Header Ads

13 November 2014

MAKALAH AL-QURAN DAN AL-HADITS TARBIYAH DALAM PERSPEKTIF HADITS








Disusun oleh :
1.     Ahmad Syafii (13410154)
2.     Dian Suratama (13410153)
3.     Siti Barokah Azizatun (13410139)
4.     Itsna Rifiana Ulfa (13410137)


PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH UIN SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2013



KATA PENGANTAR

Segala puji hanya untuk Allah SWT. Karena berkat rahmat dan hidayah Nya, kami dapat menyelesaikan Makalah Hadist tentang tarbiyah ini dengan baik. Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada junjungan alam, yakni Nabi besar Muhammad SAW, dengan mengucapkan “Allahumma shali’ala Muhammad Wa’ala alihi Muhammad”, yang mana berkat ketekunan dan keuletan beliau yang telah membawa kita dari alam kebodohan sampai ke alam yang terang benderang seperti yang kita rasakan saat sekarang ini.
Penulis merasa perlu mengangkat judul makalah “TARBIYAH DALAM PERSPEKTIF HADITS” dikarenakan masih banyak pendidikan yang kurang memahami apa makna dari tarbiyah (pendidikan). Oleh Karena itu penulis berusaha mencari makna tersebut lewat pendekatan perpektif hadits. Kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sangat diharapkan oleh penulis untuk kesempurnaan makalah ini. 
Hormat kami

Penulis


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Pendidikan memiliki peran yang sangat penting karena tanpa melalui pendidikan, proses transformasi dan aktualisasi pengetahuan sulit untuk diwujudkan. Demikian juga dengan sains sebagai bentuk pengetahuan ilmiah dalam pencapaiannya harus melalui proses pendidikan yang ilmiah pula. Oleh karena itu Islam menekankan akan pentingnya belajar baik melalui aktivitas membaca, menelaah, meneliti segala sesuatu yang terjadi di alam raya ini.
Konsep Pendidikan sebetulnya telah diajarkan oleh seorang rasul akhir zaman 1400 tahun silam. Konsep-konsep itulah yang mampu membuat islam mampu tetap eksis dan mampu mengikuti perkembangan peradaban yang ada.
Namun dalam perjalanannya, pendidikan mengalami reduksi makna yang cukup memprihatinkan. Berangkat dari kekhawatiran itulah, penulis berusaha melakukan rekonstruksi ulang tentang bagaimana pendidikan ini diajarkan oleh nabi muhammad saw. Melalui jalur hadits-hadits beliau.
Penulis berusaha mencari sumber-sumber yang mampu menjelaskan tentang bagaimana konsep-konsep pendidikan yang dibawa oleh nabi muhammad saw. Sehingga nantinya mampu membangun kembali konsep-konsep tersebut kedalam tatanan kehidupan masyarakat yang semakin plural ini.
B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana pengertian / pemaknaan dari tarbiyah dalam perspektif hadits?
2.      Bagaimana konsep-konsep tarbiyah dalam perspektif hadits ?
3.      Bagaimana metode-metode tarbiyah yang diajarkan dalam perspektif hadits?
C.    TUJUAN PENULISAN.
1.      Mampu mengetahui pengertian/makna dari tarbiyah dalam perspektif hadits?
2.      Mampu mengetahui konsep-konsep tarbiyah dalam perspektif hadits?
3.      Mampu mengetahui metode-metode yang terdapat dalam tarbiyah dalam perspektif hadits?



BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN TARBIYAH
Istilah pendidikan dalam bahasa Arab (tarbiyah) mempunyai banyak isitilah diantaranya yaitu altarbiyah,al-ta'lim,al-ta'dib,danal-riyadhah. Karena masing-masing istilah memiliki perbedaan secara tekstual dan kontekstual,maka masing-masing istilah mempunyai makna yang berbeda, meski dalam hal tertentu istilah tersebut memiliki kesamaan makna.
Istilah tarbiyah berasal dari akar kata (rabba, yurbi, tarbiyah) yang artinya menjadi besar atau dewasa. Artinya pendidikan adalah usaha untuk menumbuhkan dan mendewasakan peserta didik, baik secara fisik, psikis, sosial maupun spiritual.[1]
           Istilah al-tarbiyah dalam hadis memang tidak ditemukan secara khusus. Namun demikian, dalam hadis dijumpai istilah-istilah yang senada dengan istilah tersebut. Istilah tersebut adalah al-rabb, rabbayani, nurabbi, ribbiyun, dan rabbani.[2] Mekipun fonem tersebut memiliki konotasi makna berbeda.
Jika al-tarbiyah diidentikkan dengan al-rabb, maka para ahli mendefinisikan sebagai berikut:
1.      Abdillah Murammad bin Ahmad al-Anshari al-Qurthubi memberikan arti rabb dengan pemilik, tuan, Yang Maha Memperbaiki, Yang Maha Mengatur, Yang Maha Menambah, dan Yang Maha Menunaikan.
2.      Fahr al-Razi, berpendapat bahwa al-rabb merupakan fonem yang seakar dengan al-tarbiyah yang mempunyai makna pertumbuhan dan pengajaran.
3.      al-Jauhari memberikan makna al-tarbiyah, rabban dan rabba dengan makna memelihara dan mengasuh.
4.      Louis Ma'luf mengartikan kata al-rabb dengan pemilik, tuan, memperbaiki, perawataan, tambah, mengumpulkan, dan memerintah.
Jika istilah al-tarbiyah diidentikkan dengan rabbani (bentuk fi’il madzi) yang maka al-tarbiyah mempunyai arti : mengasuh, menanggung, memberi makan, mengembangkan, memelihara, membesarkan, mempertumbuhkan, memproduksi dan menjinakkan.
Sayid Qutb menafsirkan kata rabbayani sebagai pemelihara anak serta menumbuhkan kematangan sikap mentalnya. Sedangkan Fahr al-Razi mempertegas bahwa term rabbani tidak hanya mengajarkan hal bersifat ucapan (domain kognitif), tetapi juga meliputi pengajaran tingkah laku (domain afektif).
Jika at-tarbiyah diidentikkan dengan istilah rabbani maka dapat di artikan sebagai proses transformasi ilmu pengetahuan dari tingkat dasar hingga tingkat lanjut. Proses ini bermula dari proses hafalan, ingatan yang bersifat sementara hingga tingkat pemahaman dan penalaran.
B.     KONSEP TARBIYAH
Konsep tarbiyah yang dijelaskan dalam hadits nabi, dapat dibagi menjadi 3:[3] :
1.      Konsep Perkembangan Manusia.
Manusia merupakan makhluk yang terus berkembang, maka dari itu maka muncullah istilah homoeducancus, yakni makhluk yang dapat dididik dan mendidik, dapat dipengaruhi dan mempengaruhi. artinya, manusia dalam perkembangannya selain memiliki potensi bawaan dan pengaruh lingkungan, yang dalam khasanah filsafat pendidikan Barat dikenal adanya teori perkembangan manusia, yaitu : empirisme, nativisme, dan konvergensi.
Empirisme yang dipelopori oleh John Locke menyatakan bahwa perkembangan pribadi manusia ditentukan oleh faktor-faktor alam lingkungan, termasuk pendidikan.
Ibaratnya adalah tiap individu manusia lahir bagaikan kertas putih yang siap diberi warna atau tulisan oleh faktor lingkungan. Teori ini dikenal dengan teori tabularasa.Bagi Locke, faktor lingkungan yang memberi kontribusi besar terhadap pembentukan pribadi seseorang.
Nativisme yang dipelopori Arthur Schopenhauer (1788-1860) menyatakan bahwa perkembangan pribadi hanya ditentukan oleh bawaan (kemampuan dasar), bakat serta faktor dalam yang bersifat kodrati. Faktor bawaan inilah tidak bisa diubah oleh pengaruh lingkungan atau pendidikan. Apapun usaha pendidikan yang bertujuan membetuk kepribadian tidak dapat menggapai harapan yang diidamkan tanpa dukungan faktor bawaan.
