2011.
Ma’sum, Ali, Pengantar Filsafat, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012.
Muzairi, Filsafat Umum, Teras, AMei 2009.
Bernadien, WIN Ushuluddin, Membuka Gerbang Filsafat, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011.






[1] DW. Hamlyn, The Penguin History of Western… hlm. 148-156
[2] DW. Hamlyn, The Penguin History of Western… hlm. 149-154
[3] DW. Hamlyn, The Penguin History of Western… hlm. 157
[4] Solomon, Sejarah Filsafat… hlm 379.
[5] Solomon,  Sejarah Filsafat… hlm 378-380

0 Comments:

Post a Comment