Teori konvergensi yang diusung oleh William Stem (1871-1938) menyatakan bahwa perkembangan manusia berlangsung atas pengaruh dari faktor bakat/ kemampuan dasar dan faktor lingkungan, termasuk pendidikan. Teori ini membantah teori empirisme dan nativisme, karena kenyataan membuktikan bahwa potensi bawaan yang baik tanpa dibina oleh alam lingkungan tidak akan dapat membentuk pribadi yang ideal. Sebaliknya, lingkungan yang baik, terutama pendidikan, tanpa didukung oleh potensi bawaan yang baik, tidak akan membuahkan hasil kepribadian yang optimal. Jadi proses perkembangan manusia merupakan hasil kerjasama antara faktor dasar (bawaan) dan alam lingkungan.
Dari ketiga teori diatas, terutama teori terakhir bisa ditarik kesimpulan bahwa manusia sebenarnya memiliki fitrah atau semacam bawaan sejak lahir, namun dalam perjalanannya hal itu dipengaruhi oleh lingkungannya terutama dari lingkungan keluarga. Hal itu seperti yang tercantum dalam suatu hadits :
حدثنا آدم حدثنا ابن أبي ذئب عن الزهري عن أبي سلمة بن عبد الرحمن عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال النبي صلى الله عليه وسلم كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه كمثل البهيمة تنتج البهيمة هل ترى فيها جدعاء
Setiap anak lahir adalah dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang menjadikan anak beragama Yahudi, atau Nasrani atau bahkan beragama Majusi(HR.Muslim)
Secara prinsipal, tidak terjadi silang pendapat dikalangan ulama mengenai pengertian fitrah, apakah diartikan dengan agama samawi, hanif), Islam atau tauhid. Agama samawi dan Islam adalah agama yang pokok ajarannya berupa tauhid. Ini berarti memiliki kesamaan agama-agama samawi sebelumnya. Dengan kata lain bahwa percaya kepada Tuhan dan merasa memerlukan-Nya merupakan fitrah setiap manusia.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa fitrah adalah suatu keadaan yaitu agama Islam dalam diri manusia yang telah diciptakan oleh Allah sejak manusia itu dilahirkan. Esensi dari agama Islam tersebut adalah tauhid.
Al-Maraghi berpendapat bahwa fitrah adaIah suatu keadaan atau kondisi yang diciptakan oleh Allah dalam diri manusia yang siap menerima dan menemukan kebenaran. Oleh karena ajaran tauhid itu sesuai dengan petunjuk akal, maka akal akan membimbing fitrah.
Selain itu, ahmad tafsir juga berpendapat bahwa fitrah adalah potensi yang melekat pada diri manusia. Potensi untuk menjadi baik maupun buruk, potensi menjadi muslim maupun musyrik, maupun potensi untuk beragama maupun tidak.
2.       pendidikan jasmani.
Produktifitas seseorang tergantung kepada kondisi jasmani seseorang. Jasmani yang sehat akan mendorong manusia melakukan kegiatan yang gesit dan lincah. Berbeda ketika kondisi jasmani yang kurang sehat akan berpengaruh pada kinerja yang kurang maksimal.
Pendidikan yang diberikan kepada peserta didik, setidaknya tidak hanya berkutat pada menumbuhkan akal dan budi saja. Namun juga harus merambah kearah pendidikan jasmani. Hal ini menjadi sangat penting karena dengan pendidikan jasmani mampu menciptakan kondisi badan yang sehat dan fit, sehingga mampu beraktifitas dengan lancar sepanjang hari.
Hal ini sesuai dengan salah satu hadits nabi artinya :
Abu Bakar Ahmad bin al-Hasan al-Qadhi memberitahukan kepada kami (dengan berkata) Abu Ja'far Muhammad bin 'Ali bin Dahim al-Syaibani memberitahukan kepada kami (yang berkata) Ahmad bin Ubaid bin Ishaq bin Mubarak al-'Athar (yang berkata) Ubay memberitahukan kepada kami (yang berkata) Qais memberitahukan kepadaku (yang bersumber) dari Laits (yang berasal) dari Mujahid (yang diperoleh) dari Ibn'Umar yang berkata: Rasulullah saw bersabda: "Ajarilah anak-anakmu (olah raga) renang dan lempar panah (memanah), dan (ajarilah) perempuan dengan memintal. "(al-Baihaqi,1410H.:401)
Meski dalam hadits itu berdapat cacatnya, yaitu periwayat yang bernama ubaid al-athar yang menurut beberapa ahli hadits diberi cap pernah dan suka berbohong, sehingga hadits ini dianggap hadits dhaif, bahkan mengarah syadid dhaif. Namun setidaknya makna yang terkandung dalam hadits tersebut tidak bertentangan dengan nilai-nilai universalitas keislaman.
Pada dasarnya hadits tersebut memberikan anjuran untuk mengajarkan memanah, berenang, dan memintal untuk wanita. Dari hal itu bisa di ambil sebuah hikmah bahwa dengan olahraga umat islam selain terbentuk secara fisik, namun juga akan terbentuk secara semangat dan mental dari olahraga tersebut. Dengan demikian, proses belajar mengajar akan lebih efektif.
3.      Pendidikan berkelanjutan.
Hadis yang membicarakan konsep pendidikan sepanjang hayat dapat ditemukan dalam matan hadis yang berbunyi:
اطلب العلم من المحد الى اللهد
Artinya: “Tuntutlah ilmu mulai dari buaian sampai liang lahat.”
Hadis ini meskipun secara sanad tidak memiliki asal , tetapi sudah populer di kalangan masyarakat sehingga termasuk hadis masyhur. Maknanya tidak bertentangan dengan ajaranal-Qur'an dan universalitas Islam bahkan sejalan dengan konsep pendidikan sepanjang hayat.Pada dasarnya, ilmu selalu mengaIamiperkembangan. Karenanya ,manusia dalam mencari ilmu tidak dibatasi usianya. Kapanpun manusia dapat menimba ilmu pengetahuan baik ilmu umum maupun ilmu agama. Bahkan tidak saja dimulai dari ayunan, tetapi dalam kandunganpun, pendidikan sudah dapat dimulai. Dalam konsep pendidikan dikenal dengan pendidikan pra-natal.
C.    METODE-METODE PENDIDIKAN DALAM HADITS.
Secara garis besar, metode yang diajarkan dalam hadits dibagi menjadi 11 yaitu:[4]
1.      Metode mutual education.
Yaitu suatu metode mendidik dengan cara membuat kelompok seperti yang pernah diajarkan oleh nabi muhammad saw. Seperti contoh ketika nabi dalam mengajarkan shalat dengan cara mendemonstrasikan cara-cara shalat dezngan baik.
Seperti sabda beliau :
صلوا كما رأيتموني أصلي
Artinya : “shalatlah kamu sekalian sebagaimana aku shalat (hr. bukhari)
2.      Metode pendidikan dengan menggunakan cara intruksional.
Yaitu mengajar dengan cara menggambarkan ciri orang yang beriman dalam bersikap dan bertingkah laku agar mereka dapat ikuti. Juga bagaimana ciri orang yang tidak beriman agar mereka dapat hindari. Sebagaimana hadits nabi saw :
حدثنا سليمان أبو الربيع قال حدثنا إسماعيل بن جعفر قال حدثنا نافع بن مالك بن أبي عامر أبو سهيل عن أبيه عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال آية المنافق ثلاث إذا حدث كذب وإذا وعد أخلف وإذا اؤتمن خان
Artinya : “ tanda-tanda orang munafik ada tiga : 1. Apabila berbicara bohong, 2. Apabila berjanji ingkar, 3. Dan apabila dipercaya ia khianat. (hr. bukhari)
3.      Metode pendidikan denga bercerita.
Yakni dengan cara mengisahkan peristiwa sejarah hidup manusia masa lampau yang menyangkut ketaatannya atau kemungkarannya dalam hidup terhadap perintah tuhan yang dibawa oleh nabi atau rosul yang hadir di tengah mereka.
4.      Metode bimbingan dan penyuluhan
Metode ini bertujuan untuk membimbing dan menasehati peserta didik sehingga dapat memperoleh kehidupan bathin yang tenang, sehat serta bebas dari segala konflik kejiwaan. Dengan metode ini, peserta didik akan mampu mengatasi segala bentuk kesulitan hidup yang dihadapi atas dasar iman dan takwanya kepada allah swt.
Pendekatan yang diperluan untuk melaksanakan metode tersebut adalah melalui sikap yang lemah lembut dan lunak hati dengan gaya menuntun/membimbing ke arah kebenaran.
5.      Metode pemberian contoh dan teladan.
Metode yang cukup besar pengaruhnya dalam mendidik adalah metode pemberian contoh dan teladan. Allah telah menunjukkan bahwa contoh keteladanan dari kehidupan nabi Muhammad adalah mengandung nilai paedagogi bagi manusia (umatnya)
6.      Metode diskusi
Metode ini diajarkan kepada peserta didik dengan tujuan lebih memantapkan pengertian dan sikap pengatahuan mereka terhadap sesuatu masalah.
Suatu diskusi bisa dianggap baik bila dalam prosesnya terdapat bahan-bahan yang cukup jelas, dengan pembicaraan yang berlangsung secara rasional (aqliyyah), tidak berdasar pada emosi semata, namun lebih kepada mementingkan kesimpulan rasional daripada kepentingan egoitis pribadi peserta. Diskusi yang bertujuan untuk tidak mengambil kesimpulan namun hanya sekedar memberitahukan sikap masing-masing pihak disebut dialog. Dialog ini biasanya berangkat dari pembahasan suatu masalah yang telah lama dirasakan sebagai suatu permasalahan. Dalam dialog ini tidak ada yang namanya pihak kalah dan pihak menang. Masing-masing tetap dalam pendirian masing-masing.
7.      Metode soal-jawvab.
Metode ini sering dipakai oleh para nabi dan para rasul allah dalam mengajarkan agama kepada umatnya. Bahkan para filosof pun banyak menggunakan metode ini untuk memecahkan masalah. Oleh karena itu metode ini termasuk metode yang paling tua dalam dunia pendidikan selain dari metode khutbah. Dengan metode ini pengertian dan pengetahuan peserta didik dapat lebih dimantabkan, sehingga segala bentuk kesalahpahaman, kelemahan daya tangkap dapat dihindari.
8.      Metode perumpamaan.
Dalam metode ini pendidik memberikan missal-misal kepada peserta didik agar peserta didik mampu memahami lebih sempurna dengan diberikannya perumpamaan-perumpamaan tersebut.
9.      Metode targhieb dan tarhieb.
Metode targhieb dan tarhieb yaitu cara memberikan pelajaran dengan memberi dorongan (motivasi) untuk memperoleh kegemiraan bila mendapatkan kesuksesan dalam kebaikan, sedang bila tidak sukses karena tidak mau mengikuti petunjuk yang benar akan mendapat kesusahan.
10.  Metode taubat dan ampunan.
Metode ini dengan cara membangkitkan jiwa dan rasa frustasi kepada kesegaran hidup dan optimisme dalam belajar seseorang, dengan memberikan kesempatan bertaubat dari kesalahan/kekeliruan yang telah lampau diikuti dengan pengampunan atas dosa dan kesalahannya. Dengan demikian, orang akan mengalami katarisasi (pembersihan batin) sehingga memungkinkan timbul sikap dan perasaan mampu untuk berbuat yang lebih baik lagi yang diiringi optimisme dan harapan-harapan dimasa depan.
11.  Metode self education, explanation dan exposition.
Metode-metode ini bertujuan agar manusia sebagai makhluk tuhan dengan kemampuan yang ada dalam dirinya bersedia menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangn-Nya
Atas dasar itulah metode mendidik dan mengajarkan agama kepada anak didik didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan:
a.       Kemampuan psikologi dalam menerima dan menghayati serta mengamalkan ajaran agama sesuai dengan usia, bakat dan lingkungan hidupnya.
b.      Kemampuan pendidikan sendiri yang harus siap baik dalam ilmu pengetahuan yang akan diajarkan maupun sikap mental serta keguruannya dalam waktu melaksanakan tugas pendidikan benar-benar mantab dan meyakinkan.
c.       Tujuan pendidikan harus dijadikan pegangan sebagai pengarah dalam menggunakan metode karena metode apapun hanya berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan.
Dengan demikian, metode pendidikan islam yang dikehendaki oleh umat islam pada hakikatnya adalah methode of education through the teaching of islam ( metode pendidikan melalui ajaran islam) yaitu atas semua bidang ilmu pengetahuan dan ketrampilan menurut ajaran agama islam.



BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
1.      Istilah tarbiyah berasal dari akar kata (rabba, yurbi, tarbiyah) yang artinya menjadi besar atau dewasa. Artinya pendidikan adalah usaha untuk menumbuhkan dan mendewasakan peserta didik, baik secara fisik, psikis, sosial maupun spiritual.
2.      Dalam hadits memang, istilah tarbiyah memang tidak di kemukakan secara khusus, namun dalam hadits banyak dijumpai istilah-istilah yang senada, meskipun konotasi maknanya berbeda. Diantaranya adalah al-rabb, rabbayani, nurabbi, ribbiyun, dan rabbani.
3.      Konsep-konsep tarbiyah dalam perspektif hadits :
a.       Konsep Perkembangan Manusia
b.      pendidikan jasmani
c.       Pendidikan berkelanjutan
4.      Metode-metode tarbiyah dalam pendidikan perspektif hadits
a.       Metode mutual education
b.      Metode pendidikan dengan menggunakan cara intruksional
c.       Metode pendidikan denga bercerita
d.      Metode bimbingan dan penyuluhan
e.       Metode pemberian contoh dan teladan
f.       Metode diskusi
g.      Metode soal-jawab
h.      Metode perumpamaan
i.        Metode targhieb dan tarhieb
j.        Metode taubat dan ampunan
k.      Metode self education, explanation dan exposition




DAFTAR PUSTAKA

Ali Nizar, Journal Penelitian Agama: Kependidikan Islam Dalam Perspektif Hadits Nabi, Vol XVII No 1. Januari-April 2008.

Uhbiyati nur, 1997, Ilmu Pendidikan Islam II (IPI), Bandung: Pustaka Setia

Mujtahid, 2010, Reformasi Pendidikan Islam, Malang : UIN-Maliki Press




[1] Mujtahid, Reformasi Pendidikan Islam, (Malang : UIN-Maliki Press ) 2010, hlm 3
[2] Ali Nizar, Journal Penelitian Agama: Kependidikan Islam Dalam Perspektif Hadits Nabi, Vol XVII No 1. Januari-April 2008. Hlm 121
[3] Ibid. Hlm 123
[4] Uhbiyati nur, Ilmu Pendidikan Islam II (IPI), (Bandung: Pustaka Setia) 1997, hlm 110

0 Comments:

Post a Comment